Ngeri dan Memalukan Ciuman Massal

ngeri

Ngeri dan Memalukan Ciuman Massal

MUSTANIR.COM – Faham demokrasi-liberalisme benar benar menjadikan  manusia hinadina. Manusia yang terhormat dengan akal yang pencipta berikan digunakan bukan pada tempatnya. Akal yang seharusnya digunakan mengawal nafsu tapi yang terjadi kebalikannya. Akal digunakan berkreasi dalam menuruti hawa nafsunya.Maka turunlah derajat manusia menjadi seperti binatang,bahkan lebih hina darinya. Serusak rusaknya binatang tidak pernah terjadi pelampiasan nafsu massal – berjamaah. Tapi apa yang terjadi pada  para PNS Nias Selatan sangat memalukan dan menjijikkan. Dengan dalih  kasih sayang di hari Valentine mereka dengan bangga melakukan ciuman massal di tempat terbuka. “Acara kejutan dari kantor lingkungan hidup dhari Valentine day…pak bupati&ny mbagi bunga buat ASN&PNS,,..Happy valentine day buat pak bupati&ny happy valentine day buat abg Amsarno Sarumaha&kk Lisrica Hura,” tulis Triteria dalam akunnya. Acara tersebut dihadiri oleh Bupati Nias Selatan yang tidak disebutkan namanya di Kantor Lingkungan Hidup, Nias Selatan, 14 Februari 2017. tribunnews.com,18/2/2017. Inikah hasil revolusi mental dan buah demokrasi yang dipuja setinggi langit penduduk negeri ini. Hukuman apa yang pantas bagi pelakunya serta bagaimana seharusnya manusia bermartabat dalam menyalurkan nalurinya?

Penting hidup senang

Kapitalisme sebagai sebuah pandangan hidup dengan liberalisme, sekularisme dan demokrasi sebagai ajaran utamanya membebaskan manusia sebebas bebasnya dalam memenuhi dan memuaskan kebutuhan serta keinginannya. Sistem yang dipaksakan barat pada negeri ini nyaris sempurna diterapkan dalam kehidupan sehari hari. Ka’bah sebagai kiblat pemberian ilahi hanya dipakai sewaktu waktu saja. Baratlah dengan gaya hidup yang serba bebas menjadi kiblat sebenarnya setiap saat. Mulai cara berpakaian, bicara, menu makanan,hiburan sampai cipika cipiki bahkan ciuman nafsu lawan jenis ditempat umum-pun sudah mulai dipraktekkan. Dalam hal istilahpun  masyarakat tidak berdaya menolaknya. Pezina mereka sebut Pekerja Seks Komersial. Lambat tapi pasti sebuah perbuatan kotor dan penyakit masyarakat(zina) dianggap sebagai sebuah pekerjaan/profesi yang harus dihargai.

Era liberalisme-sekularisme saat ini berbalut hedonisme, dan individualisme tidak bisa dihindari. Hedonisme adalah pandangan hidup yang beranggapan bahwa orang akan bahagia jika ia sanggup mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sebisa mungkin menghindari  perasaan yang menyakitkan. Hedonisme  menganggap bahwa tujuan hidup manusia adalah memperoleh kesenangan dan kenikmatan hidup semata.disini berlaku prinsip “yang penting aku senang”, apapun akan dilakukan untuk mengejar kesenangan tersebut. Bukti nyata adalah apa yang dilakukan oknum PNS Nias Selatan tersebut, mereka tidak peduli lagi dampak negatif dari perbuatanya yang menjijikkan. Demi kesenagan  nafsu , mereka sanggup menabrak tatanan masyarakat yang ada. Norma dan ajaran suci agama sudah tidak berguna lagi. Keadaan ini diperparah dengan faham individualism, yang bagi penganutnya akan memenuhi kesenangan pribadinya tanpa mau terikat dengan moral masyarakat yang berlaku apalagi agama.

Peran negara untuk  menjaga masyarakat agar terhindar dari penyakit sosial juga tidak maksimal. Bahkan banyak undang-undang yang diterapkan tidak bisa memberantas penyakit masyarakat, semisal Narkoba, Miras, prostitusi, LGBT dan sebagainya. Itu terjadi lantaran negara salah dalam mengambil dan  menerapkan sistem, yaitu kapitalisme sekularisme dan demokrasi. Agama tidak diikutkan dalam mengatur hubungan sosial masyarakat dan asas manfaat materi yang menjadi tujuannya. Maka tidak heran lokalisasi tetap ada karena dipandang mendatangkan keuntungn materi,  sambil menutup mata kerusakan moral yang ditimbulkan akibat kebijakan tadi. Kasus ciuman massal didepan publik dalam negeri sekuler-liberal semacam seolah dibiarkan dan minim hukuman, paling banter teguran atau himbauan moral semata. Sehingga masyarakat tidak jera dan pasti akan terulang kembali.

Islam Basmi Penyakit Sosial

Menurut Islam manusia berbuat sesuatu itu karena dalam rangka memenuhi kebutuhan jasmani atau nalurinya. Salah satu naluri manusia yang harus dipenuhi adalah  mengembangkan/melangsungkan  keturunan, tertarik dengan lawan jenis ,kecenderungan seksual ,kasih sayang ataupun cinta adalah bentuknya. Naluri ini harus terpenuhi sebab jika tidak manusia akan resah dan gelisah meski tidak sampai pada kematian. Dalam pemenuhannya muslim terikat dengan hukum syara’ , kepada siapa dan dimana harus disalurkan. Dalam memenuhi niat yang ada adalah ibadah untuk memperoleh pahala dan dalam rangka menggapai ridha Allah swt. Bukan semata mata mengejar kenikmatan biologis. Perkara ada kenikmatan itu sudah menjadi sunnatullah.Maka muslim jelas tidak akan melakukan ditempat umum apalagi bersifat massal karena  itu adalah urusan pribadi.

Ridha Allah swt adalah ukuran kebahagian muslim. Semua aktifitasnya termasuk penyaluran naluri seks akan dipertimbangkan dulu. Apakah Allah swt ridha atau tidak. Bahkan jika halalpun muslim akan mencari tempat yang benar benar aman dari pandangan manusia. Ridha Allah mengalahkan segalanya, meski disitu ada kesenangan tapi melanggar aturan pasti ditinggalkan. Muslim berfikir jauh kedepan dengan akal yang dimilikinya. Ibnu Qoyyim ra mengatakan,” Seandainya pelaku maksiyat itu mengetahui bahwa pada sifat iffah (menjaga diri dari maksiyat) dipenuhi dengan kelezatan,kebahagiaan,dada yang lapang dan kenikmatan hidup, niscaya ia akan melihat bahwa kelezatan yang hilang darinya jauh lebih banyak daripada kelezatan yang ia dapatkan”.(Raudhatul Muhibbin,362). Disinilah beda muslim dengan pengikut hedonisme-individualisme. Apalah arti kenikmatan ciuman massal sesaat namun akibat yang harus ditanggung sungguh memalukan,keluargapun tentu marah apalagi diakhirat kelak jika tidak bertaubat siksa pasti menanti.

Islam sebagai sistem paripurna akan menjaga dan melindungi masyarakat dari penyakit sosial dengan sebaik mungkin. Usaha tersebut diantaranya dengan menutup peluang sekecil apapun yang bisa memunculkan penyakit sosial, mendidik  masyarakat dan membekalinya dengan ketaqwaan yang tinggi serta menerapkan hukum yang tegas pada pelakunya jika melanggar aturan. Dalam islam kasus PNS Nias selatan tersebut hukumannya adalah minimal penjara 6 bulan karena telah melakukan tindakan tidak senonoh ditempat umum atu ditempat pertemuan umum. Yang bisa menjaga dan peduli  kebaikan masyarakat hanya sistim islam bingkai Khilafah ar Rosyidah  saja. Wallahu a’lam bish showab.

Suhari Rofaul Haq
(Praktisi Pendidikan dan Politik)

Categories