Yakin, Mau Kembali ke Ajaran Leluhur?

MUSTANIR.net – Kembali ke ajaran leluhur, itulah tema besar yang selalu diangkat oleh mereka yang sering disebut sebagai sobat Rahayu. Kaum ini sebenarnya adalah sebutan bagi mereka yang mencoba untuk mempraktikkan budaya lokal asli Nusantara khususnya kebudayaan Jawa pra-Islam.

Budaya Jawa bagi mereka adalah romantisme sejarah yang sangat mungkin untuk diulang. Mereka selalu meromantisasi era “keagungan” Majapahit dan selalu bersikap skeptis terhadap pengaruh Islam.

Pertanyaan yang masih mengganjal tentunya, sebenarnya apa sih budaya Jawa itu? Yang dimaksud budaya Jawa itu budaya Jawa pada zaman atau abad ke berapa? Kenapa sobat Rahayu hanya mengagungkan kebudayaan Jawa di era Majapahit?

Padahal sejarah tentang Jawa pastinya lebih panjang, peradaban Jawa sudah dimulai selama ribuan tahun sebelum Majapahit ada. Sebelum era Hindu-Budha, Jawa sudah punya peradaban sendiri, tentunya ini yang lebih asli. Kenapa bukan periode pra Hindu-Budha yang coba kalian hidupkan?

Sebenarnya kalau kita mau menelisik lebih jauh, gambaran kebudayaan Jawa yang selalu di agungkan oleh sobat Rahayu, jauh dari penggambaran kebudayaan Jawa. Kalau tidak percaya, mari kita cek dan ricek satu persatu.

Kebudayaan Jawa pra-Islam, saat ini banyak yang sudah ditinggalkan oleh orang Jawa. Setelah kedatangan Islam, masyarakat Jawa emoh untuk mengamalkan lagi kebudayaannya.

Kenapa mereka meninggalkan kebudayaan yang telah dianut selama ratusan tahun? Kenapa kebudayaan Jawa yang saat ini diagungkan, justru dahulu kala pernah ditinggalkan oleh masyarakatnya, apa gerangan?

Kebudayaan Jawa pra-Islam yang sudah ditinggalkan misalnya adalah tradisi atau ritual Sati. Sati atau di Jawa terkenal dengan istilah Pati Obong adalah praktik pemakaman religius yang berasal dari India.

Perempuan yang baru saja menjadi janda, secara sukarela atau dipaksa, untuk membakar dirinya di atas tumpukan kayu api upacara kremasi suaminya.

Dalam Suma Oriental, catatan perjalanan Tome Pires, ia menyebut Sati sebagai tradisi yang lumrah dilaksanakan di lingkungan kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa Timur dan Bali. Ia juga merinci bahwa para budak dari bangsawan Bali yang meninggal juga dikorbankan dalam ritual ini.

Dalam catatan perjalanan Cornelis de Houtman ke Nusantara, ia memberikan gambaran yang lebih jelas tentang tradisi Sati di Bali. Ketika orang-orang Belanda pertama kali merapatkan kapalnya di pulau itu pada tahun 1597, mereka langsung mendengar cerita tentang 50 istri bangsawan Bali yang akan dibakar hidup-hidup di samping jasad sang suami.

Disebutkan, ritual itu diiringi pesta dan musik hingga tidak terlihat seperti ucapara pemakaman. Dan tidak ada satu pun dari ribuan orang yang hadir menunjukan raut wajah tidak senang, tidak satu pun merasa jijik atau muak.

Di Jawa sendiri pernah tercatat sebuah ritual Sati atau Pati Obong terbesar pada tahun 1691. Ketika Raja Blambangan, Pangeran Tawang Alun II meninggal dan akan dikremasi. Pangeran Tawang Alun II diketahui memiliki sekitar 400 istri. Dari 400 istri tersebut, sebanyak 270 di antaranya melakukan ritual Pati Obong dan ikut dibakar dalam upacara kremasi Pangeran Tawang Alun II.

Ritual atau tradisi yang tidak kalah menyeramkan adalah ritual upacara Pancamakara penganut sekte Bairawa Tantra. Bentuk ritualnya dikenal dengan sebutan Ma-Lima atau pancamakara. Ritual Ma-Lima tersebut terdiri dari matsiya (ikan), mamsa (daging), madya (minuman keras), mudra (ekstase melalui tarian hingga kerasukan), dan maithuna (seks bebas). Puncak dari ritual ini adalah persembahan berupa manusia dengan meminum darah dan memakan dagingnya.

Penggambaran manusia Jawa saat ini yang selalu identik dengan sopan santun, tata krama, dan lemah lembut, ternyata juga tidak tepat. Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo menjelaskan bahwa manusia Jawa pra-Islam justru manusia yang adigang, adigung, dan adiguna. Ketika terjadi konflik hanya ada dua kata, menang atau mati. Tidak ada kata ngalah dalam masyarakat Jawa.

Banyak catatan dari para petualang Eropa yang mendeskripsikan bahwa orang Jawa tidak segan untuk membunuh orang yang dengan sengaja memegang kepalanya. Atau orang yang sengaja menginjak bayangan tubuhnya, bisa memicu terjadi pertumpahan darah.

Begitulah gambaran manusia Jawa pra-Islam, ada pun gambaran manusia Jawa yang selalu dideskripsikan oleh sobat Rahayu saat ini justru adalah manusia Jawa setelah mereka mengenal Islam. Contoh kecilnya ngalah dan sabar, adalah kata yang dipinjam dari bahasa arab yang tentunya berasal dari Islam.

Sebenarnya relasi antara Islam dengan budaya sudah selesai di masa Sultan Agung dalam Serat Gending-nya. Bahwa manusia Jawa harus menjalankan syariat Islam sebagai konsekuensi dari keislamannya.

Namun, ketaatan akan syariat itu hendaknya diamalkan sampai ke level hakikat. Atau dalam pengertian lain, Islam dilaksanakan sampai level ihsan. Dari pengamalan inilah, Islam berhasil masuk meresap sampai memengaruhi dan akhirnya mengubah bahkan sampai membentuk kebudayaan Jawa.

Tantangan besar yang dihadapi Walisongo, akhirnya berhasil menyadarkan dan mengubah kebudayaan yang tidak manusiawi menuju kebudayaan yang lebih beradab. Melalui proses yang tidak sebentar, Islam mampu menampilkan daya tariknya.

Islam mampu membangun keselarasan dan kemudian membentuk kultur manusia Jawa yang penuh sopan santun, tepo seliro, unggah-ungguh, andhap asor, tidak adigang, adigung, adiguna, dan lain sebagainya.

Akhirnya, kira-kira orang Jawa mana yang masih punya keinginan untuk melestarikan ritual Sati dan ritual Pancamakara? Kalau masih ada, sungguh terlalu.

Wallohua’lam bisshowab. []

Sumber: Ni’mat al-Azizi

About Author

Categories