
Neo Murji’ah Jauh Lebih Berbahaya Dibandingkan Neo Khawarij
MUSTANIR.net – Di saat para mujahidin Palestina bersimbah darah melawan Zionis Israel, ternyata tidak sedikit umat Islam yang justru mengecam mereka bahkan menyebut para mujahidin ini dengan label teroris. Suatu hal yang sangat ironis sekali.
Mengapa bisa demikian?
Ini bukan kebetulan tetapi merupakan buah kerja intelijen yang sangat rapi dengan memanfaatkan para ulama yang kemungkinan besar mayoritas mereka tidak sadar telah dimanfaatkan. Intelijen sangat paham bahwa para ulama yang tidak sadar telah dimanfaatkan oleh intelijen untuk menggembosi jihad di Palestina lebih dahsyat dampak dan pengaruhnya pada umat Islam dibanding apa yang dilakukan oleh intelijen.
Intelijen tidak memiliki otoritas untuk berbicara soal jihad, sedangkan para ulama itu dipandang sebagai rujukan umat dalam masalah agama. Umat akan dengan yakin menghujat dan menyalahkan Hamas karena pernyataan itu muncul dari orang-orang yang dianggap memiliki otoritas keilmuan syariah.
Maka para penguasa Arab yang memang secara sengaja telah dijadikan proxy oleh Israel akan dengan senang hati memberikan fasilitas yang seluas-luasnya untuk para ulama model seperti ini. Para ulama ini oleh banyak aktivis Islam dijuluki dengan Neo Murji’ah atau Murji’ah Gaya Baru.
Inilah mengapa Murji’ah lebih berbahaya dibandingkan Khawarij. Murji’ah adalah kelompok yang selalu memuja-muja penguasa sehingga mereka dijuluki dengan dinul malik atau agamanya sang raja.
Apa pun titah raja akan mereka carikan dalilnya. Mereka adalah tukang stempel para raja, lalu rakyat menghadiahi mereka dengan puji puja. Mereka sebagian besar difasilitasi oleh sang raja, dijadikan penasihat dan bergelimang kekayaan dunia.
Sedangkan Neo Khawarij, meskipun tidak kalah berbahayanya namun mereka dengan sangat mudah diberangus oleh sang raja dengan stigma radikal, teroris atau ekstremis,, lalu akan serta merta dijauhi oleh rakyat dan umat Islam. Para penguasa cukup memberi label teroris, radikal dan ekstrem. Tanpa banyak kata, umat akan menyingkir dari mereka.
Saking efektifnya stigma-stigma buruk ini sehingga para mujahid di Palestina pun banyak dijauhi dan dibenci oleh sebagian umat Islam karena stempel dan stigma “teroris” ini. Padahal mereka adalah para mujahidin yang benar-benar berjuang dan berjihad untuk membebaskan Masjidil Aqsha dan Baitul Maqdis dari penjajah Zionis Israel.
Kesimpulan saya, dengan segala otoritas keilmuan mereka dan dengan disuplai oleh fasilitas dari para penguasa negeri muslim, Neo Murji’ah secara nyata telah berhasil menggembosi upaya-upaya penegakan syariah Islam. Bahkan mereka juga berhasil menanamkan doktrin kewajiban taat kepada “ulil amri” walaupun para “ulil amri” itu menegakkan hukum kafir dan anti terhadap syariah Allah. Sebuah “prestasi” yang tidak akan mampu dicapai oleh intelijen mana pun di dunia ini.
Ironisnya, kelompok Neo Murji’ah sangat banyak di negeri ini bahkan mereka sebagian besar dari kalangan menengah ke atas, baik secara ekonomi maupun pendidikan. Kelompok menengah ke atas sangat membutuhkan zona nyaman dan aman, sedangkan dakwah model Neo Murji’ah ini sangat dijamin kenyamanan dan keamanannya bahkan dilindungi dengan sepenuh hati oleh penguasa.
Wallahu Ta’ala A’lam. []
Sumber: Abu Izzudin
