Benarkah Kita Sudah Jadikan al-Qur’an Panduan Hidup Kita?

MUSTANIR.net – Dalam kita berusaha bersungguh-sungguh untuk mengkhatamkan bacaan 30 juz al-Qur’an yang kita klaim jadi pedoman hidup kita, ada satu persoalan yang perlu kita tanya diri kita. Kenapa kita tidak menjadikan al-Qur’an sebagai sumber hukum untuk mengatur kehidupan?

Kita khatam berkali-kali, tapi kenapa kita hanya memilih hukum-hukum tertentu yang ada di dalam al-Quran untuk diamalkan dan meninggalkan sebagian besar hukum-hukum yang lain? Contoh, kita ambil ayat-ayat tentang akhlak tetapi tinggalkan ayat-ayat tentang muamalat. Kita ambil ayat-ayat tentang wudu tetapi tinggalkan ayat-ayat tentang hudud. Kita ambil ayat-ayat tentang salat tetapi tinggalkan ayat-ayat tentang jihad. Dan begitulah seterusnya.

Kenapa kita hanya memilih hukum-hukum yang kita suka saja untuk diamalkan? Kenapa kita berusaha menundukkan al-Quran agar sesuai dengan hawa nafsu kita?

Malah sebaliknya kita menjunjung sistem dan hukum kufur yang dibuat oleh penjajah kafir Barat dan meninggalkan hukum Allah subḥānahu wa taʿālā. Tidakkah kita sadar atas sebab inilah Allah menurunkan kehinaan-Nya ke atas kita? Lihatlah siapa yang paling banyak kasus korupsi, kasus penyelewengan, kasus pemerkosaan, kasus narkoba, dll.

Ingatlah ketika kita memilih-milih dalam mengamalkan isi kandungan al-Quran, Allah telah berikan ancaman; “Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang sangat berat.” [TMQ al-Baqarah (2): 85]

Itu belum termasuk lagi yang menjadikan al-Qur’an sebagai penangkal, jimat, pelaris, pengusir syaitan, dan sebagainya. Tapi dalam masa yang sama tak pula jadikan al-Quran sebagai ’pengusir’ berbagai macam isme-isme dan sistem kufur yang diterapkan di tengah-tengah umat saat ini seperti sekularisme, kapitalisme, liberalisme, dan demokrasi.

Al-Qur’an hanya dijadikan sebagai ‘kitab magis’ yang bisa menguntungkan jualan, memurahkan rezeki, berobat, menghalau hantu, dan berbagai ‘kepentingan pribadi’ lainnya, daripada dijadikan al-Qur’an sebagai kitabullah yang mengandung syariat yang wajib diterapkan segala hukum-hukum Allah ke atas umat manusia.

Namun semenjak sistem Islam khilafah dihancurkan pada 3 Maret 1924, hukum,-hukum Allah tidak lagi diterapkan di muka bumi, sebaliknya diganti dengan hukum kufur dari penjajah kafir Barat. Sejak saat itulah manusia telah tidak berhukum dengan apa yang Allah telah turunkan, sebaliknya menggantikannya dengan hukum-hukum buatan tangan manusia. Al-Qur’an bukan selama ini diambil acuh tak acuh, malah ditinggalkan terus dan lebih buruk, dipertikaikan kesesuaian hukumnya.

Hukum al-Qur’an telah lenyap seiring dengan lenyapnya sistem Islam khilafah. Tanpa ada sebuah negara yang menerapkan sistem Islam, mustahil semua ayat al-Qur’an dapat diterapkan. Benarlah kata Imam al-Ghazali, “Agama adalah asas, dan kekuasaan (negara) adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak ada asasnya akan rapuh; sesuatu yang tidak ada penjaganya, akan hilang.”

Terakhir, amar makruf yang terbesar untuk umat Islam ketika hukum-hukum Allah dicampakkan sekarang adalah dengan berusaha mengembalikan semula sistem Islam khilafah, yaitu institusi yang berkuasa menjadi pelaksana hukum-hukum Allah dan menjaga agama. Hanya dengan pelaksanaan hukum-hukum Allah saja yang dapat menyelamatkan masyarakat dari berbagai kerusakan dan menempatkan umat Islam kembali sebagai umat terbaik serta membawa rahmat ke seluruh alam.

Wallahu a’lam. []

Sumber: Fahmi Melaka

About Author

Categories