
Nilai-nilai Kemanusiaan yang Dianggap Sakral Dapat Menjadi Pintu bagi Dajjal
MUSTANIR.net – Peradaban dunia hari ini menganggap nilai yang paling sakral dan tinggi adalah humanisme dan universalisme, yang biasanya dibahasakan dengan istilah kemanusiaan dan kesetaraan. Nilai ini dianggap melampaui suku, agama, ras, afiliasi bahkan kebangsaan (yang mana merupakan nilai tertinggi bagi nasionalisme). Penguatan istilah ini biasanya dalam program atau kelembagaan berbentuk HAM dan toleransi.
Orang-orang akan sangat bangga jika mendapat predikat ini: pejuang kemanusiaan, pahlawan kesetaraan, pembela toleransi, dan humanis, tidak terkecuali para pejabat negara dan agamawan. Jika pejabat lebih membuat kebijakan program ataupun menunjukkan relasi (walau sampai membela aliran sesat), maka agamawan biasanya mencarikan dalil-dalil yang cocok, menafsirkan ulang teks dan ajaran yang dianggap hegemonik, ataupun berusaha mendakwahkan nilai-nilai tersebut agar dianggap moderat (yang mampu berdamai dengan nilai-nilai peradaban Barat).
Sebagian muslim saat ini juga merasa permasalahan seperti Palestina biasanya lebih suka ditonjolkan alasan kemanusiaan daripada dikaitkan dengan masalah ukhuwah Islamiyah. Ajaran agama yang dianggap mengarah pada keekslusifan dianggap lawan dari nilai-nilai ini. Bahkan sampai ada yang taraf meyakini jika merasa benar atau berkeyakinan agamanya lebih tinggi adalah lawan dari kemanusiaan dan kesetaraan.
Nilai sekuler (menolak ajaran agama tertentu mendominasi dan mengatur urusan publik) dianggap tepat bagi nilai kesetaraan ini, baik sekuler moderat (hibrid) ataupun sekuler sejati semacam Prancis atau Kemalisme. Di negara Barat dan pengikutnya, kesetaraan ini juga berlanjut pada orientasi seksual yang cocok dengan nilai liberalisme. Jangan heran juga ateis bisa dipuji-puji jika mereka menunjukkan perilaku dengan nawaitu nilai kemanusiaan ini tanpa didasari ajaran agama.
Lantas apakah salah? Tidak serta merta hitam putih, yang jika ditulis bisa menjadi tulisan panjang lagi terutama sisi gelap peradaban saat ini yang juga problematik dan pilih kasih.
Hanya saja bagi muslim tentu nilai tersakral adalah akidah Islam itu sendiri, yang harus dipertahankan sampai mati. Cara pandang, asas berpikir, dan timbangan baik-buruknya tetap harus didasarkan pada syariat dan dengan mengikuti ulama-ulama pewaris Nabi. Tidak open-minded tapi filter-minded.
Nilai-nilai yang dianggap kebaikan atau kejahatan pada humanisme belum tentu sama dengan nilai-nilai kebaikan dan kejahatan dalam Islam. Kesetaraan juga harus merujuk pada makna keadilan Islam yang mana diatur sesuai kedudukannya, termasuk disadari manusia ternyata tidak setara dalam ilmu dan ketaqwaan, laa yastawuun.
Akhir status, nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan ini yang dianggap sakral (sampai menggadaikan urusan keimanan) dapat menjadi pintu bagi Dajjal yang mungkin muncul sebagai figur dan tokoh yang membawa ajaran dan nilai yang dipuji-puji seluruh bangsa. Belum lagi jika ditambah masalah kesenjangan ekonomi, keterbatasan air bersih, pangan, dan sumber daya alam, hausnya popularitas, dan rusaknya pemikiran.
Entahlah, saya menduga al-Masih Dajjal itu awal-awal datang kelak membawa misi perdamaian, kasih, dan kesatuan agama-agama. Al-Masihud Dajjal akan menghalau konflik-konflik bersenjata, menentang pemerintahan tirani, sehingga banyak dirindukan orang-orang yang ingin kedamaian.
Dajjal berpengaruh, kharismatik, perkataannya semakin banyak terbukti, dan menjadi populer bahkan mungkin melebihi oppa-oppa Korea.
Dajjal bisa jadi memperjuangkan kesetaraan, melawan rasisme, mendukung kebebasan, humanisme, dan sesuatu yang banyak disukai umat manusia apalagi jika dianggap membawa nilai universal, yang beragama maupun tidak beragama. Dajjal bisa membantah argumentasi dan memukau bagi orang agnostik maupun ateis sehingga membuat mereka mengikutinya.
Dajjal tentu pandai retorika dan memiliki banyak aksi nyata menolong umat manusia. Bagi masyarakat yang senang money politic, tentu lebih mudah mengikuti kekuasaannya.
Dalam prediksi saya, jika Dajjal dapat diterima banyak masyarakat dunia lintas agama, monotheis maupun pagan, Timur dan Barat, dengan sains dan metafisika, maka pola yang dibawa adalah gerakan spiritualitas tanpa batas atau dogma yang membatasi, yang inklusif dan pluralistik, yang memperjuangkan pembebasan dan kesejahteraan.
Ada kemungkinan juga kaum evolusionis akan menganggap ini adalah evolusi terhebat umat manusia, setelah paganisme menjadi monotheis lalu berubah menjadi agama kemanusiaan yang menyatukan, atau akan ada yang mengamini ini adalah di zaman Aquarius menurut bahasa gerakan New Age atau juga semakin relevan dengan istilah Harari dalam Sapiens, yaitu Homo Deus, di mana manusia (yang) menyerupai Tuhan.
Dajjal akan semakin banyak dirindukan ketika bumi ditimpa kekeringan, krisis air bersih maupun pangan. Banyak orang tentu akan merasa berutang budi dan ketergantungan, sebagaimana hari ini, orang dengan mudah berkata, “Sok-sokan lu anti Zionis, padahal pakai produk Yahudi”, “Sok suci banget, kofar kafir, padahal pakai produk HP buatan kafir” dan redaksi semacamnya yang memiliki makna tersirat, “Aku tidak bisa apa-apa dan tidak boleh kontra, aku ketergantungan dengannya”.
Dajjal tentu juga dalam imajinasi kita saat ini adalah mampu mendatangkan keajaiban di luar nalar dan membuat keimanan orang banyak menjadi goyah.
Para pecinta dan pengikut setianya tentu akan lebih ganas daripada buzzeRp, bahkan bisa-bisa memakai otot dan menolak materai bagi yang menentangnya. Termasuk memberikan stigma negatif, mempidanakan, atau membunuh secara legal bagi yang tidak mengikuti jalannya. Suatu fitnah (ujian) yang besar bagi yang menolak mengikuti jalannya.
Ingat, Dajjal bukanlah nama. Dajjal adalah gelar yang belum tentu saat itu dia atau pun orang menggelari diri mereka dengan sebutan Dajjal. Dalam istilah Kristen, Dajjal disebut dengan anti-Kristus. Mungkin gelaran yang terkenal saat itu melihat kiprahnya adalah Juru Selamat, the Saviour, the Messiah, Ratu Adil, al-Masih, Avatar, Maitreya, Guru Dunia, dan gelaran serupa.
Dajjal bukanlah makhluk raksasa bermata satu semacam Cyclops. Dajjal adalah manusia juga, yang memiliki banyak kelebihan dan keajaiban yang orang banyak menduga itu adalah mu’jizat. Ketika pengikut dan pendukungnya sudah banyak dan fanatik, maka lama-kelamaan ia mengaku sebagai nabi, lalu semakin lama mengaku sebagai Tuhan.
Terlepas dari semua itu, di antara ciri-ciri seputar Dajjal yang riwayatnya sampai pada kita adalah:
1. Keturunan Yahudi.
2. Hebat berargumentasi.
3. Terlihat masih muda dan berambut ikal lagi lebat.
4. Setelah mengaku sebagai Tuhan, mata kanannya terlihat seperti buah kismis yang kecut.
6. Setelah mengaku sebagai Tuhan, di dahinya muncul tulisan Kaf, Fa, Ro.
7. Memiliki pengikut pasukan khusus dari Yahudi Asfahan Iran yang berjumlah 70.000 orang.
8. Masa Dajjal membuat kerusakan adalah 40 hari yang masanya seperti kita rasakan 14 bulan 14 hari.
9. Masyarakat di suatu daerah yang menjadi pengikutnya akan makmur sejahtera dan daerah yang menentang, berada dalam kelaparan dan kefakiran.
10. Kecepatan mobilitasnya seperti kecepatan awan hujan yang ditiup angin kencang sehingga ia bisa menjelajah berbagai dunia dan cepat menghindar kalau ada yang ingin meneliti keaibannya.
11. Orang yang jahil ilmu agama dan perempuan di zaman itu mudah menjadi pengikut Dajjal.
Saat itu benteng perlawanan terhadap Dajjal adalah di al-Quds, Palestina. Baitul Maqdis yang merupakan benteng pasukan Imam al-Mahdi. Di gerbang Lod, Dajjal berhasil dibunuh.
Dalam surat al-Kahfi ada 4 kisah yang patut kita renungkan. Ada kisah ashabul Kahfi di mana mereka berhasil selamat dari ujian keimanan. Ada pula kisah teman pemilik dua kebun yang menasihati temannya yang mendapat ujian harta dan anak/pengikut.
Di kisah lainnya ada kisah Nabi Musa yang diuji dengan ujian ilmu pengetahuan dan kesabaran. Lalu kisah terakhir tentang Dzulkarnain yang berhasil melewati ujian kekuasaan. Demikianlah 4 ujian tersebut tentu akan terlebih sangat dahsyat di masa Dajjal. []
Sumber: Muhammad R Ridho
