Tiga Bagian Penting dari Keteladanan Rasulullah ﷺ

MUSTANIR.net – Dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) Prof. Chusnul Mar’iyah, Ph.D., menyatakan setidaknya ada tiga bagian penting dari keteladanan Rasulullah ﷺ.

Hal tersebut diungkapnya dalam diskusi: Maulid: Cinta Nabi Era Kini di kanal youtube.com/@tabloidmediaumat (30/8/2026). Ada pun ketiga bagian tersebut yakni:

• Pertama, membangun kepemimpinan (leadership).

“Nah, leadership menjadi sangat penting. Leadership ya, bukan dealership (bisnis),” sebutnya. Menurutnya, keberadaan partai politik memiliki posisi penting dalam melahirkan pemimpin.

Karena itu, proses rekrutmen politik harus mendapatkan perhatian serius dan tidak dilakukan secara sembarangan. “Di sini partai politik menjadi penting, rekrutmen menjadi penting, jangan asal-asalan,” katanya.

Dalam membangun kepemimpinan, Chusnul menekankan, umat perlu melihat kembali bagaimana Rasulullah ﷺ menjalankan kepemimpinannya dengan berpegang pada warisan yang ditinggalkannya. “Ya, kembali lagi pada pemikiran-pemikiran Islam, kembali kepada warisan Rasulullah, al-Qur’an dan as-Sunnah di dalam konteks itu,” tuturnya.

Ia juga menilai pandangan para ulama memiliki posisi penting dalam membangun dan memahami kepemimpinan dalam perspektif Islam. “Dan tentu saja, pandangan-pandangan ulama dalam konteks ini menjadi sangat penting,” ujarnya.

• Ke dua, membangun peradaban politik menjadi sangat penting di dalam konteks kontestasi hari ini.

“Jadi, bahwa peradaban ini bukan berarti kemudian begitu saja karena ada kontestasi. Misalnya bagaimana Islam tidak dihitung di dalam studi-studi sekuler misalnya di dalam konteks itu.

Ia mencontohkan, ketika membahas khilafah Islam, pembahasan tersebut justru dapat dianggap sebagai bagian dari intelektual fundamentalis. “Bahkan kalau kita bahas tentang khilafah Islam aja, udah dianggap sebagai intelektual fundamentalis,” tuturnya.

Karena itu, menurutnya, menjadi sangat penting mempertanyakan kembali identitas umat Islam. “Who are we as a Muslim (Siapa sebetulnya kita sebagai Muslim ini)?” katanya.

Chusnul kemudian mengaitkan hal tersebut dengan buku The Clash of Civilizations karya Huntington. Menurutnya, gagasan dalam buku tersebut pada dasarnya merupakan bentuk islamofobia. “Ya seperti buku yang The Clash of Civilizations-nya Huntington yang sebetulnya islamofobia,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa modern nation state sekuler (negara bangsa modern sekuler) tidak semata-mata merupakan pemisahan antara negara dan gereja. “Jadi bukan pemisahan agama dan politik, tapi dia adalah seperti agama baru,” ujarnya.

Menurutnya, agama seperti apa yang dapat dikontrol oleh negara sekuler. “Jadi, kira-kira agama apa yang bisa dikontrol oleh negara sekuler?” tuturnya.

• Ke tiga, redefinisinya. Ia menilai pendidikan sebagai salah satu ruang strategis untuk membentuk cara pandang masyarakat. “Makanya saya memilih menjadi dosen. Saya dulu SPG, mau jadi guru, enggak mau jadi guru SD, tapi tetap aja ternyata jadi guru mahasiswa,” terangnya.

“Nah, di sini tantangan luar biasa pendidikan kita. Karena pendidikan kita, kurikulumnya dikuasai atau didominasi oleh pemikiran-pemikiran sekuler,” pungkasnya. []

Sumber: Siti Aisyah

About Author

Categories