Bahaya Mengambil Kemaslahatan dalam Bergabung dengan Sistem Jahiliah

MUSTANIR.net – Mereka telah menyebutkan sebelas poin yang mereka katakan sebagai kemaslahatan yang amat besar yang akan diperoleh dengan bergabung di dalam sistem pemerintahan jahiliah.

Demi Allah, kalian wajib memperhatikan poin-poin itu dan merenungkan betapa semua itu hanyalah hasil-hasil yang remeh tidak ada (artinya) dibandingkan dengan maksiat besar yang mereka lakukan. Kami akan memaparkan poin-poin tersebut disertai dengan komentar.

– Menambah kemampuan jemaah dalam mengurusi administrasi negara.

– Melatih kader-kader lslam di bidang politik dan permainan-permainannya.

– Melatih dan mendidik kader Islam yang istimewa melalui pengiriman pelajar ke luar negeri yang diatur oleh kementerian.

Tiga poin itu berkaitan dengan satu topik. Seharusnya digabungkan dalam satu poin saja, kecuali jika memperbanyak poin itu akan menunjukkan banyaknya faktor yang mendukung pembicaraan mereka. Masalah ini tidak berkaitan dengan banyaknya pembicaraan, tetapi berhubungan dengan kebenarannya.

Apakah layak untuk mendapatkan poin-poin yang seperti itu menjadikan seorang muslim berhak melanggar perintah Rabb-nya? Apakah tidak ada jalan lain, jalan yang tidak mengundang kemurkaan Allah, yang bisa digunakan oleh gerakan-gerakan Islam untuk melatih anggota-anggotanya dan menambah kemampuan mereka? Apakah jalan yang sesuai dengan syarak membutuhkan persiapan yang seperti itu?

Sesungguhnya gerakan-gerakan Islam ketika terjun di bidang politik harus berjalan sesuai dengan hukum syarak dan terikat dengan metode Rasulullah ﷺ. Tindakan mereka akan menambah pengalaman dan pemahaman terhadap realitas para penguasa dan sejauh mana keterikatan mereka dengan negara-negara kafir, menambah pemahaman terhadap permainan (politik) dan cara-cara mereka yang penuh tipu daya.

Apakah tidak ada jalan bagi seorang dai untuk menyeru peminum khamar agar meninggalkan kebiasaannya itu selain dengan masuk ke bar, kemudian turut minum khamar bersamanya? Kemudian meninggalkan perbuatan itu untuk meyakinkan peminum khamar bahwa ia mampu meninggalkannya.

Demi Allah, betapa lemahnya akal yang melahirkan pemikiran seperti ini! Bagaimana mungkin ia mengizinkan dirinya mengganti syariat Allah! Mereka juga telah menyebutkan poin-poin berikut ini:

– Pengenalan gerakan Islam terhadap sistem yang sedang berlaku agar bisa menghindari kejahatannya.

– Menolak konspirasi dan tipu daya terhadap gerakan Islam dengan menelaah apa yang terjadi di balik apa yang tampak dan berusaha untuk menggagalkannya.

– Apabila jemaah menolak untuk bergabung dengan sistem pemerintahan yang ada, maka yang akan menggantikan posisi mereka adalah musuh-musuh yang akan menggunakan seluruh kekuatannya untuk memerangi gerakan lslam dan memusnahkan Islam dan kaum muslim.

Tiga poin itu sebenarnya membahas topik yang sama, yaitu menghindari kejahatan penguasa dan menolak tipu daya mereka terhadap Islam dan kaum muslim. Berdasarkan kenyataan yang kita alami, tanpa disengaja, maka kami ingin mereka membuktikan sendiri, apakah benar mereka dapat menghindarkan bahaya dari umat dan dari diri mereka sendiri dengan jalan bergabung di daIam sistem pemerintahan yang tidak menerapkan apa yang Allah turunkan?

Mereka telah mengatakan sendiri dengan lidah-lidah mereka bahwa para penguasa tidak mengangkat seorang muslim menjadi menteri kecuali untuk memperpanjang kekuasaannya; juga agar dapat mengeluarkan undang-undang zalim melalui tangan mereka; dan untuk memperbaiki opini publik terhadap mereka. Setelah mereka memperoleh apa yang dibutuhkannya, maka para menteri muslim itu dicampakkan. Oleh karenanya, di mana potensi dari kejahatan mereka dan di mana pula penolakan terhadap tipu daya mereka?

Sistem yang dimasuki oleh (kader-kader) muslim itu tidak akan menjadi lebih baik dengan kehadiran mereka, bahkan justru memperburuk citra mereka di hadapan masyarakat, karena masyarakat akan menempatkan sikap yang sama terhadap sistem maupun orang-orang yang bergabung di dalamnya.

Mereka juga telah menyebutkan dua poin yang lebih utama kalau dijadikan satu poin saja.

– Memberikan contoh bahwa jemaah mampu untuk memimpin manusia.

– Memberikan kepercayaan kepada Islam bahwa Islam mampu untuk mengatur seluruh urusan kehidupan, baik umum maupun khusus.

Sesungguhnya jemaah tidak akan mampu memberikan image seperti itu. Sebaliknya, justru jemaah akan memberikan contoh yang buruk dan teladan yang tidak Iayak untuk ditiru. Hal itu telah dibuktikan berdasarkan kenyataan.

Kalau bukan karena adanya gerakan Islam yang ikhlas dan sadar yang tampil menghadapi seruan-seruan ini, dan ulama kaum muslim yang pemberani, maka Islam pasti akan hilang dari jiwa-jiwa manusia (seperti mereka) akibat keterangan-keterangan yang telah diberikan dan sikap-sikap para pencetus ide-ide ini yang tekun memperkuat dan membelanya.

Demi Allah, betapa jauhnya perbedaan di hadapan Allah dan di hadapan hamba, antara gerakan-gerakan Islam atau ulama yang berada dalam kubangan sistem (jahiliah) itu yang menyesaki dadanya dengan sistem yang rusak, dengan gerakan-gerakan Islam dan ulama yang mengatakan yang hak dan menegakkannya, yang tidak takut ceIaan orang-orang yang mencela, meskipun dijebloskan ke dalam penjara para penguasa muslim yang menjadi tempat bergabungnya orang-orang itu.

Ingatlah firman Allah subḥānahu wa taʿālā,

“Maka bersabarIah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar.” (TQS al-Ahqaf: 35)

“Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar.” (TQS ar-Ruum: 60)

Maka, apakah sama dua permisalan itu?

Demikian juga mereka telah menyebutkan tiga poin lain yang dapat digabung menjadi satu poin. Mereka telah menyebutkan:

– Menciptakan kelompok yang berasal dari jemaah yang mempunyai pengaruh (public figure) di masyarakat. Dan orang-orang ini dapat menyelesaikan banyak sekali problem jemaah dan para pengikutnya.

– Memperkuat posisi orang-orang Islam dan melemahkan posisi orang-orang kafir.

– Memanfaatkan kedudukan penguasa untuk kepentingan jemaah.

Poin-poin seperti ini menunjukkan sesatnya angan-angan orang yang mengatakannya. Apakah akibat-akibat yang berbahaya ini berhak mendapatkan rida Allah, atau termasuk dalam golongan yang disebutkan Allah bahwa mereka adalah orang-orang yang zalim, fasik, dan membela kezaliman?

Selayaknya gerakan Islam itu mendapatkan apa yang bisa dicapainya tanpa harus terjerumus pada perkara semacam ini. Kami tidak sepakat dengan mereka bahwa setiap poin tadi akan tercapai apabila gerakan Islam melakukan maksiat kepada Allah dan turut serta dalam sistem pemerintahan yang jahiliah. Sebaliknya, justru akan berakibat negatif bagi gerakan, dakwah dan Islam.

Para pencetus ide ini telah menyebutkan sebelas poin atau sebab-sebab yang mendorong mereka melakukan hal itu. Dengan menggunakan metode berpikir mereka—yang tidak dibolehkan—kami dapat menyebutkan lebih banyak lagi poin-poin yang merupakan bahaya-bahaya dan akibat-akibat dari perbuatan seperti ini, di antaranya:

– Dengan metode seperti ini para pemimpin gerakan dan para anggotanya belajar untuk bersikap munafik. Apabila mereka berkumpul dengan penguasa tempat mereka bergabung dalam sistem pemerintahan, mereka akan mengatakan apa yang disukai penguasa. Jika mereka berkumpul dengan manusia, mereka mengatakan perkataan yang lain. Mereka berusaha untuk meyakinkan masyarakat bahwa tindakan mereka dengan mendekatkan diri kepada penguasa dan sistem pemerintahannya itu tidak lain agar mereka mampu untuk meraih kekuasaan dan memegang kendali sistem.

– Pernyataan-pernyataan jemaah menjadi berubah-ubah, terlalu sepele, dan tidak ada artinya.

– Sistem pemerintahan yang ada dapat menghitung (kekuatan) gerakan dan para pengikutnya, menyingkap apa yang ada di dalamnya, dan membuka rahasia-rahasianya. Terkadang jika terjadi perselisihan di antara anggota-anggota gerakan, penguasa berusaha untuk memprovokasi dan menambah-nambah bumbunya agar terbuka kesempatan baginya untuk memegang kendali gerakan dan memecah belahnya jika diperlukan.

– Dakwah bagi jemaah ini akhirnya hanya terbatas pada hukum-hukum yang tidak membahayakan sistem, seraya berdiam diri terhadap hukum-hukum prinsipil yang pada gilirannya akan memberikan gambaran yang tidak benar tentang dakwah dan Islam.

– Ketika gerakan Islam yang bekerja dengan penguasa diizinkan untuk mendirikan lembaga-lembaga tempat mereka menjalankan aktivitas di dalamnya, mereka akan menempatkan penguasa pada posisi yang mengarahkan lembaga-Iembaga itu. Itu memunculkan rasa takut terhadap campur tangan penguasa di dalamnya, yang pada akhirnya akan membubarkannya. Akibatnya, mereka tidak melontarkan hukum-hukum yang membuat sistem gelisah dan selanjutnya tidak pernah berpikir untuk keluar dari situasi itu.

– Gerakan Islam yang menerima bergabung dengan sistem pemerintahan yang menerapkan hukum jahiliah akan memberikan justifikasi kepada sistem tersebut untuk memukul gerakan-gerakan Islam lainnya yang berusaha melakukan perubahan sesuai dengan metode Rasulullah ﷺ, dengan mengecap siapa saja yang melawan penguasa adalah fundamentalis-ekstremis, sedangkan orang yang bergabung dengan penguasa disebut moderat dan tercerahkan.

Sungguh amat mengherankan yang dilakukan para pencetus ide yang bernuansa toleransi dan oportunis dengan membuat berbagai tulisan yang mengisyaratkan bahwa mereka—dengan metodenya itu—adalah orang-orang yang moderat sehingga penguasa dapat bekerja sama dengan mereka. Dan selain mereka adalah para ekstremis.

– Pemahaman jemaah Islam akan berubah sesuai dengan kondisi yang ada. Contoh, dibolehkannya tidak mengambil jizyah dari kafir zimi dan bolehnya tidak menamakan mereka dengan ahlu dzimmah sehingga tidak membangkitkan kemarahan mereka. Contoh lainnya seperti pendapat mereka bahwa demokrasi adalah milik mereka yang telah dikembaIikan kepada mereka. Begitu pula pendapat mereka yang mengatakan dibolehkannya transaksi dengan cara riba, dan pendapat yang mengatakan bolehnya bergabung dengan sistem pemerintahan yang tidak menerapkan hukum Allah. Hal ini berakibat memperpanjang umur sistem yang batil dan memperindah image sistem yang ada.

– Menjatuhkan lslam dari jiwa manusia karena manusia melihat bahwa Islam tidak memberikan apa pun kepada mereka melalui sistem ini, terutama setelah para pencetus ide-ide ini menjanjikan kepada mereka manna wa salwa (nikmatnya kursi kekuasaan). Selain itu, gerakan-gerakan tersebut menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia, seperti juga yang lainnya, tidak mampu menyelesaikan permasalahan mereka secara tuntas. Gerakan-gerakan itu tidak mampu menjadikan dirinya sebagai contoh yang perlu diteladan. Sebaliknya, justru memberikan teladan yang buruk.

– Gerakan telah merusak para anggotanya tatkala seluruh semangat mereka dicurahkan untuk membela sepak terjang jemaahnya atau membela semua yang dikerjakan oleh penguasa dan memberinya justifikasi.

– Gerakan akan berdiam diri ketika penguasa memukul dan menangkap para pengemban dakwah dari gerakan-gerakan lain. Bahkan kalau perlu menyerang mereka agar memperoleh keridaan penguasa atau bertindak berdasarkan permintaan penguasa. Contoh untuk kasus ini seperti yang terjadi di Mesir akhir-akhir ini.

– Orientasi ini menjadikan maslahat sebagai standar (tolok ukur) perbuatan bagi jemaah, bukan keterikatan dengan hukum syarak. Yang bisa mendatangkan maslahat, mereka kerjakan, meskipun melanggar syarak. Jadi, kemaslahatan itu menurut pandangan mereka lebih bernilai daripada syarak. Demikianlah, dan masih banyak lagi sebab-sebab lainnya yang bisa dilekatkan kepada agama dan dakwah.

Kita telah ungkapkan seluruh poin di atas berdasarkan fakta, bukan berdasarkan dalil-dalil syarak, agar kami bisa mengatakan kepada mereka bahwa metode berpikir mereka itu—meskipun berdasarkan mazhab mereka—tidak memberikan apa pun kecuali implikasi yang buruk kepada Islam dan dakwah, serta metode berpikir yang rusak yang tidak diakui oleh syarak.

Tidak seperti biasanya, seperti yang biasa kami pelajari dari syarak, bahwa kami—dalam perkara ini—menggunakan fakta sebagai dalil untuk menunjukkan rusaknya sebuah fikrah, menolak hukum syarak secara akli. Jika kami memulai pembicaraan ini berdasarkan metode mereka adalah dalam rangka menasihati mereka dengan perkatan mereka sendiri, dan menjatuhkan argumentasi mereka dengan hujah mereka sendiri.

Meskipun demikian, kami memahami, sebagaimana setiap muslim yang sadar dan ikhlas dalam berdakwah, satu-satunya tolok ukur dalam menilai suatu perbuatan atau perkataan, termasuk menolaknya adalah syarak semata. Jika demikian halnya, dalil-dalil syarak yang mereka sebutkan dan katakan memahaminya, maka orang-orang yang memperhatikan akan memahaminya, bahwa hal itu cukup untuk menolak pendapat dan pemahaman mereka. Mungkin mereka memiliki lebih banyak lagi dalil-dalil. Akan tetapi, dalam kasus ini tidak berkaitan dengan banyaknya contoh atau  dalil, melainkan terkait dengan metode berpikir. []

Sumber: Ahmad Mahmud

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories