
Hilangnya Ruh Perjuangan Reuni Akbar 212
MUSTANIR.net – Selasa, bertepatan tanggal 2 Desember 2025, kalender kembali mengingatkan pada peristiwa yang dulu pernah menggetarkan langit Jakarta, bahkan sampai menggema ke seantero dunia. Tanggal yang pernah menjadi simbol keberanian umat, keteguhan hati, dan letupan iman yang membuncah di jalan-jalan ibu kota. Tanggal yang pernah mengabarkan kepada dunia bahwa umat Islam di negeri ini memiliki ukhuwah yang kuat, persaudaraan yang sangat lekat, dan keberaniannya yang hebat.
Ya. Reuni Mujahid 212 kembali digelar. Tapi apa yang sebenarnya masih tersisa dari ruh perjuangan itu di hari ini?
Jejak yang Dulu Membahana
Siapa yang bisa lupa peristiwa 2 Desember 2016, ketika Aksi 212 pertama kali digelar sebagai respons atas kasus penistaan agama oleh Gubernur DKI kala itu? Lautan manusia tumpah ruah dari berbagai penjuru Nusantara. Dari Aceh sampai Papua, dari pesantren terpencil sampai kota-kota besar, semua bersatu dalam satu suara untuk menegakkan kehormatan al-Qur’an dan membela kalimat tauhid.
Belum lagi momentum 2018–2019, tatkala umat kembali bangkit untuk membela ar-Rayah dan al-Liwa, ketika bendera Rasulullah ﷺ itu dilecehkan dengan dibakar oleh oknum anggota Banser. Ingatan itu masih terngiang jelas, bendera hitam dan putih dengan kalimat syahadat berukuran raksasa berkibar di tengah kerumunan ribuan peserta dan teriakan takbir yang membelah udara Jakarta.
Ada getaran iman yang luar biasa di sana, ada napas perjuangan yang menggelora tak terbantahkan oleh siapa pun yang menyaksikannya. Namun, roda waktu berputar dan kita menyaksikan sesuatu yang berubah di tahun-tahun berikutnya.
Ketika Reuni Menjadi Sekadar Seremonial
Beberapa tahun terakhir, Reuni 212 terasa hambar. Seperti teh manis yang kebanyakan air, manisnya hilang, aromanya pun sirna. Yang tersisa hanya wadah tanpa isi, panggung tanpa ruh.
Orasi-orasi yang dulu membakar dada kini berubah hanya sebatas sambutan formal yang kering kerontang. Letupan semangat yang dulu memecah pagi kini tidak terasa lagi. Seruan melawan kezaliman tak pernah terdengar di tengah orasi Reuni 212 akhir-akhir ini.
Kita merasakan ada sesuatu yang hilang. Entah, apakah ruh perjuangan itu telah benar-benar hilang atau sengaja dipadamkan?
Pertanyaan pun muncul menggelayut dalam kepala, akankah Reuni Mujahid 212 tahun ini kembali menjadi wadah ukhuwah Islamiah yang hidup, lantang, dan responsif terhadap masalah-maslaah keumatan? Atau hanya akan terus menjadi rutinitas tahunan yang sekadar meninabobokan umat Islam negeri ini dengan kenangan masa lalu?
Padahal umat sedang dicekik dari berbagai arah. Sebut saja kasus ijazah palsu yang tak kunjung tuntas terselesaikan hingga merusak integritas negeri; perampasan lahan dan pemukiman rakyat oleh kerakusan oligarki yang hendak membangun proyek reklamasi dan istana bisnis di PIK (Pantai Indah Kapuk), sebuah wajah baru kolonialisme ekonomi; maraknya illegal logging yang mengundang bencana longsor dan banjir bandang di Sumatra Utara, Aceh, Sumatra Barat pada akhir November kemarin; atau isu internasional terkait derita Palestina yang saat ini semakin dilupakan.
Semua itu merupakan isu besar, isu strategis, isu yang seharusnya menjadi bahan bakar utama Reuni 212. Lantas, kenapa malah sepi, sunyi, dan bisu oleh sekian banyak isu-isu keumatan?
Rindu Semangat Perjuangan di 212
Kita rindu suasana ketika umat Islam berangkat dari ujung kampung dan berhari-hari menempuh perjalanan untuk hadir di Jakarta dengan semangat yang menyala-nyala. Rindu melihat barisan yang mengular panjang dari Monas sampai Bundaran HI yang berdesakan namun tetap tertib. Rindu mimbar-mimbar yang lantang menyeru agar tirani ditumbangkan, agar hukum ditegakkan tanpa pandang bulu, agar syariat kembali memberi arah hidup bernegara.
Kita rindu gemuruh suara jutaan manusia yang membuat gedung-gedung tinggi di Jakarta bergetar. Rindu saat ulama memimpin umat dengan keberanian, bukan kekhawatiran dan ketakutan yang berlebihan, yang membuat lidah kelu saat harus menyuarakan kritik/muhasabah kepada rezim penguasa.
Rindu itu meronta. Dan semakin meronta ketika melihat reuni akhir-akhir ini lebih mirip hanya temu kangen ketimbang gerakan umat.
Namun Harapan Belum Padam
Ruh perjuangan tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tertidur, mungkin karena umat lelah, mungkin karena tekanan politik, mungkin karena para tokoh dipaksa bungkam. Dan tidur bukan berarti mati. Namun, siapa nanti yang akan membangunkannya?
Apakah Reuni 212 akan menjadi percikan api pertama untuk membangunkan ruh itu? Sepertinya tidak! Umat yang hadir di acara itu mungkin akan pulang dengan perasaan hampa tanpa semangat perjuangan Islam.
Saatnya Menemukan Kembali Ruh Itu
Reuni 212 adalah warisan sejarah umat Islam di negeri ini. Reuni 212 bukan milik satu kelompok tertentu, bukan milik panitia acara, bukan milik tokoh-tokoh yang diundang. Namun Reuni 212 adalah milik umat dan menjadi bagian dari napas perjuangan umat Muslim negeri ini yang ingin menegakkan keadilan dan memuliakan agama-Nya.
Maka, jangan biarkan Reuni 212 ini mati suri. Jangan biarkan reuni 212 tinggal cerita untuk anak cucu nanti. Jangan sampai Reuni 212 menjadi sekadar logo yang tercetak di kaos dan stiker di kendaraan.
Bangkitkan kembali ruh itu. Isi kembali wadah itu dengan keberanian dan ketegasan. Hidupkan lagi suara umat yang pernah mengguncang negeri ini. Karena ruh perjuangan ini belum hilang, namun masih menunggu untuk ditemukan kembali.
Semoga akan ada momentum/peristiwa yang akan kembali menyatukan seluruh umat Islam negeri ini dalam satu semangat dan tekad perjuangan suci, membumikan Islam sebagai sebuah mabda (ideologi) yang diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Insya Allah. Salam perjuangan dari salah satu alumni Mujahid 212.
Allahu akbar. []
Sumber: Abu Miqdad
