Pembunuhan Pulomas dan Hukum Islam bagi Pembunuhan

Pembunuhan Pulomas dan Hukum Islam bagi Pembunuhan

Berita:

Dalam peristiwa ini, sebelas orang disekap di dalam kamar mandi berukuran 2 x 1 meter. Sebanyak enam orang di antaranya tewas, diduga karena kekurangan oksigen. Lima orang yang selamat menjalani perawatan di rumah sakit. (tempo)

Komentar:

Pembunuhan yang terjadi di Pulomas bisa dikategorikan sebagai pembunuhan berencana yang sadis. Korban tewas sebanyak 6 orang tersebut yang dibunuh dengan disekap dalam ruangan minim oksigen, menunjukkan pembunuhan ini dilakukan secara sadis, karena membunuh dengan pelan-pelan. Dan adanya bukti-bukti lainnya di TKP menunjukkan rapihnya kejahatan ini, dapat dipastikan ini adalah pembunuhan berencana.

Pembunuhan dan perbuatan menghilangkan nyawa manusia dalam pandangan Islam adalah perbuatan dosa besar. Quran mengibaratkan terbunuhnya satu nyawa, sama dengan terbunuhnya seluruh nyawa manusia. Kami bisa menilai, bahwa para pembunuh tersebut tidak memiliki keimanan dalam dirinya, sebab jika dia beriman, maka Quran akan ia dengarkan dan patuhi.

Firman Allah Azza wa Jalla :

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Isrâil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. [al-Mâ`idah/5:32]

Dalam Hukum Islam, hukuman untuk pembunuhan adalah Qishosh, Membayar Dhiyat, dan Ampunan Tanpa Syarat.

1. Qishâsh dengan dilakukan hukuman pancung kepada pelaku pembunuhan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Hal ini berdasarkan pada firman Allah Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishâsh berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; [al-Baqarah/2:178]

Dianjurkan bagi para ahli waris korban untuk mengampuni pelaku dari qishâsh, apabila pelaku tidak dikenal sebagai orang jelek, berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla :

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ۗ ذَٰلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ

Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula). yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. [al-Baqarah/2:178]

Apabila ahli waris seluruhnya atau seorang dari mereka memaafkan dari Qishâsh maka gugurlah Qishâshnya dan wajib menunaikan pilihan kedua yaitu diyât.

2. Membayar diyât, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

وَمَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ إِمَّا أَنْ يُفْدَى وَإِمَّا أَنْ يُقْتَلَ

Siapa yang menjadi wali korban pembunuhan maka ia diberi dua pilihan, memilih diyat atau qishâsh. [HR Muslim no. 3371]

3. Memberikan ampunan tanpa bayaran. Para ahli waris korban memiliki hak untuk mengampuni pelaku dengan tidak meminta qishaas atau diyat. Apabila sebagian ahli waris memberikan ampunan ini, maka gugurlah bagiannya dari diyaat dan pelaku hanya membayar bagian diyaat untuk ahli waris korban yang tidak memaafkannya. Hal ini didasarkan padad firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ ۚ

Barangsiapa yang melepaskan (hak Qishaash) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. [al-Maaidah/5:45]

Categories