Amerika Kirim Senjata, Arab Saudi Importir Senjata Terbesar di Dunia

arab-impor-senjata (472 x 265)

Amerika Percepat Pengiriman Senjata Koalisi Pimpinan Saudi

Amerika Serikat mengatakan mereka mempercepat pengiriman senjata ke koalisi negara-negara pimpinan Arab Saudi yang tengah bertempur melawan para pejuang Houthi di Yaman.

Selain mempercepat pengiriman senjata, Washington juga meningkatkan kerja sama di bidang pertukaran informasi intelijen.

“Arab Saudi mengirim sinyal yang jelas kepada kelompok Houthi bahwa mereka tidak bisa menguasai Yaman melalui cara-cara kekerasan,” kata Antony Blinken, wakil menteri luar negeri AS, kepada para wartawan di ibu kota Saudi, Riyadh, hari Selasa (07/04).

“Sebagai bagian dari upaya tersebut kami sudah mengirim persenjataan, meningkatkan pertukaran data intelijen, dan mendirikan unit perencanaan bersama,” jelas Blinken.

Kelompok Syiah Houthi -yang menentang Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi- menguasai wilayah yang cukup luas di Yaman dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam serangan terbaru koalisi menggempur instalasi-instalasi militer Houthi di Provinsi Ibb, di Yaman selatan.

Banyak warga Yaman dan warga asing menyelamatkan diri ke negara tetangga, Djibouti.

Sejumlah negara, termasuk Indonesia, sudah memulai mengevakuasi warga mereka dari Yaman.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan hampir 550 orang tewas dalam pertempuran di Yaman dalam beberapa pekan terakhir. (BBCIndonesia/adj)

Saudi Arabia Menjadi Importir Senjata Terbesar di Dunia

Arab Saudi menyalip India pada tahun 2014 sebagai importir terbesar alutsista di dunia, karena didorong oleh ketegangan di Timur Tengah, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan Minggu oleh analis IHS Jane’s Defence.

Total perdagangan alat pertahanan global saat ini adalah $ 64.4 milyar, kata laporan dari para ahli pertahanan yang berbasis di London itu.

Tingginya angka tersebut didorong oleh “permintaan yang tidak imbang dari negara-negara berkembang atas pesawat militer dan eskalasi ketegangan regional di Timur Tengah dan Asia Pasifik,” kata ahli IHS Ben Moores.

Laporan itu, yang meneliti pasar pertahanan di 65 negara, menemukan bahwa Arab Saudi menghabiskan lebih dari $ 6.4 milyar pada alutsista pada tahun 2014, menyalip India yang membelanjakan $ 5.57 milyar.

Impor Arab Saudi meningkat 54 persen selama tahun lalu dan studi memprediksi bahwa satu dari setiap tujuh dolar  dihabiskan untuk ekspor pertahanan pada tahun 2015 oleh kerajaan di Timur Tengah itu.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) bersama-sama mengimpor alutsista senilai $ 8.6 milyar  pada tahun 2014, lebih dari impor gabungan negara-negara Barat.

Amerika Serikat mempertahankan posisinya sebagai eksportir teratas, dengan nilai pengiriman alutsista senilai $ 23.7 milyar, diikuti Rusia dengan nilai $ 10 miliar.

“Penerima terbesar pendapatan dari pasar Timur Tengah tetap adalah AS, dengan nilai ekspor $ 8.4 milyar ke Timur Tengah pada tahun 2014, dibandingkan dengan $ 6 miliar pada tahun 2013,” kata laporan itu.

Meskipun terdapat kinerja yang kuat oleh Rusia, yang didorong oleh penjualan senilai $ 2.3 milyar ke China, riset memperkirakan di masa depan persaingan akan lebih keras.

“Penurunan ekspor Rusia diperkirakan terjadi tahun 2015, sebuah tren yang bisa dipercepat oleh sanksi Barat,” katanya.

“Selain itu, jatuhnya harga minyak memiliki dampak buruk pada beberapa klien utama Rusia yang rentan terhadap harga minyak yang rendah, seperti Venezuela dan Iran.”

Perancis adalah eksportir terbesar ketiga ($ 4.9 milyar) diikuti oleh Inggris ($ 4.1 milyar) dan Jerman ($ 3.5 milyar).

IHS mengatakan, China kini menjadi pengimpor terbesar ketiga, naik dari posisi kelima sebelumnya.

“China terus membutuhkan bantuan alat kedirgantaraan militer dari Rusia dan total anggaran pengadaan pertahanan akan terus meningkat dengan sangat cepat,” kata Paul Burton, direktur industri pertahanan dan anggaran di IHS.

Penelitian ini menunjuk Korea Selatan sebagai pemimpin regional potensial yang mengimpor alat pertahanan.

“Korea Selatan tampaknya akan menjadi bintang yang bersinar dari industri pertahanan Asia Pasifik,” kata IHS menyimpulkan. (theguardian/adj)

Categories