Bahaya Fanatik Buta kepada Kyai, Ustadz, Gus, dan Habib yang Tidak Mengharamkan Demokrasi

MUSTANIR.net“Saya ikut saja apa kata kyai, ustadz, gus, dan habib saya.”

Saudaraku, agama Islam memerintahkan para pemeluknya untuk mengikuti dalil, dan tidak memperkenankan seseorang untuk bertaklid buta (baca: mengekor/membeo).

Memang tidak bisa dipungkiri dan sudah menjadi rahasia umum alias bukan rahasia lagi kalau mereka sudah didoktrin untuk jadi orang yang fanatik buta pada perkataan kyai, ustadz, guru, gus, dan habib tanpa memandang apakah perkataan mereka tersebut sesuai dengan dalil atau tidak.

“Pokoknya kulo nderek mawon, pokoknya saya ikut atau manut saja.”

Padahal Islam mengajarkan yang wajib diikuti adalah al-Qur’an dan sabda Rasul sallāllāhu ʿalayhi wa sallam. Perkataan ulama boleh diikuti jika sesuai dengan kedua sumber hukum Islam tersebut. Ketika berseberangan dari keduanya, tentu wajib untuk ditinggalkan.

Kita tidak diajarkan untuk manut terus pada perkataan ulama, karena mereka bukanlah orang yang ma’shum atau makhluk suci.
Mereka bisa jadi keliru dalam pemahaman, bisa jadi belum sampai suatu hadits pada mereka atau punya udzur lainnya.

Sehingga kalau dikatakan bahwa mereka adalah orang yang tidak bisa salah, ini justru kekeliruan yang fatal. Namun bukan juga berarti kita harus meninggalkan ulama begitu saja. Pendapat mereka tetaplah didengar untuk memahami al-Qur’an dan hadits dengan pemahaman yang benar.

Allah taʿālā berfirman;

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan ahli-ahli agama mereka sebagai tuhan-tuhan selain dari Allah, dan juga (mereka mempertuhankan) al-Masih ibni Maryam, padahal mereka tidak diperintahkan melainkan untuk menyembah Tuhan yang Maha Esa, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.” (QS at-Taubah: 31)

Mendengar ayat itu, Adi bin Hatim raḍiyallāhu ‘anhu  yang saat itu masih beragama Nasrani dengan kalung salib di lehernya, ia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami tidak menyembah mereka.”

Maka Rasulullah sallāllāhu ʿalayhi wa sallam berkata kepadanya;

أَلَيْسُوا يَحُلُّونَ مَا حَرَمُ اللهِ فَتُحِلُّونَهُ وَيُحْرَمُونَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتَحْرِمُونَهُ؟ قَالَ: بَلَى، قَالَ: فَتْلُكَ عَبَّآ دتهم

“Bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, kemudian kalian menghalalkannya, dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, kemudian kalian mengharamkannya?”

Ia menjawab, “Ya, benar.”

Maka beliau bersabda lagi, “Itulah bentuk ibadah kepada mereka.” (HR Tirmidzi)

Syeikh Abdurahman bin Hasan raḥimahullāh berkata;

“Di dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa menaati ulama dalam hal maksiat kepada Allah taʿālā berarti beribadah kepada mereka dari selain Allah taʿālā, dan termasuk syirik akbar yang tidak diampuni oleh Allah taʿālā.”

Begitulah hakikatnya orang-orang Nasrani yang menuhankan rahib-rahibnya. Mereka selalu mengikuti apapun yang dikatakan oleh rahib-rahibnya.

Sesungguhnya yang berhak membuat syari’at hanyalah Allah taʿālā. Allah taʿālā-lah yang menentukan halal dan haram. Tidak seorang pun berwenang menghalalkan kecuali yang sudah dihalalkan oleh Allah taʿālā, juga tidak berwenang mengharamkan kecuali apa yang sudah diharamkan oleh Allah taʿālā.

Sungguh ironis, saat ini sebagian besar kaum muslimin bertaklid kepada kyai, ustadz, gus, dan habib-habib pujaan dan idola mereka yang menyeru untuk memperjuangkan copras capres sistem kufur demokrasi.

Mereka tidak memedulikan dalil, meskipun mereka-mereka yang diikutinya menyimpang dan menyalahi dalil. Mereka yang menuhankan manusia berkata;

“Pokoknya kita ikuti saja guru-guru kita, guru kita bukan orang-orang bodoh, Kyai kita tidak mungkin salah, ustadz kita tentu paham dengan permasalahan agama. Gus kita pasti benar, dan habib kita adalah wali Allah serta bersanad.”

Begitulah perkataan mereka. Bagi mereka, kyai, ajengan, ustadz, gus, dan habibnya adalah tuhan yang pasti benar, dan tidak mungkin salah. Mereka selalu mengikuti apa pun yang dikatakan oleh guru-gurunya.

Maka keadaan mereka itu persis seperti orang-orang Nasrani yang disebutkan oleh Rasulullah sallāllāhu ʿalayhi wa sallam yang menuhankan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah taʿālā.

Na’udzubillahi min dzalik

Semoga tulisan yang sedikit ini bisa dipahami dengan mudah dan bermanfaat untuk kita semua. Semoga taufik dan hidayah-Nya selalu tercurahkan kepada kita semua.

Barakallahu fiikum. []

Sumber: Rasyid Ridho Sitorus

About Author

Categories