
Demokrasi adalah Logika Mistika Paling Sempurna Abad Ini
MUSTANIR.net – Tan Malaka pernah menampar kesadaran bangsa ini dengan istilah “logika mistika”. Bagi beliau, ini adalah pola pikir yang menutup mata dari realitas material, lalu menggantikannya dengan tahayul, jimat, dan keyakinan pada kekuatan gaib.
Intinya, logika mistika adalah candu yang melumpuhkan daya kritis manusia. Ia membuat rakyat diam dalam ketertindasan karena mereka percaya bahwa nasib buruk adalah takdir yang tidak bisa diubah, kecuali dengan ritual-ritual yang tak masuk akal.
Sekarang, sahabatku, mari kita jujur. Bukankah demokrasi yang kita rayakan hari ini adalah bentuk paling sempurna dari “logika mistika” itu?
Demokrasi telah menciptakan ritual sakral bernama pemungutan suara. Kita didoktrin untuk percaya bahwa dengan mencoblos kertas di bilik suara (sebuah ritual lima menit) nasib bangsa akan berubah secara ajaib.
Padahal, realitasnya, sistem ini tidak pernah menyentuh akar permasalahan. Ia hanyalah mantra yang dibaca berulang-ulang, sementara kondisi material kita tetap sama: rakyat tetap lapar, hukum tetap tajam ke bawah tumpul ke atas, dan kebijakan tetap berpihak pada pemilik modal.
Logika mistik demokrasi memaksa kita percaya bahwa “suara terbanyak adalah kebenaran.” Ini adalah keajaiban yang dipaksakan. Jika seratus orang sepakat bahwa malam adalah siang, demokrasi akan “mengesahkan” bahwa matahari sedang bersinar di tengah gelap.
Kebenaran tidak lagi dicari melalui pembuktian, dalil atau akal sehat, melainkan dihitung lewat jumlah kepala. Inilah takhayul modern yang membuat kita lupa bahwa kebenaran itu mutlak milik Sang Pencipta, bukan hasil voting yang bisa dibeli dengan amplop dan janji manis.
Demokrasi juga menciptakan mistik “kedaulatan rakyat.” Kita diminta yakin bahwa kita adalah raja, padahal rakyat hanya menjadi “raja” selama lima menit—ya, cuma lima menit tidak lebih—saat mencoblos. Setelahnya, kedaulatan itu berpindah ke tangan oligarki.
Kita terus disuguhi mitos “perubahan,” padahal yang terjadi hanyalah pergantian aktor dalam panggung sandiwara yang sama. Kita terus memutar roda yang macet, berharap kereta akan bergerak maju, padahal mesinnya memang sudah rusak sejak awal.
Maka penulis ingin tegaskan sekali lagi: demokrasi adalah logika mistika paling sempurna abad ini.
Ia adalah mistik karena menjanjikan keselamatan tanpa menerapkan syariat-Nya. Ia adalah mistik karena menuntut kita percaya pada sistem yang terbukti berulang kali gagal, namun kita tetap saja memujanya dengan fanatisme yang membutakan.
Ia adalah mistik karena berhasil membuat kita lupa bahwa selama akar sekularisme (pemisahan agama dari negara) masih menancap, buah yang dihasilkan akan selalu beracun.
Terakhir, wahai sahabat, jika engkau masih membaca sampai baris ini namun hatimu masih dirasuki keraguan akan syariat Islam dan kebenaran wahyu, ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui setiap bisikan hatimu.
Dia memberimu tantangan terbuka untuk membuktikan keraguanmu itu.
Selesai menutup tulisan ini, silakan engkau tulis satu surat saja yang mampu menandingi kemuliaan al-Qur’an. Jika engkau merasa tidak sanggup, buatlah sepuluh ayat. Jika masih buntu, buatlah satu ayat saja.
Kerahkan seluruh kecerdasanmu, panggil seluruh ahli sastra, profesor, mintalah pertolongan pada manusia maupun jin di seluruh penjuru bumi.
Dan jika engkau sadar bahwa engkau takkan pernah mampu—karena memang tidak akan pernah mampu—maka hapuslah segala keraguan itu! Berimanlah sepenuh jiwa pada Wahyu Allah.
Jadikan ia dustur bagi hidupmu, napas bagi perjuanganmu, serta fondasi bagi peradabanmu. Campakkan sistem buatan manusia, dan hidupkan kembali Islam. Sebab, hanya Islamlah satu-satunya sistem yang diridhai Sang Pencipta. []
Sumber: Pasukan Pembebasan
