
Fenomena Pemuda Islam Kiri
MUSTANIR.net – Membaca karya Prof. Abdul Munir Mulkhan tentang teologi kiri. Buku yang sedang hits dan menjadi rujukan di kalangan mahasiswa, khususnya pemuda Islam pro kiri. Kita diajak menyelami keresahan sosial yang membuat sebagian kalangan beragama merasa perlu mencari bentuk baru. Disebut dengan “jalan baru Islam” dalam buku ini. Didukung dengan perilaku elite agama yang dipandang penulis begitu mengecewakan, seperti menjual agama untuk kepentingan politik praktisnya.
Dalam buku ini ditulis bahwa; Agama tidak dominan sibuk dengan Tuhan, tetapi harus juga menjejak di bumi menyentuh jeritan orang miskin, melawan ketidakadilan, dan mengoreksi kerakusan kapitalisme. Dari sinilah kemudian lahir istilah “teologi kiri,” sebuah upaya menjembatani semangat keadilan sosial ala Marx dengan bahasa agama.
Fenomena seperti ini mudah kita pahami. Banyak anak muda yang serius mengkaji filsafat Barat, namun tanpa fondasi akidah yang kokoh, mereka sering menempuh jalur pemikiran yang hampir serupa yakni berawal dari relativisme, bergerak ke pluralisme, lalu sebagian sampai ke liberalisme.
Relativisme seolah tampak masuk akal bagi mereka, sebab ia memberi rasa “kebebasan intelektual.” Di tengah kebingungan mencari kebenaran absolut, relativisme menawarkan jawaban sementara: bahwa semua pandangan memiliki nilainya sendiri, dan tidak ada yang berhak memonopoli kebenaran. Itu seakan terasa melegakan.
Namun dari situlah mereka sering melangkah lebih jauh. Relativisme membuka jalan ke pluralisme semua agama dipandang sama, semua nilai bisa disejajarkan. Dari pluralisme, tidak sedikit yang akhirnya meluncur ke liberalisme, di mana kebenaran tidak hanya relatif, tetapi juga bisa dinegosiasikan sesuai kepentingan manusia. Di titik ini, yang paling fatal terjadi: agama kehilangan posisi normatifnya, berubah menjadi sekadar opsi moral di antara sekian banyak pilihan hidup.
Tidak Sampai Liberal
Ada pula yang berhenti di persimpangan lain, sekularisme terselubung. Mereka tidak sampai liberal, tetapi menolak formalisasi syariah dengan alasan cukup “substansi” saja yang diambil. Akhirnya, syariah direduksi sebatas nilai etis universal, bukan lagi sistem hidup yang lengkap.
Di Indonesia, sebagian pemuda yang kecewa pada kapitalisme namun belum akrab dengan literasi Islam ideplogis. Maka lahirlah wacana “kiri religius.” Sebagaimana penelitian, Ariel Heryanto, mencatat fenomena ini bahwa jargon agama dipakai untuk memberi ruh pada gerakan sosialisme.
Diksi-diksi seperti pembelaan kaum tertindas menjadi pembelaan kaum mustadz’afin, gotong royong dengan ta’awun, bekelindan dengan kepemilikan bersama dalam sosialisme yang paralel dengan Marxisme
Lalu petikan ayat al-Quran seperti amar ma’ruf dengan humanisasi, nahi munkar dengan liberasi, tu’minu billah sebagai transendensi.
Jika di luar, maka bisa ditengok bagaimana Amerika Latin pernah mengenal teologi pembebasan Injil dibaca dengan kaca mata Marx untuk melawan penindasan. Hal ini menunjukkan satu hal berupa ada dahaga besar pada keadilan.
Islam sesungguhnya sudah lebih dulu menyiapkan jawaban yang menyeluruh. Sistem ekonomi syariah bukan hanya kerangka sub ekonomi, tapi solusi yang menyeluruh.
Pelajaran pentingnya ialah belajar filsafat Barat tanpa akidah dan frame berfikir yang kuat, bisa mudah hanyut oleh arus relativisme yang tampak menenangkan, tapi justru menyesatkan. Buku ini kemudian ditutup dengan sub tema: “Surga untuk Semua Agama”.
Walah!
Tidak semua ilmu filsafat itu buruk, tapi kalau kita sudah memiliki pondasi yang kokoh dan frame (kerangka) berfikir yang mapan. Maka belajar filsafat pun insya Allah bisa menjadi bermanfaat.
Wallahu a’lam. []
Sumber: Ali Mustofa Akbar
