Proyek Infrastruktur Jokowi Ikut Terdampak Tingginya Dolar AS

Ilustrasi. foto: breakingnews.co.id

MUSTANIR.COM, JAKARTA — Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergejolak terhadap rupiah. Sejak kemarin, dolar AS telah menembus level Rp 14.800. Level itu merupakan yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Tingginya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah ini tentu mempengaruhi harga-harga barang impor. Baik impor untuk barang konsumsi, elektronik, hingga bahan baku untuk proyek-proyek infrastruktur.

Saat ini, pemerintah juga masih terus mengerjakan sejumlah proyek-proyek infrastruktur. Lantas, apakah tingginya nilai tukar dolar AS mempengaruhi proyek infrastruktur yang sedang dikerjakan? Simak berita lengkapnya.

Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Danis H Sumadilaga mengatakan tingginya nilai tukar dolar AS saat ini tidak terlalu mempengaruhi pembangunan proyek-proyek infrastruktur Kementerian PUPR. Sebab, kata dia, bahan baku yang digunakan untuk proyek kebanyakan berasal dari dalam negeri.

“(Jadi) nggak terlalu (berpengaruh), (karena) kan komponennya dominan dalam negeri,” kata Danis kepada detikFinance, Jakarta, Jumat (31/8/2018) kemarin.

Danis menyebut tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang digunakan untuk proyek-proyek infrastruktur PUPR mencapai 90%. Oleh sebab itu, proyek-proyek yang dikerjakan PUPR dinilai masih aman.

“Kan TKDN kita lebih dari 90%” kata Danis.

Kementerian PUPR menyebutkan tingginya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah tak terlalu mempengaruhi proyek infrastrukturnya. Hal ini lantaran TKDN yang digunakan lebih mendominasi dibanding bahan baku impor.

Penggunaan bahan-bahan TKDN yang lebih banyak memang bisa membuat proyek infrastruktur bisa terus berjalan tanpa khawatir tingginya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.

Dengan begitu, biaya proyek pun diyakini tak akan berdampak atau berubah terlalu besar jikar dolar AS melonjak. Lantas, seberapa banyak Kementerian PUPR menggunakan komponen lokal terhadap proyek-proyek infrastrukturnya?

Berdasarkan data Kementerian PUPR, TKDN proyek PUPR berdasarkan survei BPKP 2017 rata-rata sebesar 86,6%. Sementara sisanya, sebanyak 13,5% merupakan hasil impor.

Berikut rinciannya:
1. Sektor SDA: 96,67%
2. Sektor Bina Marga: 78,40%
3. Sektor Cipta Karya: 94,38%
4. Sektor Perumahan: 76,65%

Tingginya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah ikut membebani sejumlah proyek infrastruktur yang memiliki bahan baku impor. Kontraktor pun meminta adanya eskalasi atau penyesuaian harga proyek kepada pemerintah.

Direktur Operasi II Adhi Karya Pundjung Setya Brata mengatakan tingginya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah mempengaruhi nilai proyek yang memiliki material impor. Hal itu dinilai memberatkan bagi kontraktor.

“Ya tentu (memberatkan) untuk (proyek) yang material-material impor ya tentu,” jelasnya kepada detikFinance, Jakarta, Jumat (31/8/2018) kemarin.

Pundjung mengatakan, saat ini pihaknya selaku kontraktor berupaya untuk menggunakan material dengan TKDN yang lebih besar. Walau begitu, kata dia, tetap ada saja proyek-proyek yang harus menggunakan bahan baku impor.

“Misalnya kalau di (proyek) kereta, kan ada pekerjaan signaling sistem. Itu kan masih, teknologinya masih teknologi luar,” jelasnya.

Oleh sebab itu, Pundjung berharap pemerintah bisa melakukan eskalasi serta kompensasi terhadap para kontraktor yang sedang menggarap sejumlah proyek dengan tingkat material impor yang tinggi.

“Harapannya satu, tentunya ada kompensasi dan eskalasi, harapannya kan gitu. Karena ini kan di luar ekspektasi kita semua. Jadi supaya kita juga tetap bisa, eskalasi dimungkinkan untuk menghadapi isu ini,” kata dia.

Direktur Operasi II Adhi Karya Pundjung Setya mengatakan ada sejumlah proyek infrastruktur yang masih banyak menggunakan material impor. Contohnya di proyek perkeretaapian.

“Kalau di kereta kan ada pekerjaan signaling system. Itu kan masih teknologinya masih teknologi luar,” kata Pundjung.

Selain itu, kata Pundjung, proyek infrastruktur kelistrikan seperti pembangkit juga biasanya banyak yang menggunakan komponen impor. Belum banyak material yang diperlukan proyek-proyek tersebut yang sudah diproduksi dalam negeri.

“Untuk proyek-proyek power plant misalnya, untuk turbin itu kan masih impor. Jadi untuk material-material yang belum diproduksi lokal dan harus mandatory impor, itu yang buat efeknya ke konstruksi cukup lumayan,” kata dia.

Lebih dari itu, Pundjung menjelaskan sejatinya setiap proyek infrastruktur memiliki TKDN dan material impor yang berbeda-beda. Semakin banyak material impor yang digunakan, maka tingginya dolar AS akan semakin berdampak terhadap proyek.

“Kalau materialnya dalam negeri ya selama komponen impornya kecil, ya pengaruhnya juga kecil,” tuturnya.
(detik.com/1/9/18)

Categories