Mengenal Mertolulut, Algojo dari Mataram

MUSTANIR.net – Ada yang tahu Mertolulut?

Saya yakin di antara kita yang merupakan orang Jawa asli, mungkin terdengar asing. Padahal Mertolulut adalah gelar atau julukan untuk abdi dalem keraton Jogja. Abdi dalem ini bertugas untuk mengeksekusi hukuman yang dijatuhkan oleh Pengadilan Surambi yang dulu berlaku di Kesultanan Yogyakarta.

Mertolulut berasal dari kata merto dan lulut, yang bisa diartikan sabar menunggu kematian. Tempat tugas Mertolulut dinamakan Pacikeran, berasal dari kata ciker atau potongan jari. Letaknya persis di sisi kiri maupun kanan, depan pintu dan tangga menuju Sitihinggil dari arah Pagelaran. Penamaan ini sesuai dengan keahlian mereka dalam memotong jari atau tangan maling, rampok, begal, atau bandit yang sudah divonis oleh Pengadilan Surambi.

Mertolulut tidak sendirian dalam bertugas mengeksekusi para terpidana. Ia dibantu oleh abdi dalem Singonegoro, yang bertugas secara bergantian. Jika hukuman agak ringan seperti potong tangan dilakukan Singonegoro, eksekusi kelas berat seperti pancung dan gantung jadi tugas pokok Mertolulut. Tampang dari Mertolulut terlihat seram dengan kumis baplangnya. Namun syarat menjadi abdi dalem Mertolulut haruslah orang yang halus, penuh cinta kasih dan tidak kasar.

Untuk pengadilannya sendiri bertempat di Bangsal Ponconiti, Kemandungan Lor. Penamaan Ponconiti karena makna dari kata ponco itu lima, niti itu hal atau masalah. Karena di Bangsal ini, lima hal yang diproses hukumnya, yaitu pelanggaran mabuk, madat, madon, mencuri, dan membunuh. Sesudah vonis dijatuhkan oleh pengadilan, Mertolulut dan Singonegoro dipanggil untuk mengeksekusi hukumannya atas perintah raja.

Terkadang sebelum eksekusi dilakukan, para terdakwa yang sudah divonis ini dipamerkan terlebih dahulu di ruang terbuka. Ini dimaksudkan agar masyarakat tahu dan juga supaya ada efek takut sesudahnya. Eksekusi disaksikan oleh banyak orang yang berlokasi di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Biasanya di antara dua pohon beringin yang ada di tengah lapangan luas.

Pengadilan ini dijalankan sejak berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta di masa Sri Sultan Hamengku Buwono l berkuasa. Pengadilan ini disebut al-Mahkamah Kabiroh atau lebih dikenal dengan Pengadilan Surambi yang dilaksanakan berdasarkan hukum fiqh Islam. Pengadilan ini meliputi hukum perkawinan, talak, waris, dan hukum pidana. Hukum pidana berkaitan dengan tindak pidana kejahatan pencurian, perampokan, dan pembunuhan.

Kitab undang-undangnya disebut Kitab Angger-angger yang disusun bersama oleh Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kitab ini didasarkan pada kitab-kitab Mazhab Syafi’I, diantaranya adalah:

1. Kitab Moharrar (al-Muharrar fi al-Fiqh al-Syafi’i) karya Syekh al-Islam al-Imam Abu Qasim Abdul Karim al-Rafi-iy al-Qazwini. Dikenal dengan nama Imam ar-Rafi-iy (1160-1226).

2. Kitab Mahalli (Kanz al-Raghibin) karya Imam Jalaludin al-Mahalli (1389-1459).

3. Kitab Topah (Tuhfah al-Muhtaj) karya Ibn Hajar al-Haitamy (1503-1566).

4. Kitab Patakulmungin (Fathul Mu’in) karya Zainuddin Abdul Aziz al-Malibary (1532-1583).

5. Kitab Patakulwahab (Fathul Wahhab) karya Syekh Abu Yahya Zakaria al-Anshory (1420-1520).

Kitab Angger-angger yang diberlakukan ini merupakan kelanjutan dari hukum yang berlaku sejak zaman Kesultanan Demak. Dalam pembukaan naskah Serat Angger-angger Suryangalam dan Serat Suryangalam disebutkan bahwa hukum yang berlaku di Kerajaan Demak berdasarkan hukum Islam dengan berpegang pada al-Qur’an dan hadits.

Widji Saksono dalam bukunya ‘Mengislamkan Tanah Jawa’, mengatakan bahwa Walisongo telah berhasil mengakhiri zaman Syiwa-Budha untuk menggantikan nya dengan zaman Islam. Lebih lanjut Widji Saksono menjelaskan bahwa setelah proklamasi negara Islam Demak dengan Raden Fatah sebagai sultan pertama dan Masjid Agung Demak selesai dibangun, para wali bermusyawarah untuk menentukan program dan fase perjuangan dalam bidang kenegaraan.

Para wali akhirnya berhasil merumuskan bahwa dasar negara Demak adalah suatu negara yang berpegang pada ajaran Islam murni dengan tidak melupakan adat istiadat yang baik. Kesultanan Demak tidak hanya mengatur masalah pernikahan, dan ibadah semata, namun juga mengatur masalah waris, muamalah, jinayat, siyasah, hukum acara peradilan dan lainnya, di mana aturan-aturan tersebut didasarkan pada hukum Islam.

Hal ini juga ditegaskan oleh ahli hukum dan kebudayaan Belanda seperti CF Winter, Salomon Keizer, dan Van den Berg yang mengakui bahwa hukum Islam telah berlaku selama berabad-abad yang dikembangkan oleh kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Menurut mereka, hukum Islamlah yang menjadi hukum positif di Nusantara. Orang Islam Nusantara telah melakukan resepsi hukum Islam dalam keseluruhannya dan sebagai satu kesatuan. Jadi Hukum Islam yang diamalkan oleh masyarakat Nusantara tidak hanya sebagian atau bagian-bagian dari hukum Islam saja, namun secara keseluruhan hukum Islam telah dipraktikkan.

Tidak heran, jejak penerapan syariat Islam masih bisa kita saksikan sampai saat ini. Kedua patung seukuran manusia yang mencitrakan Mertolulut dan Singonegoro di dalam Keraton Ngayogyakarta masih bisa kita temukan. Satu berkumis agak baplang ini Mertolulut, satunya klimis itulah citra Singonegoro. Mereka berdualah yang menjadi algojo atau eksekutor para terdakwa tindak pidana pencurian, perampokan dan pembunuhan.

Jejak Mertolulut juga masih terlacak dengan keberadaan Kampung Mertolulutan di Kecamatan Ngampilan. Warga menyebut kampung ini dihuni anak keturunan abdi dalem Mertolulut. Sayangnya keberadaan tempat tinggal abdi dalem Singonegoro sudah tidak terlacak. Secara administratif kampung Mertolulutan berada di wilayah Kecamatan Ngampilan, dekat dengan sentra bakpia Pathuk.

Kuatnya cengkeraman penjajahan kolonial Belanda, membuat sistem hukum berdasar syariat Islam perlahan dihapus total. Pada tahun 1926 di masa Sultan Hamengkubuwono VIII, tugas abdi dalem Mertolulut dan Singonegoro diakhiri. Sejak saat itu, kisah tentang Mertolulut dan Singonegoro, sang algojo dari Mataram pun berangsur menghilang. []

Sumber: Ni’mat al-Azizi

About Author

1 thought on “Mengenal Mertolulut, Algojo dari Mataram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories