
Pesantren Tanpa Perlawanan, Majelis Taklim Tanpa Perubahan
MUSTANIR.net – Di balik meningkatnya jumlah pesantren, lembaga dakwah, dan forum kajian Islam di berbagai penjuru negeri, umat Islam justru semakin jauh dari penerapan Islam yang hakiki.
Ironi ini muncul karena ilmu yang diajarkan tidak diarahkan untuk perubahan sistemik. Akibatnya, Islam hanya menjadi wacana, bukan poros peradaban. Umat disuguhi hafalan dan teori, sementara hukum Allah tetap disingkirkan dari panggung kehidupan.
Fenomena ini diperparah oleh kehadiran sebagian ulama dan santri yang memilih jalan aman: diam di hadapan kezaliman atau bahkan menjadi corong penguasa. Mereka yang seharusnya menjadi pelita, justru berubah menjadi lilin yang meleleh di hadapan panasnya kekuasaan.
Ulama Dunia dan Ilusi Kesalehan Intelektual
Fenomena “ulama dunia” bukan sekadar cerita. Mereka terlihat alim, cakap berbicara, penuh referensi, namun tumpul terhadap realitas umat yang hidup dalam sistem jahiliyah modern: kapitalisme.
Mereka menjelaskan keharaman riba, tapi tak menyentuh akar sistem perbankan ribawi. Mereka mengajarkan larangan zina, namun tak menggugat hukum positif yang melegalkannya. Mereka mengecam korupsi, tetapi mendukung sistem demokrasi yang justru membuka ruang politik transaksional.
Kondisi ini sesuai dengan gambaran yang disampaikan Imam al-Ghazali: “Ulama yang hanya menjadikan ilmunya sebagai alat untuk mendekat kepada penguasa dan mencari dunia adalah fitnah bagi umat.”
Ilmu yang Terpenjara, Sistem Islam yang Terabaikan
Laporan Pew Research (2023) menyatakan bahwa mayoritas negara Muslim masih mempertahankan sistem hukum warisan kolonial atau demokrasi sekuler. Tak satu pun dari negara-negara ini menerapkan syariat Islam secara kaffah.
Sistem ekonomi, pendidikan, dan peradilan tunduk pada paradigma Barat. Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar, memiliki lebih dari 40.000 peraturan perundangan yang bukan berdasarkan wahyu, melainkan hasil kompromi politik.
Namun, sangat sedikit ulama dan institusi Islam yang melihat ini sebagai masalah utama. Padahal Allah berfirman: “Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (QS al-Mā’idah: 44)
Ayat ini tidak hanya bicara tentang ibadah individual. Ia berbicara tentang sistem, kekuasaan, dan siapa yang berhak menetapkan hukum. Ketika hukum Allah disingkirkan, maka diamnya ulama adalah kejahatan intelektual.
Saatnya Menjadi Ulama Ideologis
Umat Islam membutuhkan ulama yang tidak hanya pintar, tetapi juga berpihak. Bukan ulama netral, apalagi loyal kepada sistem sekuler. Umat membutuhkan ulama ideologis—yang menjadikan Islam sebagai panduan hidup secara total dan menyuarakannya secara terbuka.
Merekalah para ulama yang menjadikan ilmu bukan sekadar kajian, melainkan misi perubahan. Mereka tidak hanya menuntut ilmu, tetapi memperjuangkannya hingga tegak dalam kehidupan nyata.
Mengembalikan Peran Ulama sebagai Pewaris Nabi
Ulama sejati adalah pewaris para Nabi. Dan warisan para Nabi bukan hanya ilmu, tapi juga perjuangan untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi. Rasulullah ﷺ tidak hanya berdakwah tentang akidah dan akhlak, tetapi juga menegakkan negara Islam di Madinah. Beliau menata sistem hukum, ekonomi, politik, dan peradilan dengan syariat.
Itulah jalan yang harus ditempuh ulama dan santri hari ini—bukan sekadar menjadi penghafal kitab, tetapi pembawa risalah perubahan. Mereka adalah penerus jalan sahabat, tabi’in, dan ulama salafus shalih yang tidak pernah memisahkan antara ilmu dan dakwah sistemik.
Kaji untuk Berubah, Belajar untuk Menegakkan
Krisis umat hari ini bukan hanya soal kebodohan, tetapi tentang keberpihakan. Umat membutuhkan ulama yang tidak hanya mengajarkan Islam, tetapi juga memperjuangkan penerapannya. Bukan yang larut dalam kesalehan akademik, melainkan yang meniti jejak kenabian: menyeru kepada hukum Allah dan menolak sistem jahiliyah.
Saatnya menjadikan pesantren, majelis ilmu, dan lembaga dakwah sebagai pusat gerakan perubahan. Islam tidak diturunkan untuk dikaji saja, tetapi untuk ditegakkan. Dan itu hanya mungkin jika ulama dan santri kembali mengambil peran sebagai pelita umat—bukan bayang-bayang kekuasaan.
Wallahualam bishowab. []
Sumber: Ahmad Zen — Jaringan Ulama Ideologis
