
Nasionalisme Indonesia: Imitasi Barat yang Melahirkan Nihilisme
MUSTANIR.net – Secara faktual, nasionalisme hari ini hanya sekadar doktrin administratif teritorial yang semakin tak relevan dengan realitas kehidupan sosial kebudayaan bahkan ekonomi satu masyarakat.
Nasionalisme Indonesia dalam sejarahnya adalah konstruk kolonialisme Eropa (Belanda) secara administrasi yuridis, politik, dan teritorial, termasuknya juga konstruksi metafisika yang dibangun melalui institusi-institusi pendidikan Belanda bagi kaum pribumi.
Kita bisa lihat dengan jelas di awal 1900-an (Politik Etis) hingga pasca 1945, sebagian besar aspirasi gerakan kelompok muda Indonesia menginginkan model negara modern republikan leviathan (berbasis epistemologi Eropa sentris), yang tentu lepas dari realitas sejarah bahkan kebudayaan masyarakatnya sendiri.
Namun situasi ini bukan unik terjadi di Indonesia. Rata-rata negara baru bekas jajahan Eropa memiliki dinamika yang relatif sama (kasus Afrika dan negara-negara Arab).
Dalam pengertian Carl Schmitt dalam The Nomos of the Earth, situasi ini disebut sebagai satu bentuk nihilisme, yaitu keterputusan antara order (tatanan) dan lokasi di mana aspirasi dan lanskap politik yang terbentuk sebagai negara modern Indonesia diambil dari pengalaman sejarah politik negara bekas jajahan (Eropa).
Sejalan dengan deksripsi John Gray, seorang filsuf politik Inggris dalam The Enlightment’s Wake, yang menyatakan; bahwa gagasan-gagasan nasionalisme yang semata-mata sekadar meniru pengalaman Barat mengenai modernisasi dengan mengimitasi institusi-institusi Barat serta tatanan kulturalnya, adalah ilusi besar abad ini yang rusak karena pembangunanisme dalam sejarah peradaban modern.
Di saat yang sama, desepsi atas imaji modernisasi tersebut secara harfiah berarti ‘pembaratan’ westernisasi, yaitu adopsi model kultural bangsa lain secara instrumental yang pada gilirannya nihilistik.
Sumber: Arif Dwi Purnomo
