Ternyata Ketua BPUPKI adalah Anggota Freemason

MUSTANIR.net – Siapa tak kenal Radjiman Wedyodiningrat?

Tokoh kelahiran desa Mlati, Yogyakarta, 21 April 1879 ini adalah orang yang memimpin jalannya sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan ideolog yang cukup berpengaruh di negeri ini, khususnya di kalangan kelompok nasionalis sekular.

Bahkan ada yang menyebut dirinya sebagai ideolog pertama yang dimiliki bangsa Indonesia. Dalam sidang BPUPKI yang dipimpin Radjiman inilah, pertama kalinya Soekarno yang diberi kesempatan berpidato, memperkenalkan istilah Pancasila.

Sidang dilaksanakan di Pejambon, Jakarta Pusat, dengan beranggotakan 62 orang yang terdiri dari kalangan Islam dan nasionalis sekular. Dalam persiangan yang berlangsung selama dua kali; tanggal 1 Juni 1945  dan 10-16 Juli 1945, dibahas tentang dasar negara dan konsep berbangsa dan bernegara. Nah, di tangan Radjiman inilah palu sidang dipegang.

Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Radjiman Wedyodiningrat termasuk salah seorang founding father (pendiri) negeri ini. Ia dikenal sebagai aktivis Theosofi.

Bahkan, sebelum dirinya berangkat menimba ilmu di Eropa, ia sudah menjadi anggota organisasi internasional yang didirikan oleh Helena Petrovna Blavatsky tersebut.

Selain terpengaruh oleh pemikiran para petinggi Theosofi seperti Blavatsky, Annie Besant, dan Leadbeater. Radjiman juga sangat terpengaruh dengan para filsuf Barat, seperti; Immanuel Kant, Henry Bergson, dan Karl Marx.

Selain itu, sebagaimana dalam artikel-artikel yang ditulisnya di Surat Kabar Timboel yang dipimpinnya, Radjiman juga banyak mengutip pendapat Syekh Siti Jenar, Budha, Kristus, Hendrik Kraemer (seorang misionaris Kristen Jesuit yang cukup terkenal di Indonesia), bahkan Sigmund Freud.

Artikel-artikel Radjiman kebanyakan bertemakan filsafat dan hal-hal yang berkaitan dengan kebatinan, mitologi, dan pencampuradukan doktrin dari berbagai agama dan kepercayaan.

Kejawaan dan pemikiran Barat menjadi sumber kepribadian dan pemikirannya.

Radjiman adalah dokter alumunus School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) yang banyak mengenyam pendidikan di Eropa. Beragam penghargaan juga pernah diraihnya dari negara-negara yang pernah dijadikan tempatnya menimba ilmu.

Belajar Pemanggilan Roh Halus

Radjiman mengaku mengenal Theosofi saat bertugas di Rumah Sakit Semarang. Saat bertugas di daerah itu, ia berkenalan dengan seorang guru bernama R Prawirahardja, yang mengenalkan dirinya pada ajaran Theosofi. Keduanya sering terlibat diskusi mengenai Theosofi dan filsafat.

Radjiman yang sudah tenggelam dalam ajaran Theosofi kemudian mengembangkan ajaran itu ketika bertugas sebagai dokter di Sragen, Jawa Tengah.

Pasien-pasien yang berobat kepadanya diberi ‘suplemen’ tambahan tentang Theosofi. Mereka yang sembuh kemudian ditarik menjadi anggota Theosofi.

Di kota inilah Radjiman kemudian mendirikan cabang Theosofi dengan menggunakan nama organisasi ‘Wedha Sanjaya’ (Sumber Penerang).

Radjiman juga rajin mengadakan diskusi mengenai Theosofi dengan para Theosof keturunan priayi Jawa lainnya.

Misalnya pertemuan Rabu Wage yang diselenggarakan di rumah Ki Hadjar Dewantara. Selain membicarakan soal Theosofi, pertemuan yang juga dihadiri oleh Ki Ageng Suryomentaram, Mr. Singgih, Dr. Supomo, Dr. Sukiman Wirjosanjoyo, dan Ali Sastromijoyo, juga membicarakan tentang masalah yang berkaitan dengan pergerakan nasional.

Sebelumnya, Radjiman juga berkenalan dengan Ny. Zehenter dan Tuan Warstadt yang menggiringnya untuk mempelajari spiritisme atau pemanggilan roh halus.

Kemudian, untuk memperdalam Theosofi, Radjiman belajar dan berinteraksi langsung dengan tokoh Theosofi, seperti Dirk van Hinloopen Labberton.

Selain di Indonesia, Radjiman juga menjalin hubungan dengan para Theosof dunia, seperti Annie Besant, Charles Webster Leadbeater, dan Jiddu Krishnamurti.

Pertemuannya dengan Annie Besant terjadi saat dirinya menghadiri ceramah Krishnamurti di Belanda.

Selain dekat dengan kalangan Theosofi, setahun sebelum dirinya diangkat sebagai Ketua Boedi Oetomo (1914), pada 1913 Radjiman secara resmi masuk menjadi anggota Freemasonry (Vrijmetselarij) atau Golongan Kemasonan sebagaimana istilah yang disebut oleh para priayi Jawa pada masa itu.

Perkenalannya dengan berbagai tokoh Theosofi dunia, tentu tak menyulitkannya untuk masuk sebagai anggota Freemasonry.

Untuk menjadi seorang Mason, harus mendapat rekomendasi sedikitnya oleh dua orang yang terlebih dulu menjadi Mason.

Melihat kedekatan Radjiman dengan beberapa tokoh Theosofi yang juga Mason, besar kemungkinan Radjiman mendapat rekomendasi dari mereka.

Selain Radjiman, saat itu juga banyak dari para elite Jawa dan anggota Boedi Oetomo yang masuk dalam organisasi ini. Setelah menjadi anggota Freemasonry, Radjiman juga pernah diamanahi sebagai Ketua Neutrale Onderwijs Vereeniging (Perhimpunan Pendidikan Sekular), sebuah organisasi milik Freemasonry.

Radjiman pernah menjabat sebagai dokter pribadi di Keraton Surakarta. Karena pengetahuannya yang luas, Radjiman menjadi orang kepercayaan para elite keraton. Ia misalnya pernah menemani Pangeran Ario Koesumo Yoedo bertemu dengan Sri Ratu Wilhelmina pada 1923 di Belanda.

Pangeran Ario adalah orang Indonesia pertama yang menuntut ilmu di Universitas Leiden, Belanda.

Selain ke Belanda, keduanya juga berkeliling ke negara-negara Eropa dan Mesir. Keduanya melakukan perjalanan keliling ke beberapa negara selama enam bulan.

Hubungannya dengan kalangan keraton inilah disebut-sebut menjadi gerbang pembuka bagi Radjiman untuk bertemu dengan tokoh-tokoh nasional lainnya, di antaranya Soekarno. Selain menjadi pimpinan sidang BPUPKI, bersama Soekarno, Radjiman juga pernah menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Saat Boedi Oetomo di bawah kepemimpinan Radjiman, corak organisasi ini sangat kental dengan nuansa Theosofi. Dan di organisasi Boedi Oetomo, Radjiman-lah sosok yang dikenal dalam menjegal aspirasi Islam.

Dalam laporan kongres yang diselenggarakan pada 5-6 Juli 1917, Radjiman dengan tegas menolak usulan agar ajaran Islam dimasukkan dalam Boedi Oetomo. Ia mengatakan,

“Kebudayaan Jawa sifatnya bukan Islam. Hinduisme dan Budhaisme yang merangsang terciptanya karya-karya dan monumen-monumen seni. Karya-karya tersebut, baik berbentuk kata maupun batu, adalah yang kini menjadi harta nasional bangsa. Jika mengikuti hukum Islam secara konsekuen, maka seni pahat, seni patung, seni sastra Jawa akan lenyap. Demikian pula nasib adat istiadat Jawa. Kebiasaan utama pada saat kelahiran, perkawinan dan peristiwa-peristiwa keluarga lainnya, dasarnya adalah agama Hindu dan Budha.”

Berdasarkan berbagai alasan, ia menyatakan sama sekali tidak dapat dipastikan bahwa orang Jawa Tengah sungguh-sungguh dan sepenuhnya menganut agama Islam.

Usulan Radjiman yang menolak masuknya ajaran Islam dalam Boedi Oetomo kemudian diterima oleh peserta kongres.

Inilah fakta sejarah, di mana sebuah organisasi yang dijadikan landasan sebagai kebangkitan nasional di sebuah negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, tetapi sangat alergi terhadap ajaran Islam.

Boedi Oetomo tak lebih dari organisasi yang menjadikan asas sekularisme, Kejawen, dan Theosofi sebagal pijakan pergerakannya.

Sikap Radjiman terhadap Islam juga terlihat dalam tulisannya di Majalah Timboel, 1927. Bersama Singgih, teman diskusinya di pertemuan Rebo Wage, Radjiman menulis artikel yang menyerang Sarekat Islam dan H Agus Salim.

Tulisan itu menyatakan, Sarekat Islam yang mula-mula organisasi rakyat, telah jatuh ke tangan para rohaniwan seperti H Agus Salim, sehingga mengabaikan kepentingan sosial, ekonomi, dan dikalahkan oleh kepentingan religius murni, serta menjalankan pan-Islamisme yang membahayakan gerakan nasionalis.

Radjiman adalah satu-satunya anggota Freemason berdarah Jawa yang tulisannya dimuat dalam Gedenkboek van de Vrijmetselarij in Nederlandsche Oost Indie 1767-1917 (Buku Kenang-kenangan Freemasonry di Hindia Belanda 1767-1917) yang diterbitkan di Semarang, Jawa Tengah, pada 1917.

Dalam buku tebal yang menjadi bukti tak terbantahkan tentang keberadaan Freemasonry di negeri ini, Radjiman menulis sebuah artikel berjudul, ‘Een Broderketen der Volken’ (Persaudaraan Rakyat).

Tentu, jika bukan bagian dari orang-orang penting Freemasonry di Hindia Belanda, tulisan Radjiman tak mungkin dimasukkan dalam buku yang menjadi bukti sejarah keberadaan para Mason di Hindia Belanda tersebut.

Radjiman meninggal di Ngawi, Jawa Timur, pada  20 September 1952. Ia meninggal dalam usia 73 tahun. Rumah kediamannya di desa Dirgo, Widodaren, Ngawi, sampai hari ini masih berdiri dan dijadikan museum.

Radjiman mendapat gelar Pahlawan Nasional berdasarkan. Keputusan Presiden RI Nomor 68/TK/2013 tertanggal 6 November 2013.

Dengan beragam jabatan penting yang pernah didudukinya, Radjiman tentu meninggalkan jejak sejarah dan pemikiran yang tidak sedikit. Tulisan ini, hanya sekilas memotret perjalanan hidupnya. []

Sumber: Dian Arief Setiawan

About Author

Categories