
Politik Demokrasi Membuat Masyarakat Berpikir Dangkal dan Tak Kenal Problem Sistemik
MUSTANIR.net – Demokrasi sering diagungkan sebagai puncak peradaban politik—sebuah tatanan yang menjanjikan kedaulatan di tangan rakyat. Namun, di balik narasi megah tersebut, politik demokrasi justru melahirkan paradoks: sebuah massa mengambang yang bertaraf pikir dangkal, gagap mengenali akar penderitaan mereka sendiri, dan terasing dari realitas tatanan yang menguasai kehidupan sehari-hari.
Kondisi ini lahir karena siklus elektoral berkala tidak lagi difungsikan sebagai momentum evaluasi kritis terhadap kebijakan publik dan arah ideologis bangsa. Sebaliknya, mekanismenya telah bergeser dari panggung pertarungan gagasan menjadi sekadar sirkus pencitraan dan pemasaran figur.
Masyarakat tidak lagi diajak membedah struktur sosial-ekonomi yang menindas mereka—seperti kesenjangan ekonomi sistemik atau eksploitasi lingkungan—melainkan terus-menerus disuapi narasi personalitas tentang siapa kandidat yang paling santun, paling merakyat, atau paling relevan secara visual.
Pergeseran fokus menuju penokohan ini secara perlahan mengikis kesadaran ideologis di tengah masyarakat. Ketika pemilu diposisikan sebagai ajang memilih “pahlawan” atau “penyelamat”, rakyat dibiasakan untuk berpikir instan: bahwa seluruh ketimpangan hidup dapat diselesaikan hanya dengan menggeser satu nama di bilik suara.
Dampak paling membahayakan dari politisasi figur ini adalah lahirnya amnesia terhadap problem yang bersifat sistemik. Masyarakat gagal melihat bahwa kemiskinan, pengangguran, atau kerusakan ekologi bukanlah sekadar hasil dari “pemimpin yang kurang baik”, melainkan konsekuensi logis dari tatanan sosial-ekonomi yang memang dirancang tidak adil.
Siklus elektoral yang repetitif pada akhirnya merawat ilusi perubahan yang semu. Di satu sisi, rakyat sibuk bertengkar membela atau menyerang figur tertentu, merasa telah berpartisipasi aktif menentukan nasib bangsa melalui hak pilihnya.
Namun di sisi lain, tatanan oligarki dan oligopoli ekonomi tetap berjalan mulus tanpa gangguan di balik layar. Wajah-wajah politik boleh berganti dan jargon kampanye diperbarui, tetapi struktur kekuasaan yang mengeksploitasi kehidupan rakyat tidak pernah benar-benar tersentuh.
Untuk keluar dari jebakan ini, kesadaran politik masyarakat harus ditarik kembali ke akar ideologisnya. Pertanyaan publik perlu digeser dari sekadar meromantisasi figur yang disukai, menjadi penelusuran kritis atas kepentingan kelas dan tatanan sistemik apa yang dibela oleh setiap kebijakan. []
Sumber: Martin Sumari
