Sistem Pergaulan Rusak: Awal Kehancuran Masyarakat

MUSTANIR.net – Sungguh memprihatinkan. Hari demi hari masyarakat disuguhi berita yang menjijikkan sekaligus menyedihkan. Ada oknum kiai menjadi predator seksual. Ada oknum syeikh terjerumus dalam penyimpangan seksual. Ada oknum ustadz tertangkap berzina. Bahkan tidak sedikit aktivis dakwah yang mulai terbiasa haha-hihi dengan lawan jenis, bercanda tanpa batas, berfoto mesra, bercampur-baur tanpa rasa malu, lalu menganggap semua itu “biasa saja”.

Padahal kehancuran besar sering bermula dari sesuatu yang mula-mula dianggap kecil. Awalnya hanya chat ringan. Awalnya hanya bercanda. Awalnya hanya rapat berdua. Awalnya hanya saling curhat. Awalnya hanya foto bersama. Awalnya hanya “teman diskusi dakwah”.

Akan tetapi, setan tidak pernah tidur. Karena itu Islam tidak hanya mengharamkan zina. Islam bahkan menutup seluruh pintu menuju zina. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Janganlah kalian mendekati zina. Sungguh zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk (QS al-Isra’: 32).

Perhatikan. Allah SWT tidak sekadar berfirman, “Jangan berzina.” Akan tetapi, “Jangan mendekati zina.” Artinya, seluruh jalan menuju zina wajib ditutup.

Sistem Pergaulan Liberal: Racun Peradaban

Hari ini banyak orang hanya sibuk mengecam pelaku, tetapi enggan membongkar akar masalahnya. Padahal akar masalahnya sangat jelas: rusaknya sistem pergaulan. Kapitalisme-sekularisme telah menjadikan interaksi bebas laki-laki dan perempuan sebagai sesuatu yang normal.

Ikhtilath dianggap lumrah. Khalwat dianggap biasa. Tabarruj dipromosikan sebagai gaya hidup. Aurat dipertontonkan atas nama modernitas. Hubungan tanpa batas dibungkus dengan istilah “profesional”, “friendly”, “gaul”, “kolaboratif”, bahkan “ukhuwah”.

Akibatnya?

Syahwat dilepas tanpa kendali. Rasa malu dicabut perlahan-lahan. Hati menjadi kotor. Lalu lahirlah berbagai penyimpangan. Benarlah sabda Rasulullah ﷺ:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاء

Aku tidak meninggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki setelahku daripada fitnah perempuan_ (HR al-Bukhari dan Muslim).

Beliau pun bersabda:

فاتقوا الدنيا واتقوا النساء، فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء.

Takutlah terhadap fitnah dunia dan kaum wanita. Sungguh fitnah pertama yang menimpa Bani Israel adalah kaum wanita (HR Muslim).

Karena itu Islam datang bukan sekadar memberi nasihat moral, tetapi membangun sistem sosial yang menjaga manusia dari kerusakan.

Islam Menutup Pintu Kerusakan Sejak Awal

Islam mengharamkan khalwat. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ الشَّيْطَانُ ثَالِثَهُمَا

Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali setan menjadi yang ke tiganya (HR at-Tirmidzi).

Islam juga memerintahkan laki-laki dan perempuan menjaga pandangan:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ

Katakanlah kepada laki-laki mukmin agar mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka (QS an-Nur: 30).

Demikian pula kepada kaum perempuan:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

Katakanlah kepada perempuan Mukmin agar mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka (QS an-Nur: 31).

Islam juga melarang tabarruj:

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

Janganlah kalian bertabarruj sebagaimana tabarruj Jahiliah dulu (QS al-Ahzab: 33).

Tabarruj bukan sekadar membuka aurat. Segala bentuk menampakkan kecantikan dan membangkitkan syahwat di hadapan laki-laki asing termasuk tabarruj. Imam Mujahid berkata bahwa tabarruj adalah seorang wanita keluar lalu berjalan (dengan menampakkan perhiasannya/kecantikannya, pen.) di hadapan laki-laki (Ath-Tabari, Jaami’ al-Bayaan fii Ta’wiil al-Qur’aan, 19/158).

Jangan Merasa Aman dari Fitnah

Yang lebih berbahaya adalah ketika orang merasa dirinya aman dari fitnah. Merasa dirinya ustadz. Merasa dirinya aktivis senior. Merasa dirinya hapal al-Quran. Merasa dirinya sudah lama berdakwah.

Padahal syahwat bisa menghancurkan siapa saja.

Karena itu para salaf sangat takut terhadap fitnah perempuan. Sa’id bin al-Musayyib, misalnya. Meski beliau sudah tua dan salah satu matanya buta, beliau tetap berkata, “Aku tidak merasa aman atas diriku dari fitnah perempuan.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubalaa’, 4/217).

Lihatlah. Ulama salaf pun takut pada fitnah. Sebaliknya, hari ini sebagian orang malah menikmati suasana fitnah.

Aktivis Dakwah Pun Bisa Tergelincir

Karena itu jangan pernah meremehkan perkara pergaulan. Ada aktivis yang awalnya hanya sering bercanda dengan akhwat. Lalu mulai nyaman chatting pribadi. Mulai saling curhat. Mulai sering video call. Mulai saling kirim foto. Mulai merasa “cocok”. Lalu terjadilah khalwat. Kemudian terjadilah zina.

Semua itu jarang terjadi secara tiba-tiba. Hampir selalu bertahap. Setan sangat sabar menghancurkan manusia. Imam Ibnul Qayyim menyatakan bahwa pandangan adalah pangkal kebanyakan musibah yang menimpa manusia (Ibnu al-Qayyim, Al-Jawaab al-Kaafi, hlm. 125).

Karena itu budaya bercanda bebas antara laki-laki dan perempuan bukan perkara ringan. Demikian pula budaya foto bersama tanpa rasa malu, bercampur-baur tanpa batas, saling sentuh, saling menggoda, atau membuat konten-konten murahan demi popularitas. Semua itu racun.

Rusaknya Sistem Pergaulan = Rusaknya Tatanan Sosial

Islam memahami bahwa rusaknya hubungan laki-laki dan perempuan akan menghancurkan masyarakat secara keseluruhan. Ketika zina merebak, nasab rusak. Ketika aurat dibuka, syahwat liar. Ketika khalwat dianggap biasa, perselingkuhan meningkat. Ketika tabarruj dipromosikan, keluarga hancur. Ketika ikhtilat tanpa aturan dijadikan budaya, maka kehormatan masyarakat runtuh.

Karena itu Islam mewajibkan adanya sistem sosial Islam yang menjaga kemuliaan manusia. Bukan sekadar ceramah moral. Sistem Islam menjaga: aurat; interaksi laki-laki dan perempuan; pendidikan berbasis takwa; media agar tidak merusak moral; sanksi tegas bagi pelaku zina; budaya malu; serta masyarakat yang aktif beramar makruf nahi mungkar.

Sebaliknya kapitalisme-liberalisme justru menjadikan tubuh perempuan sebagai komoditas. Industri hiburan dibangun di atas syahwat. Media sosial dipenuhi eksploitasi aurat. Bahkan banyak orang mencari popularitas dengan menjual sensualitas.

Lalu masyarakat pura-pura heran ketika kasus zina, pelecehan seksual, LGBT, perselingkuhan, dan predator seksual terus meningkat.

Jangan Hanya Mengutuk Pelaku. Bongkar Sistemnya!

Tentu pelaku maksiat harus dihukum. Akan tetapi, berhenti hanya pada mengutuk pelaku tanpa membongkar sistem rusak yang melahirkan mereka adalah kebodohan. Selama sistem pergaulan liberal tetap dipertahankan, kerusakan akan terus berulang. Hari ini mungkin oknum ustadz. Besok pejabat. Besok lagi guru. Lalu aktivis. Lalu mahasiswa. Lalu anak-anak muda. Semua ini bisa terjadi karena sumber racunnya masih mengalir. Itulah sistem sekuler.

Allah SWT benar-benar menginginkan masyarakat yang bersih. Karena itu Islam tidak sekadar mengobati akibat, tetapi memutus akar kerusakan.

Sudah saatnya kaum Muslim kembali serius menjaga hukum-hukum pergaulan dalam Islam. Bukan malah mencibir hukum-hukum Islam sebagai “kolot”, “kaku”, atau “tidak relevan”. Justru di situlah kemuliaan Islam.

Justru ketika hukum-hukum itu ditinggalkan, masyarakat perlahan berubah menjadi rimba syahwat yang menjijikkan.

WalLaahu a’lam bi ash-shawaab. []

Sumber: Arief B Iskandar

About Author

Categories