Perniagaan Yang Tidak Akan Merugi

Perniagaan Yang Tidak Akan Merugi

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (TQS Fathir [35]: 29-30).

Kehidupan manusia di dunia ibarat orang sedang berbisnis. Pelakunya bisa men-derita kerugian, bisa pula memperoleh keuntungan. Kerugian dan keuntungan yang hakiki akan di terima di akhirat. Sementara di dunia, kendati sudah ada yang dapat dirasakan, namun hanya sebagian kecil. Baru ‘uang muka’ saja.

Sebagai kitab petunjuk, Alquran telah menjelaskan mengenai amal yang membuat pelakunya merugi atau untung. Ayat ini adalah salah satunya. Ada beberapa amal yang disebut dalam ayat ini dapat membe-rikan keuntungan berlipat bagi pelakunya.

Amalan yang Menguntungkan

Allah SWT berfirman: Inna al-ladzîna yatlûna Kitâbal-Lâh (sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah). Ayat ini memberitakan orang-orang yang mengerjakan beberapa amal tertentu. Per-tama, mereka adalah orang-orang yang yatlûna al-Kitâb. Menurut al-Jazairi, kata tersebut bermakna yaqr’ûna ta’abbud[an] bih (membaca dalam rangka untuk beribadah dengannya). Dijelaskan al-Syaukani, ung-kapan itu meunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang membiasakan diri dan terus menerus membaca al-Kitab.Yang dimaksud dengan al-Kitâb dibaca tak lain adalah Alquran.

Memang di antara keisti-mewaan Alquran adalah mem-bacanya dinilai sebagai ibadah. Rasulullah SAW bersabda: Baca-lah Alquran karena Alquran akan datang pada hari kiamat kelak memberikan syafaat kepada ahlinya (HR Muslim dari Ummah al-Bahili). Dalam riwayat al-Tirmidzi, Rasulullah SAW mem-beritakan bahwa orang yang membaca satu huruf dari Alqur-an akan diberikan satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan itu setara dengan sepuluh kebaikan.

Selain membaca Alquran, mereka juga: wa aqâmû al-shalâh (dan mendirikan shalat). Kata al-shalâh dalam ayat ini tentu dalam pengertian syar’i. Yakni, ibadah khusus yang diawali dengan tak-bir, diakhiri dengan salam, dan disertai dengan niat. Mereka mendirikan semua shalat yang diwajibkan atas mereka, dan disempurnakan dengan shalat-shalat nafilah. Semua shalat itu, dikerjakan sesuai dengan wak-tunya dan terpenuhi syarat, rukun, dan dan dzikirnya. Shalat itu dikerjakan dengan khusuk, sehingga menjadi orang-orang yang beruntung (lihat QS al-Mukminun [23]: 1-2). Selain itu, juga memberikan pengaruh dalam perilakunya, sehingga tercegah dari perbuatan keji dan munkar (lihat QS al-Ankabut [29]: 45).

Amalan lainnya adalah: wa anfaqû mimmâ razaqnâhum sirr[an] wa alâniyat[an] (dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan). Makna frasa ini, menurut al-Thabari, mereka menunaikan zakat yang difardhukan. Selain itu, mereka juga mengeluarkan harta mereka untuk shadaqah tathawwu’.

Penyebutan kata sirr[an] wa ‘alâniyat[an] menjelaskan cara menunaikannya. Apabila ditu-naikan secara sirr[an] (raha-sia), itu lebih baik. Namun jika ditunaikan secara ‘alânit[an] (terang-terangan), menurut du-gaannya tercegah dari sikap riya’. Bisa juga, yang dimaksud dengan sirr[an] adalah shadaqah, semen-tara ‘alâniyat[an] adalah zakat. Sebab, menunaikan zakat secara terang-terangan sama halnya dengan mengumumkan kewa-jiban. Dan itu sesuatu yang mustahab. Demikian al-Razi dalam tafsirnya.

Ayat ini juga sejalan de-ngan QS al-Baqarah [2]: 274, al-Ra’d [13]: 22, dan Ibrahim [14]: 31. Dalam hadits Bukhari dan Muslim dari Abu Huraih disebutkan bahwa salah satu dari tujuh kelompok yang mendapat na-ungan Allah pada hari kiamat adalah orang yang memberikan shadaqah dengan rahasia, hing-ga tangan kirinya tidak me-ngetahui apa yang dishada-qahkan oleh tangan kanannya.

Menurut Fakhruddin al-Razi, dalam ayat ini mengandung hikmah yang besar Frasa innamâ yakhsyâl-Lâh dalam ayat sebe-lumnya mengisyaratkan amalan hati, frasa al-ladzîna yatlûna Kitâbal-Lâh mengisayaratkan amalan lisan, frasa wa aqâmû al-shalâh mengisayaratkan amalan badan, dan frasa wa anfaqû mimmâ razaqnâhum meng-isyaratkan amalan harta. Penje-lasan senada juga dikemukakan Abu Hayyan al-Andalusi.

Berharap Pahala dan Fadhilah-Nya

Kemudian Allah SWT ber-firman: yarjûna tijârat[an] la tabûr (mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi). Dijelaskan Menurut Fakhruddin al-Razin, frasa ini menunjukkan bahwa mereka melakukannya dengan ikhlas. Mereka mengerjakan semua amal itu bukan karena riya, supaya disebut sebagai orang yang baik, dermawan, dan sebagainya. Namun mereka mengerjakan benar-benar dilan-dasi motivasi untuk men-dapatkan balasan-Nya.

Kata al-tijârah, menurut al-Raghib al-Asfahani, berarti mem-pergunakan modal yang ber-tujuan untuk mendapatkan keuntungan. Ibarat tijârah, se-mua amalan itu adalah modal ayng dikeluarkan. Sedangkan keuntungan yang didapat adalah pahala, surga, dan ridha-Nya. Dibandingkan dengan amal yang dikerjakan, tentulah keun-tungan itu sangat besar. Apa yang melebihi surga dan ridha-Nya? Perniagaan itu pun disebut sebagai tijarât[an] lan tabûr, perniagaan yang tidak akan merugikan. Sebagaimana dije-laskan al-Jazairi, kata lan tabûr bermakna lan tahlik (tidak akan lenyap).

Semua modal manusia yang berupa iman dan amal shalih tidak akan lenyap dan sia-sia. Allah SWT pun berfirman: liyuwaffiyahum ujûrahum (agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka). Frasa ini memberikan penegasan bahwa harapan mereka tidak hampa. Mereka pasti akan mendapatkan apa yang diharapkan itu.

Hal itu karena telah menjadi ketetapan dan janji Allah SWT bahwa semua perbuatan manu-sia akan mendapatkan balasan dari-Nya. Sebagaimana balasan siksa neraka atas perbuatan munkar dan maksiat, perbuatan ma’ruf dan taat pun akan digan-jar dengan pahala. Inilah yang ditegaskan ayat ini. Penegasan serupa juga disampaikan dalam  QS Ali Imran [3]: 57, al-Nisa ‘ [4]: 152 dan 173.

Bahkan balasan yang dibe-rikan bukan hanya sepadan dengan perbuatan yang diker-jakan, namun masih ditambah dengan keuntungan berlipat. Allah SWT berfirman: waya-zîdahum min fadhlihi (dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya). Menurut Ibnu ‘Athiyah, tambahan fadhilah itu ada yang menafsirkannya seba-gai pelipatgandaan pahala bagi pelakunya, mulai sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Namun menurut yang lain, pelipatgan-daan pahala itu masih termasuk dalam cakupan liyuwaffiyahum ujûrahum. Sedangkan tambahan yang dimaksud adalah melihat wajah Allah SWT di akhirat kelak. Bisa pula, tambahan itu berupa dijadikannya mereka sebagai pemberi syafaat bagi orang lain, sebagaimana friman-Nya: Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (TQS Yunus [10] :26).

Ayat ini kemudian ditutup dengan firman-Nya: Innal-Lâh Ghafûr[un] Rahîm[un] (sesung-guhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri). Artinya, Allah SWT mengampuni per-buatan dosa mereka, dan mem-balas semua amal shalih mereka.

Hidup di dunia amat singkat. Itu pun hanya sekali. Maka jangan sampai salah pilih dan merugi. Kita harus meng-ambil ‘bisnis’ dengan keun-tungan berlipat ganda yang ditawarkan kepada kita. Masih-kah kita belum tertarik dengan tawaran menggiurkan  itu? Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

Categories