
Ulama Juru Bicara Setan (Syaitonu Natiq)
MUSTANIR.net – Ulama setan itu ada dua jenis:
• Jenis pertama, yakni ulama yang menjadi setan bisu (syaitonu ahroj). Ulama yang melihat kezaliman, tapi memilih diam. Menjadi setan bisu.
• Jenis ke dua, ulama yang tahu kezaliman, bertentangan dengan Islam, justru sibuk mencari dalih untuk membela kezaliman, hingga memaksakan sejumlah dalil untuk melegitimasi kezaliman. Ini bukan hanya ulama kelas setan bisu, bahkan sudah menjadi juru bicara setan.
Istilah setan ngomong (syaitonu natiq) atau yang penulis sebut sebagai jubir setan pertama kali penulis dapatkan dari KH Ahmad Nawawi (eks Ketua MUI Kota Depok). Iya, kejahatan ulama model ini lebih parah ketimbang yang diam melihat kezaliman.
Kalau ulama yang pertama, jahat karena diam melihat kezaliman. Ulama juru bicara setan ini lebih parah, karena dia bicara bukan untuk meluruskan kezaliman, akan tetapi malah membela kezaliman.
Hari ini penulis menemukan banyak ulama juru bicara setan yang berusaha membela penguasa yang zalim dengan berbagai dalih. Sampai menyamakan Baitul Mal dengan APBN untuk membela kurban penguasa yang mengorbankan harta milik rakyat.
Bukannya menasihati penguasa agar berkurban dari harta pribadinya. Malah sibuk memaksakan sejumlah dalih untuk membela kezaliman penguasa.
Zalim karena harta milik rakyat diambil tanpa izin, lalu digunakan untuk pribadinya. Ini yang terlihat publik, yang tidak terlihat, jauh lebih banyak lagi duit rakyat yang dimanfaatkan untuk kegiatan pribadi, hingga perayaan ulang tahun di Prancis.
Agama ini telah banyak kehilangan tali-tali agama yang mengikat ketaatan. Sampai syariat kurban pun, terputus pemahamannya, menjadi rusak oleh kelakuan penguasa dan dibela oleh ulama juru bicara setan.
Masalah ini menjadi materi khutbah yang penulis sampaikan di Masjid Baiturahman, Petojo, Gambir, Jakarta Pusat (29/5). Masalah syari’at tali agama Islam yang hilang satu persatu, dimulai dari hukum (kekuasaan) hingga sholat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh ikatan (tali/buhul) Islam akan terurai satu demi satu. Setiap kali satu ikatan terlepas, manusia akan berpegangan pada ikatan berikutnya. Ikatan yang pertama kali terlepas adalah hukum (pemerintahan), dan yang paling akhir adalah sholat.” (HR Ahmad no. 21139)
Sejak kaum Muslimin kehilangan kekuasaan Islam (khilafah) tahun 1924 M, yang menjaga hukum-hukum Islam, kini kaum Muslimin terlepas dari keterikatan pada syariat Allah ﷻ. Bukan hanya urusan hubungan dengan umat dan bangsa, sampai bergabung dalam BoP yang dipimpin negara kafir, bahkan hingga urusan kurban pun, umat ini terlepas dari tali syariat.
Lepasnya keterikatan umat dari tali agama Allah ﷻ di antaranya adalah karena ulah ulama su’ (jahat). Dan ulama itu, ada yang berupa setan bisu dan bahkan ada yang nekat menjadi juru bicara setan (syaitonu natiq). []
Sumber: AK Channel
