Tundukkan Akal Pikiranmu pada Hukum Allah Agar Tidak Korslet!

MUSTANIR.net – Allah ﷻ menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk. Dibandingkan dengan makhluk Allah ﷻ yang lainya, manusia jauh lebih sempurna. Karena itu manusia dijadikan khalifatullah di muka bumi.

و اذ قال ربک للملئکة انی جاعل فی الارض خلیفة قالوا اتجعل فیها من ‏یفسد فیها و یسفک الدماء ونحن نسبح بحمدک

ونقدس لک قال انی ‏اعلم ما لا تعلمون

Dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat: “Aku akan ‎menciptakan seorang khalifah di bumi.” Para malaikat berkata: “Apakah ‎Engkau akan menciptakan orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya ‎dan mengalirkan darah, sementara kami selalu bertasbih dengan memuji-Mu ‎serta mengagungkan-Mu. Allah berkata: “Aku mengetahui apa yang tidak ‎kalian ketahui.‎” (Al-Baqarah: 30)

Di antara yang membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya adalah akal. Ya, manusia diberikan akal di dalam tubuhnya, otak untuk berfikir mencerna sehingga bisa memahami banyak hal dalam kehidupan. Sehingga bisa memilih mana yang benar dan salah. Hal ini dikabarkan oleh Allah, keadaan ahli neraka yang tidak memakai akal pikirannya untuk mencari kebenaran.

Apa yang diucapkan oleh penduduk neraka? Atas sesal apa mereka meratap?

Akal yang tidak dipakai dan pendengaran yang tidak dimanfaatkan. Allah berfirman, menerangkan ratap sesal mereka:

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sekiranya kami mendengarkan atau menggunakan akal niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk:10)

Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan ucapan mereka, “Andai dahulu kami punya akal yang bermanfaat, andai kami mau mendengar kebenaran yang diturunkan Allah ﷻ, pasti kami tidak akan kufur kepada Allah ﷻ atau tertipu. Akan tetapi, kami tidak mempunyai pemahaman untuk tunduk pada ajaran-ajaran Rasul. Akan tetapi, kami tidak memiliki akal yang mengarahkan untuk mengikuti para Rasul.”

Kedudukan Akal dalam Syariat

Dr. Ibrahim Muhamad bin Abdullah al-Buraikan dalam kitabnya Al-Madkhal li Dirasat al-Aqidah al-Islamiyah ala Madzhab Ahlussunnah wal Jamaah, beliau menerangkan kedudukan akal dalam pandangan syariat Islam. Hingga dua belas poin syariat Islam memberikan nilai dan urgensi yang amat tinggi terhadap akal manusia.

Bahkan di dalam al-Qur`an sendiri Allah ﷻ banyak memuji orang yang menggunakan nalar dan pikiranya, karena untuk memahami wahyu, perintah dan larangan, tentu saja butuh prasarana akal pikiran. Tanpa memakai akal pikiran, kita tidak bisa memahami wahyu Allah ﷻ.

Namun sebaliknya, Allah ﷻ juga banyak mencela umat manusia yang berlebihan dalam menuhankan akal. Bahkan Allah ﷻ memasukkan neraka bagi kaum yang tidak mau memakai akalnya untuk memahami dari hukum Allah ﷻ. Serta mereka yang justru menyombongkan diri di hadapan wahyu karena merasa akalnya lebih canggih dari wahyu Allah ﷻ.

Dr. Abdurahman az-Zunaidi dalam kitab Manahij al-Bahts fil Aqidah al-Islamiyyah, beliau mengatakan, “Di dalam Islam tidak ada yang namanya akal berdiri sendiri sejajar dengan wahyu Allah ﷻ apalagi di atasnya. Karena akal adalah kemampuan yang diberikan oleh Allah ﷻ kepada manusia agar ia menjadikannya petunjuk untuk mengetahui hal yang benar dan yang baik dalam kehidupan secara umum.”

Kapan Akal Seseorang Dinyatakan Sehat Secara Syariah?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan lima ushul agar akal ini dinyatakan sehat: (1) Akal yang sehat tidak pernah menentang syariah. (2) Akal yang sehat selalu sejalan dengan syariah. (3) Apa yang mereka sebut dengan akal (logika) yang menyalahi syariah adalah tidak benar. (4) Apa yang mereka sebut logika yang menentang ternyata bertentangan dengan nalar yang logis. (5) Apa yang mereka menjadikan sebagai landasan bagi ushul untuk mengenal Sang Pencipta ternyata tidak dapat menetapkannya, tetapi justru menafikannya. Hal ini dinukil dalam kitab Al-Majmu Tafsiri Syaikhul Ibnu Taimiyah, Syaikh Buraikan.

Sementara itu, Ibnu Qayyim mengatakan bahwa kaidah “Apabila ada pertentangan antara akal dengan naql (wahyu) maka akal harus didahulukan dan dimenangkan akal, maka dirinya adalah thagut.”

Dari keterangan para ulama sangatlah jelas bahwa akal yang sehat adalah yang mendukung dan mengajak kepada hidayah Allah ﷻ dan membenarkan wahyu Allah ﷻ. Sedangkan akal yang korslet adalah akal yang selalu menetang wahyu Allah ﷻ.

Wajib Tunduk

Syaikh Abdul Qodir bin Abdul Aziz dalm kitab Al-Umdah fii I’daadil Uddah, beliau mengatakan, “Dasar ini adalah konsekuensi dasar ke dua iktimal as-syariah (kesempurnaan syariah). Bila syariat sudah lengkap, mampu memenuhi kebutuhan manusia baik di dunia maupun akhirat, maka seorang Muslim tidak boleh memutuskan suatu perkara atau berani melakukannya sebelum mengetahui hukum Allah ﷻ dan Rasul tentang perkara tersebut, karena syariat Islam pasti memutuskan perkara tersebut. Allah berfirman:

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَ رَسُولِهِ وَ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَميعٌ عَليمٌ

‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.” (QS al-Hujurat: 1)

Ibnu Qayyim berkata, “Sumber dari segala fitnah adalah karena didahulukan akal daripada syariat, dan didahulukannya hawa nafsu daripada syariat, dan didahulukannya hawa nafsu daripada dalil-dalil syariah.” (Kitab Ighatsatul Lahfan)

Abdul Qadir bin Abdul Aziz mengatakan, “Mendahulukan akal daripada syariat adalah akar sekularisme, jahiliyah modern yang berbuat melampaui batas hingga menjadi thagut di muka bumi. Dari akar sekularisme terbentuklah cabang-cabangnya, di antaranya demokrasi dan berhukum kepada undang-undang positif serta memisahkan urusan pengaturan negara dari agama. Ini semua terjadi karena dasar pemahamannya yang mendahulukan akal rasio daripada dalil-dali syariah.” (Al-Umdah fii I’daadil Uddah)

Maka siapa pun yang ingin cara berfikirnya dianggap sehat, maka pastikan harus sejalan dengan syariah, sehingga memandang setiap perintah Allah adalah kebaikan. Dan bersungguh di dalamnya adalah sebuah cita-cita.

Maka pastilah sebuah kesalahan dalam berfikir bila ada sebagian orang akhir zaman yang mengatakan bahwa terlalu rajin ibadah mengakibatkan pikiran korslet. Sungguh ini adalah sebuah statement yang menyesatkan. Karena sesungguhnya justru mereka yang tidak mau menundukkan diri dan akal mereka di hadapan hukum Allah-lah yang dinyatakan dholalah dan korslet.

Wallahu ‘alam bish Shawab. []

Sumber: Abdullah Protonema al-Islamy

About Author

Categories