Salam Lintas Agama, Pancasila, dan Islam

MUSTANIR.net – Akhirnya, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengeluarkan sikap resmi bahwa larangan salam lintas agama mengancam eksistensi Pancasila. Dengan kata lain, hukum haramnya kaum Muslim mengucapkan salam lintas agama adalah bertentangan dengan Pancasila, bahkan bukan sekadar bertentangan tetapi malah sampai mengancam eksistensi Pancasila.

Saya sangat mengapresiasi keluarnya pernyataan resmi dari badan yang paling otoritatif dalam pembinaan ‘ideologi’ Pancasila tersebut. Mengapa? Karena jadi jelas, ternyata ada ajaran Islam yang bertentangan bahkan mengancam eksistensi Pancasila.

Dengan demikian, saya tunggu sikap resmi BPIP lainnya terkait berbagai ajaran Islam lainnya, bila perlu BPIP mengeluarkan daftar berbagai ajaran Islam yang bertentangan dan mengancam eksistensi Pancasila. Sehingga, rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim ini dapat mengetahui mana saja ajaran Islam yang dianggap bertentangan dengan Pancasila bahkan mana saja ajaran Islam yang dianggap mengancam eksistensi Pancasila.

Bukan apa-apa, soalnya banyak umat Islam, bahkan dari kalangan para pemuka agama Islam sendiri masih saja menganggap Pancasila itu Islami, padahal sudah jelas-jelas banyak perkara yang bertentangan dengan Islam tetapi tidak pernah dinyatakan bertentangan dengan Pancasila. Sebaliknya, banyak perkara yang dilarang oleh Islam, tetapi justru larangan itu dianggap mengancam eksistensi Pancasila.

Dengan sikap resmi BPIP ini kan jadi jelas dan terang benderang. Semoga kaum Muslim sadar sesadar-sadarnya atas masalah ini sehingga tidak lagi menyatakan bahwa Pancasila itu Islami. Karena saat ini, masih banyak saja Muslim yang menyatakan negara Pancasila ini sudah Islami.

Lha, kalau memang benar negara Pancasila itu sudah islami, mengapa badan yang paling otoritatif dalam pembinaan ‘ideologi’ Pancasila (BPIP) tidak pernah menyatakan khamar itu bertentangan dengan Pancasila, tidak pernah pula menyatakan riba (bunga bank, bunga pinjol, bunga SUN, bunga Tapera, dll.) bertentangan dengan Pancasila?

Pertanyaan lebih jauhnya, mengapa semua aturan negara Pancasila yang melegalkan BUMN Sarinah mengimpor khamar untuk dipasarkan di negeri mayoritas Muslim ini tidak dianggap bertentangan dengan Pancasila? Mengapa pemda DKI dan pemda NTT memiliki saham di pabrik miras tidak disebut bertentangan dengan Pancasila?

BPIP juga tidak pernah menyatakan berbagai bank BUMN dan bank swasta yang mengamalkan riba, lembaga keuangan pinjol yang mengamalkan riba, sebagai perbuatan yang melanggar Pancasila? Bahkan, semua itu malah dilegalkan oleh negara Pancasila.

Tapi, giliran kaum Muslim mendakwahkan kewajiban menerapkan syariat Islam secara kaffah (yang tentu di dalamnya penerapan sistem pemerintahan Islam yakni khilafah dan pelarangan tegas khamar, riba, salam beda agama) dikatakan bertentangan dengan Pancasila?

Sudahlah, jangan lagi ada Muslim yang berkata Pancasila itu Islami, apalagi dalam waktu bersamaan para Pancasilais itu jelas-jelas mempersekusi dan mengkriminalisasi berbagai macam ajaran Islam yang agung, di antaranya adalah khilafah, jihad, dan definisi kafir.

Begitulah sejatinya kalau mau jujur, jujur sejujur-jujurnya. Kita mengatakan bahwa Islam sesuai Pancasila pun tak akan mengurangi kejahatan mereka mengkriminalisasi ajaran Islam, kita berkata apa adanya terkait fakta Islam dan Pancasila juga belum tentu kita disiksa mereka. Tapi meskipun disiksa mereka, siksa Allah subḥānahu wa taʿālā lebih pedih lagi bagi siapa saja yang menyembunyikan kebenaran demi mendapatkan kerelaan makhluk durhaka penista ajaran Islam.

Cukuplah Islam jadi pedoman hidup dan kerelaan Allah subḥānahu wa taʿālā yang dituju. Karena sejatinya hanya aturan dari Allah subḥānahu wa taʿālā yang wajib ditaati, semua aturan yang bertentangan dengan aturan Islam apalagi mengkriminalisasi ajaran Islam adalah thaghut yang wajib dilawan.

Allahu Akbar! []

Sumber: Joko Prasetyo, Jurnalis

About Author

Categories