
Dampak yang Menghancurkan dari Ketergantungan kepada Amerika yang Imperialis
MUSTANIR.net – Penjajahan Amerika modern tidak hanya terbatas pada penerapan dominasi militer dan ekonomi. Ia merupakan sebuah sistem bercabang seperti gurita yang pukulan pertama dan paling mematikannya diarahkan kepada akal manusia, pola pikir, dan cara pandang menyeluruh terhadap dunia yang dimiliki oleh bangsa-bangsa yang tertindas.
Ketergantungan kepada kekuatan dominan ini tidak lain merupakan penerimaan secara sukarela terhadap belenggu ketergantungan intelektual dan politik. Bersandar kepada kolonialisme Barat, dengan alasan apa pun, akan melemahkan kemandirian dan mengubah bangsa-bangsa menjadi alat yang kehilangan kehendak sendiri serta melayani kepentingan Amerika.
Berikut ini uraian singkat mengenai lima dampak menentukan yang ditimbulkan oleh ketergantungan yang mematikan tersebut:
Pertama: Hilangnya Identitas Intelektual dan Tsaqafah
Salah satu konsekuensi paling berbahaya dari ketergantungan ini adalah meleburkan tsaqafah umat Islam dan landasan akidahnya ke dalam wadah pemikiran Barat.
Amerika menggunakan berbagai instrumen, seperti mempromosikan sekularisme, fanatisme nasionalisme, dan pragmatisme politik. Selain itu, Amerika juga menjalankan berbagai proyek yang bertujuan mengubah identitas umat, seperti Abraham Accords (Kesepakatan Abraham) dan gagasan menyesatkan tentang Federasi Abrahamik, dengan tujuan merampas identitas umat serta memadamkan api perlawanan dalam diri generasi umat.
Amerika juga berusaha mencegah persatuan kaum Muslimin, menghalangi mereka untuk mengembalikan kejayaan dan kemuliaan mereka, serta menghambat persatuan geografis dan politik mereka di bawah naungan Khilafah. Hal itu dilakukan dengan mengubah metode berpikir politik umat, memperalat para penguasanya, serta menggunakan berbagai instrumen penjajahannya, baik yang bersifat lunak maupun keras, untuk memperluas pengaruhnya di negeri-negeri Islam.
Kebijakan agresif ini bertujuan menggantikan nilai-nilai materialistik Barat dengan akidah Islam, sekaligus menekan setiap pemikiran politik independen yang bersumber dari Islam, demi memastikan keberlangsungan dominasinya di negeri-negeri Islam.
Ke dua: Ilusi Kepentingan dan Pengkhianatan yang Sistematis
Sebagian elit dan partai politik, dengan slogan-slogan yang tampak menarik tetapi menyesatkan seperti pragmatisme dan kepentingan politik, mengklaim bahwa perlu dibangun hubungan erat dengan Barat dan Amerika. Alasannya, mereka ingin memperoleh kekuatan ekonomi dan militer terlebih dahulu, kemudian baru mewujudkan cita-cita umat di kemudian hari.
Namun, berbagai fakta sepanjang satu abad terakhir telah membantah klaim tersebut secara keseluruhan. Hipotesis yang keliru ini sama persis dengan gagasan berdamai dengan setan dengan harapan mengumpulkan kekuatan untuk menggulingkannya di kemudian hari!
Berdasarkan logika pragmatis semacam ini, rezim pemerintahan di Turki, Suriah, Pakistan, Arab Saudi, negara-negara Teluk, Yordania, dan Mesir telah melakukan pengkhianatan terang-terangan terhadap Gaza dan berbagai persoalan umat.
Alih-alih mengerahkan pasukan untuk menolong orang-orang yang dizalimi, rezim-rezim tersebut justru berubah menjadi katup pengaman bagi Amerika. Mereka hanya memainkan peran sebagai mediator untuk menyelamatkan entitas Yahudi dan meredam berbagai krisis yang dihadapi Amerika, sekaligus menandatangani berbagai perjanjian militer.
Ke tiga: Mengingkari Janji dan Perjanjian
Diplomasi Amerika telah mengosongkan janji dan perjanjian dari nilai moral apa pun, serta memperlakukannya sebagai instrumen taktis untuk menipu lawan, membeli waktu, dan melewati berbagai krisis.
Sejumlah peristiwa internasional menegaskan pola pengingkaran tersebut. Di antaranya adalah pembatalan sepihak terhadap kesepakatan nuklir Iran, penarikan diri dari Perjanjian Paris tentang perubahan iklim, serta pelanggaran yang terus berlangsung terhadap Perjanjian Doha dengan Taliban.
Bentuk pengkhianatan yang paling buruk terlihat dalam dukungan persenjataan dan finansial, serta penggunaan hak veto berulang kali untuk melindungi entitas Yahudi dalam perang yang disebut sebagai genosida yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.
Sementara Amerika secara dusta terus menggaungkan isu hak asasi manusia, Amerika tetap memasok persenjataan kepada arsenal pendudukan, sehingga menjadikannya mitra langsung dalam pertumpahan darah puluhan ribu perempuan dan anak-anak Muslim.
Ke empat: Nasib yang Tak Terelakkan bagi Para Agen dan Antek
Pada akhirnya, para klien yang mengandalkan Amerika untuk mempertahankan pendudukan dan kolonialisme akan berakhir dengan nasib yang memalukan.
Selain pelarian memalukan para teknokrat yang didukung Amerika—seperti contoh pelarian Ashraf Ghani dari Afghanistan—serta berbagai pernyataan terbuka dan berulang dari Zalmay Khalilzad yang menyalahkan mereka, panggung politik Pakistan menjadi bukti yang sulit dibantah.
Amerika memanfaatkan mantan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan untuk memperkokoh pengaruhnya di kawasan. Namun, setelah kebutuhan Amerika terhadap dirinya berakhir, Amerika bersekongkol melawannya melalui telegram rahasia cypher bernomor I-0678, dengan bekerja sama dengan kepemimpinan militer Pakistan. Akibatnya, ia digulingkan dan dipenjarakan.
Amerika meninggalkan agen-agennya tanpa belas kasihan sedikit pun begitu mereka tidak lagi dibutuhkan. Bahkan, Amerika melemparkan kepada mereka tanggung jawab atas berbagai kegagalan, korupsi, dan kekacauan yang melanda masyarakat!
Ke lima: Amerika sebagai Ancaman Global
Kanker kolonialisme Amerika tidak berhenti di wilayah negeri-negeri Islam. Seluruh umat manusia berada di bawah tekanannya. Krisis Ukraina dan pemanfaatan Kyiv sebagai tumbal dalam konflik geopolitik NATO merupakan bukti nyata mengenai hal tersebut.
Di Amerika Latin, berbagai peristiwa yang terjadi di Venezuela mengungkap sifat eksploitatif dari dominasi tersebut. Setelah bertahun-tahun menerapkan blokade ekonomi yang mematikan terhadap Caracas, Amerika memperluas dominasinya dan menjarah minyak Venezuela.
Ekspansi kolonial semacam inilah yang menjadi salah satu penyebab utama bangsa-bangsa terjerumus ke dalam kemiskinan struktural dan korupsi yang meluas.
Kesimpulan
Hasil dari satu abad penuh kehinaan serta jutaan korban Muslim membuktikan dengan sangat jelas bahwa pembebasan dari belenggu kolonialisme mustahil dicapai kecuali dengan melepaskan diri sepenuhnya dari sistem Barat yang dipaksakan dan mendirikan Negara Khilafah Rasyidah berdasarkan manhaj kenabian.
Selain kehinaan dan kerendahan yang dipaksakan Amerika kepada para pengikutnya di berbagai penjuru dunia, Amerika juga menyeret para penguasa dan militer di negeri-negeri Islam menuju pintu-pintu neraka. Semua itu sebagai imbalan atas kesediaan mereka meninggalkan pemikiran politik Islam, tidak menegakkan dan menampakkan agama, serta meninggalkan kewajiban membela orang-orang yang tertindas. Dengan demikian, Amerika menyeret mereka bersama-sama menuju nasib yang buruk ini.
Hanya Khilafah, dengan kemandirian politiknya yang sejati dan dengan menghidupkan kembali pemikiran politik Islam yang unggul, yang mampu melumpuhkan tentakel kolonialisme Barat ini serta menyelamatkan umat manusia dari kezaliman kapitalisme menuju keadilan dan keluasan Islam. []
Sumber: جريدة الراية الراية
