Pembebasan Palestina Bukan Hanya Tanggung Jawab Rakyat Palestina, Tetapi Tanggung Jawab Seluruh Umat

MUSTANIR.net – Tidak diragukan lagi, pernyataan Presiden Suriah mengenai hubungannya dengan entitas Yahudi—yang menyatakan bahwa Suriah menghindari konfrontasi dengannya, tidak melihat adanya kepentingan untuk terlibat dalam konflik, serta bahwa negaranya sedang berupaya mencapai kesepakatan keamanan dengan entitas tersebut bersama sejumlah negara—telah menimbulkan kegemparan.

Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan kesepakatan itu dapat menjadi langkah awal menuju “perdamaian menyeluruh”, sembari menegaskan bahwa hal itu tidak akan mengorbankan hak Suriah atas Dataran Tinggi Golan yang diduduki. Tidak diragukan lagi, pernyataan-pernyataan ini menjadi pukulan bagi setiap orang yang ikhlas dan para pejuang revolusi, sehingga patut dicermati dengan serius.

Entitas Yahudi adalah entitas penjajah yang merampas Palestina, negeri yang menjadi tempat Isra’ dan Mi’raj Rasulullah ﷺ, tanah para penakluk dan para pahlawan, negeri Mahsyar dan Masyar, kiblat pertama kaum Muslim, serta tempat berdirinya masjid suci ke tiga dalam Islam. Palestina adalah tanah Islam yang disiram dengan darah para syuhada.

Negeri ini dibebaskan oleh Al-Faruq Umar bin Khattab dan para sahabat Rasulullah ﷺ, padahal mereka bukan orang Palestina. Kemudian dibebaskan kembali oleh Salahuddin Al-Ayyubi yang berasal dari bangsa Kurdi, dan dijaga oleh Sultan Abdul Hamid II dari Kekhalifahan Utsmaniyah.

Karena itu, Palestina adalah permata negeri-negeri kaum Muslimin, yang telah dipertahankan oleh ratusan ribu kaum Muslim dengan pengorbanan jiwa demi menjaga kehormatan dan kesuciannya. Maka Palestina bukanlah milik rakyat Palestina semata, bukan pula milik negara, pemerintahan, ataupun organisasi mana pun di dunia.

Oleh sebab itu, persoalan perampasan Palestina oleh Yahudi adalah persoalan seluruh umat Islam, bukan hanya rakyat Palestina. Ini adalah perkara yang telah mengakar dalam akidah dan kesadaran umat, dan akan tetap demikian selama Surah Al-Isra masih dibaca:

﴿سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ﴾

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra: 1)

Di tengah revolusi melawan rezim tiran Bashar, rakyat Syam juga berulang kali meneriakkan slogan-slogan seperti: “Menuju Al-Quds, berjuta-juta syuhada siap berkorban,” dan “Rakyat menginginkan pembebasan Palestina.”

Ada pun berpikir dengan kaidah-kaidah politik yang diinginkan Barat, pada hakikatnya berarti membiarkan penjajahan tetap berlangsung dan pendudukan terus berlanjut. Jalan menuju kemuliaan dan kebebasan umat adalah dengan persatuan yang hakiki di atas Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ, bukan dengan mengokohkan penjara Sykes–Picot yang dibangun penjajah untuk memecah belah umat Islam dan mengisolasi setiap negeri Muslim agar mudah dikuasai satu per satu.

Oleh karena itu, persoalan rakyat Suriah dengan entitas Yahudi tidak hanya terbatas pada pendudukan Dataran Tinggi Golan, tetapi juga mencakup pendudukan setiap jengkal tanah kaum Muslimin. Karena itu, berhati-hatilah untuk tidak kembali berpikir dalam kerangka Sykes–Picot, tunduk pada syarat-syarat kaum penjajah, atau menipu diri dengan gagasan bertahap, menerima kenyataan, dan merasa cukup dengan kondisi yang ada.

Seandainya Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya rela menerima realitas yang ada ketika mereka masih lemah dan membutuhkan pertolongan, niscaya Islam tidak akan pernah tegak, bahkan nikmat Islam pun tidak akan sampai kepada kita.

Kita adalah umat yang berpegang pada prinsip sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

«وَاللهِ لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي، وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ، أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ مَا تَرَكْتُهُ»

“Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya.”

Ada pun konsep-konsep yang menyerukan sikap tunduk dan menyerah seperti itu tidak layak bagi sebuah bangsa yang telah menjatuhkan salah satu rezim dan tirani paling kejam di zaman ini dengan pengorbanan darah dan jiwa. Sebab, konsep-konsep semacam itu tidak pernah mewariskan kepada umat selain kehinaan, penjajahan, perpecahan, dan hilangnya negeri-negeri mereka. []

Sumber: المكتب الاعلامي المركزي لحزب التحرير

About Author

Categories