Meluangkan Waktu Belajar Islam

MUSTANIR.net – Kehidupan di era peradaban materialistik, liberalistik dan kapitalistik serta hedonistik dengan jantungnya demokrasi —seperti kondisi kehidupan di zaman kita saat ini— sering kali membuat kita terbawa arus begitu sangat semangat dan antusias serta ambisius sekali, dan menomor-satukan atau lebih memprioritaskan bila sudah menyangkut urusan perkara dunia, hingga lebih dari 8-12 jam lamanya kita habiskan.

Seperti menghabiskan waktu berjam-jam dalam bekerja mencari uang, materi dan menumpuk harta kekayaan. Serta dalam mengejar jabatan, kekuasaan dan syahwat terhadap lawan jenis. Atau menghabiskan lama nian waktu berjam-jam belajar ilmu-ilmu dunia di bangku sekolah dan di bangku kuliah. Dan menghabiskan waktu pula berjam-jam di hadapan monitor televisi, laptop dan gadget serta medsos.

Namun sebaliknya, kita terkadang malas, abai, lalai dan menomor-sekiankan kewajiban menuntut ilmu agama atau belajar ilmu agama atau belajar ilmu Islam. Bahkan terkadang kita pun tidak menganggapnya penting. Atau tidak menjadikannya sebagai prioritas utama dalam kehidupan kita.

Masak iya sich, kita tidak bisa sama sekali meluangkan waktu minimal sekitar 2 jam dalam sepekan untuk belajar ilmu agama Islam tersebut di majelis ilmu atau majelis halaqah? Apa iya kita sesibuk itu dan sesuper sibuk itukah kita?

Bahkan, terkadang pula kita terlalu banyak alasan untuk tidak hadir belajar ilmu agama. Terkadang pula kita sok sibuk, dan terkadang juga kita pun sok sudah tahu. Serta kita pun terkadang menghindar dan malas-malasan, dengan merasa nyaman di zona nyaman kita tersebut.

Tidak sadarkah kita, bahwa sesungguhnya kita itu telah menumpuk-numpuk dosa besar. Dengan terus-menerus melalaikan kewajiban belajar ilmu agama Islam tersebut? Dan adakah jaminan besok kita masih hidup?

Bukankah belajar ilmu agama Islam itu hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi setiap muslim baik laki-laki maupun wanita). Sama halnya wajibnya shalat, puasa, zakat, haji dan kewajiban-kewajiban dalam Islam lainnya. Artinya, berdosa besar bila kita tidak belajar ilmu agama Islam tersebut.

Sebagaimana, Rasulullah ﷺ bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ على كل مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” (Shahih al-Jami’: 3913)

أُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَحْدِ إِلَى اللَّهْدِ

“Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat.” (HR Muslim).

Belajar ilmu agama Islam itu tidak mesti mutlak harus intensif dan reguler di pondok pesantren atau di bangku sekolah. Meskipun itu salah-satu cara yang afdhaliyah, bila kita punya kemampuan, dan ada waktu luang yang luwes untuk belajar agama Islam di pondok atau di bangku sekolah tersebut.

Namun bila tidak memungkinkan dan karena keterbatasan kita, maka belajar ilmu agama Islam itu bisa pula langsung kita talaqqi atau sorogan ke asatidz dan ulama di berbagai majelis ilmu atau majelis halaqah, di masjid, dan lain-lain.

Dan akses belajar ilmu agama Islam ke asatidz dan ulama di berbagai majelis ilmu atau majelis halaqah tersebut sebetulnya, sangat mudah, dengan kemudahan berbagai sarana dan prasarana fasilitas kehidupan di era modern saat ini. Tinggal kita mau atau tidak dan niat atau tidaknya untuk melakoninya.

Oleh karena itulah, kenapa untuk urusan dunia kita bisa meluangkan waktu dan mampu pula menghabiskan waktu hingga berjam-jam lamanya? Bukankah dunia itu hanya sementara dan juga hanya permainan semata, serta terkadang juga seringkali melalaikan kita. Sebagaimana firman Allah subḥānahu wa taʿālā:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS al-Hadîd: 20)

Jadi, kenapa sich giliran untuk urusan belajar ilmu Islam agama kita sendiri, malah kita sering kali cuek dan tak acuh, serta pura-pura tidak tahu? Bahkan sering kali kita tidak bisa meluangkan waktu hanya sekadar minimal 2 jam dalam sepekannya tersebut?

Apakah kita merasa sudah pintar hingga kita tidak butuh belajar ilmu agama Islam lagi? Apakah materi dunia yang kita cari tersebut akan dibawa mati, dan bisakah pula materi dunia itu menyelamatkan kita dari azab dan neraka Allah?

Bukankah belajar ilmu agama Islam itu sangat penting, karena ini menyangkut perkara dunia dan akhirat kita? Dan juga ini pun menyangkut perkara pahala dan dosa. Serta menyangkut perkara surga dan neraka!

Bukankah pula Rasulullah ﷺ telah bersabda?

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ ْالآخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ وَ مَنْ أَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ

“Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itu pun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itu pun harus dengan ilmu.” (HR Thabrani)

Makanya, sangat wajar bila Imam Bukhari rahimahullah berkata:

العلم قبل القول و العمل

“Ilmu (pengetahuan dan pemahaman) itu sebelum berkata dan sebelum berbuat.” (al-‘Ilmu, Shahih al-Bukhari)

Allah subḥānahu wa taʿālā pun telah menegaskan dalam firman-Nya:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS al-Isra’: 36)

Oleh karena itulah sesibuk apa pun kita dalam perkara urusan dunia kita tersebut, dan bila kita tidak mampu secara intensif dan reguler belajar ilmu agama Islam di pondok pesantren atau di bangku sekolah dan di bangku kuliah, marilah kita upayakan bisa meluangkan waktu untuk belajar ilmu agama Islam.

Paling minimal 2 jam dalam sepekan (seminggu sekali) di majelis ilmu/majelis halaqah tersebut. Jangan sampai tidak sama sekali belajar, karena itu hanya bakal bikin rugi dan celaka bagi dunia dan akhirat kita saja.

Kecuali memang ada uzur syar’i yang menyebabkan kita tidak bisa hadir, seperti sakit, terkena musibah, kecelakaan dan sesuatu yang darurat. Maka okelah itu masih bisa ditoleransi dan masih bisa dimaafkan serta masih dimaklumi.

Dan tidak lupa yang paling utama, marilah kita luruskan lagi niat kita dalam belajar agama Islam tersebut, ikhlas semata-mata karena Allah. Dan kita azzamkan hanya karena Allah dan mengharapkan ridha-Nya semata.

Juga pula, kita niatkan dan kita azzamkan dalam rangka menjadikannya sebagai bagian dari dakwah menolong agama Allah. Karena Allah subḥānahu wa taʿālā telah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad: 7)

Sebagai penutup, kiranya sangat penting kita hujamkan ultimatum Allah subḥānahu wa taʿālā ini ke dalam benak, hati sanubari kita dan akal pikiran kita. Allah subḥānahu wa taʿālā berfirman:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha: 124)

Semoga Allah subḥānahu wa taʿālā meringankan hati dan akal pikir kita dan memudahkan pula setiap langkah kaki kita. Dalam menuntut ilmu khususnya dalam belajar agama Islam dan dalam meniti jalan-Nya. Serta semoga Allah subḥānahu wa taʿālā pun melembutkan dan melunakkan hati kita untuk hanya mencari ridha, rahmah, mahabbah dan berkah-Nya saja.

Dan semoga Allah subḥānahu wa taʿālā menganugerahkan kita ilmu dan pemahaman agama Islam yang kaffah. Serta semoga Allah pun menjadikan kita konsisten dalam majelis ilmu atau majelis halaqah tersebut, dan juga dalam dakwah menolong agama-Nya, sampai akhir hayat kita.

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبِّىْ زِدْنِيْ عِلْمًـا ناَفِعًا وَرْزُقْنِـيْ فَهْمًـا. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قلبي عَلَى دِينِكَ. اَللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ، صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.

Aaamiin.

Allahu yahdikum wa lana. Wallahu a’lam bish shawab. []

Sumber: Zakariya al-Bantany

About Author

2 thoughts on “Meluangkan Waktu Belajar Islam

  1. Monitoruj telefon z dowolnego miejsca i zobacz, co dzieje się na telefonie docelowym. Będziesz mógł monitorować i przechowywać dzienniki połączeń, wiadomości, działania społecznościowe, obrazy, filmy, WhatsApp i więcej. Monitorowanie w czasie rzeczywistym telefonów, nie jest wymagana wiedza techniczna, nie jest wymagane rootowanie.

  2. Aby całkowicie rozwiać wątpliwości, możesz dowiedzieć się, czy twój mąż zdradza cię w prawdziwym życiu na kilka sposobów i ocenić, jakie masz konkretne dowody, zanim zaczniesz podejrzewać, że druga osoba zdradza.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories