Ngerinya Jika Kita Termasuk Orang yang Disebut di Ayat al-Kahfi 104

MUSTANIR.net – Sudah baca al-Kahfi hari ini?

“Orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.”

Ayat ini dalam banyak tafsir, sebenarnya sedang mengisahkan tentang orang-orang musyrikin Makkah dan ahlul kitab. Menariknya, Syaikh Mutawally Sya’rawi mengajak kita untuk memahami bahwa ayat ini maknanya bisa untuk kita semua.

Orang-orang musyrik sia-sia perbuatannya karena sesat. Itulah yang paling ngeri. Orang yang muslim pun bisa sia-sia amalnya karena salah ilmu dan lalai dalam maksiat.

Nah, di situlah kita harus berhati-hati. Apa yang terbentang dalam al-Kahfi ini, kita berlindung dari menjadi seperti mereka.

Ketika Allah menjelaskan siapa manusia yang paling rugi, dan inilah jawabannya, “Orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.” (al-Kahfi 104)

Bagian yang paling mengerikan adalah “merasa telah melakukan yang sebaik-baiknya”, ternyata sia-sia. Imam Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan, “yang menyebabkan amal itu menjadi sia-sia adalah salah satunya kerusakan dalam keyakinan (aqidah) atau riya’ (pamer dalam ibadah).”

Kenapa orang bisa mengira dirinya telah melakukan yang terbaik tapi ternyata malah tak bernilai apa pun?

Seorang guru mentadabburi, “Di kehidupan ini, memang ada orang yang seperti itu: orang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu.” Ia tak menyadari bahwa yang ia lakukan salah.

Ngeri sekali.

Orang seperti itu biasanya adalah yang paling sulit dinasihati. Sebab ia telah merasa benar. Ia telah merasa tahu. Dan ketika ada yang menasihati, ia dengan keras menolak.

Memang bahaya yang namanya “illusion of knowledge”. Dan naasnya, ini terjadi bahkan mungkin pada kita.

Ilusi pengetahuan adalah keyakinan bahwa seseorang sudah benar atau tahu sesuatu secara menyeluruh, padahal kenyataannya pemahamannya tidak lengkap atau bahkan keliru.

• Ketika kita merasa sudah cukup tahu sehingga tidak terbuka pada ilmu tambahan.

• Ketika kita menyimpulkan terlalu cepat berdasarkan pemahaman dangkal atau informasi yang salah.

• Atau ketika kita mengandalkan asumsi; menganggap sesuatu benar tanpa memverifikasi atau mempertanyakan sumbernya.

Itulah mengapa para ulama, di antaranya Fudhail bin Iyadh menasihati tentang parameter agar amal diterima dan tak sia-sia.

Beliau berkata, “akhlashuha, wa ashwabuha…” Dua kriteria: yang paling tulus ikhlas, dan yang paling sesuai dengan ketentuan Allah serta Rasulullah.

Dan, agar kita tak lagi jatuh pada perasaan telah melakukan yang terbaik namun sia-sia; teruslah belajar. Dr. Mustafa Mahmud pernah bilang, “Sungguh Allah lebih dekat dengan mereka yang berusaha mengenal Allah dengan ilmu daripada mereka yang mengenal Allah hanya karena taklid.” []

Sumber: Ustadz Muhammad Edgar Hamas, Lc.

About Author

Categories