Ustadz Bachtiar Nasir: Sebutan Kafir Dipermasalahkan dalam Hal Memilih Pemimpin

MUSTANIR.com, Jakarta – Sebutan kafir menjadi polemik setelah muncul keputusan Munas PBNU untuk mengganti istilah itu dengan non-muslim. Tujuannya untuk menjalin kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

Pimpinan Arrohman Qur’anic Learning (AQL) Center, Ustadz Bachtiar Nasir mengatakan, sebutan kafir tidak pernah menjadi momok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Menurutnya, sebutan kafir menjadi ramai hanya dalam masalah memilih pemimpin.

“Kemaren ramai dalam hal kepemimpinan. Sementara soal kehidupan antar umat beragama dan pendirian rumah ibadah, hal ini sesuatu tidak bermasalah di Indonesia,” ujar Mantan Ketua Umum GNPF MUI di AQL Center, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (05/03) malam.

Dia menambahkan, ketika ada pihak yang merasa terganggu dengan istilah kafir dalam hal itu, maka dia justru melakukan kekerasan ideologi. Karena umat Islam, memiliki konsepsi yang jelas soal kepemimpinan di dalam Islam. Salah satu prinsipnya berada di surat Al-Maidah ayat 51.

“Orang Islam tidak boleh menjadikan pemimpin mereka dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Karena masing-masing kita sudah memiliki pola dan konsep kepemimpinannya,” jelasnya.

Dalam konteks kepemimpinan, UBN menegaskan bahwa dalam sebuah negara demokrasi yang bernuansa mayoritas, Indonesia memiliki mayoritas umat Muslim.

“Tentunya kalau ingin memihak dan bersikap adil adalah yang sesuai dengan umat Islam sebagai mayoritas,” tandasnya. []

Sumber: kiblat.net

Categories