Belenggu Nasionalisme di Balik Derita Rohingya

MUSTANIR.net – Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) atau MUI Aceh meminta semua pihak untuk tidak memprovokasi masyarakat agar menolak pendaratan imigran muslim Rohingya di tanah rencong.

“Kita meminta semua pihak tidak memprovokasi masyarakat untuk menolak pengungsi Rohingya,” kata Ketua MPU Aceh Tgk. Faisal Ali di Banda Aceh, Senin (20/11, Radar Aceh).

Himbauan ketua MPU Aceh ini terkait dengan kedatangan saudara kita muslim Rohingya dalam beberapa waktu ini yang mendapat penolakan dari penduduk setempat.

Di tengah aksi Palestina yang digelar di seluruh kota kabupaten di Aceh yang mengetuk rasa ukhuwah Islamiyyah kita untuk membantu saudara-saudara muslim Palestina, hari ini ukhuwah Islamiyyah itu diuji Allah dengan hadirnya saudara saudara muslim dari Rohingya. Ukhuwah Islamiyyah yang kita gaungkan demi memunculkan solidaritas kaum muslimin terhadap persoalan kaum muslimin Palestina seharusnya memunculkan sikap yang sama dalam menghadapi muslim Rohingya.

Persoalan Rohingya memang bukan kapasitas individu atau kelompok masyarakat Aceh yang mampu menyelesaikannya. Seharusnya pemerintah pusat turun tangan menyelesaikan persoalan sebagaimana yang disampaikan MPU Aceh yang menyesalkan sikap pemerintah pusat terkait penanganan Rohingya, mengingat kasus pengungsi ini sudah berulang terjadi di Aceh.

Akan tetapi, pemerintah pusat tidak memberikan perhatian, solusi atau membantu pemerintah Aceh, malah sebaliknya membiarkan pengungsi Rohingya begitu saja.

“Jadi pemerintah pusat tutup mata terhadap permasalahan Rohingya yang terdampar di Aceh,” katanya.

Ironis memang, sikap penguasa kaum muslimin hari ini. Semua bermula dari racun nasionalisme yang ditanamkan musuh-musuh Islam ke dalam benak umat Islam wa bil khusus kepada para penguasanya yang sedang menikmati lezatnya kekuasaan dengan limpahan harta dari praktik oligarkinya.

Nasionalisme telah berhasil membunuh rasa ukhuwah Islamiyyah dan ikatan aqidah sesama umat Islam. Nasionalisme adalah racun yang mematikan yang meluluhlantakkan kesatuan dan persatuan kaum muslimin.

Aceh dengan slogannya “peumulia jame adat geutanyo” yang lahir dari ruh Islam faktanya hanya mampu menerapkannya pada momen momen tertentu seperti menghadapi wisatawan turis lokal dan mancanegara atau investor asing untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Namun dalam kasus pengungsi Rohingya seperti seruan ketua MPU atau apa yang sudah dilakukan dinas sosial, hanya bisa sebatas memberi bantuan ala kadarnya layaknya menjamu tamu selama 3 hari di rumah. Karena masyarakat dan pemerintah Aceh tidak punya wewenang lebih untuk melakukan penyelamatan kepada muslimin Rohingya yang bukan warga negara Republik Indonesia.

Dulu slogan “peumulia jame adat geutanyo” punya taring yang kuat karena diemban oleh pemerintahan Islam Aceh yang menjalankan hukum syariat secara kaffah termasuk menghadapi kedatangan kaum muslimin dari luar wilayahnya. Di dalam sistem pemerintahan Islam tidak dikenal sekat-sekat wilayah sebagaimana standar ganda hari ini. Di era globalisasi hari ini setiap negara tidak menolak terjadinya transaksi ekonomi, ilmu pengetahuan, budaya, informasi, dan lain sebagainya menembus batas sekat-sekat teritorial bangsa. Namun begitu terkait problem kaum muslimin seperti muslim Rohingya, kita langsung menutup sekat sekat itu atas nama nasionalisme.

Dalam darah bangsa Aceh mengalir darah berbagai bangsa di dunia. Ada yang dari keturunan Arab, India, Eropa, dan yang lainnya. Ini menunjukkan betapa Aceh dulu berbaur dengan berbagai etnis yang diikat dengan satu ikatan saja, bukan nasionalisme tapi aqidah Islam.

Nasionalisme yang ditanamkan ke dalam benak anak-anak generasi muslim oleh kafir penjajah setelah kegagalan mereka menempuh jalur perang fisik yang membangkitkan ruh jihad fisabilillah menemukan kunci untuk menghancurkan kekuatan Islam dan kaum muslimin. Ide nasionalisme jugalah yang telah meruntuhkan institusi kepemimpinan kaum muslimin daulah khilafah yang pernah menghilangkan sekat-sekat antar negara dan menyatukan kaum muslimin sedunia dan telah terbukti mampu memberi keamanan kepada setiap kaum muslimin yang meminta perlindungan kepadanya. Seperti kisah meriam lada sicupak maskot PKA kita baru-baru ini.

Begitu perih dan hinanya kondisi kita hari ini tersebab nasionalisme yang tidak kita campakkan. Cukup sudah derita ini dirasakan oleh semua muslim di dunia, apakah kita masih ingin bermanis manja dengan racun nasionalisme?

Wallahua’lam bishawwab. []

Sumber: Fitria Yusfani, MSi —Aktivis Dakwah Muslimah Peduli Negeri

About Author

Categories