Moderasi Beragama di Masa Kolonial

MUSTANIR.net – Dirjen Bimas Islam Kemenag menjelaskan bahwa konsep moderasi beragama berbeda dengan moderasi agama. Ia menegaskan, agama tidak perlu dimoderasi karena agama itu sendiri telah mengajarkan prinsip moderasi, keadilan, dan keseimbangan. Pernyataan Dirjen patut kita garis bawahi, walaupun kita juga tidak percaya begitu saja. Tentunya berangkat dari fakta-fakta saat ini, di mana pendegradasian terminologi ajaran-ajaran islam mulai marak. Jihad, jilbab dan dan terbaru tentunya khilafah, mulai dipersoalkan dan seolah-olah menjadi problem dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jika kita telusuri lebih jauh, gagasan moderasi beragama ini merupakan kelanjutan dari proyek sekulerisasi, liberalisasi, dan deradikalisasi yang dipaksakan oleh Barat. Kalau dulu ada JIL atau Jaringan Islam Liberal sebagai corongnya, namun meredup karena terlalu frontal. Kemudian muncul gagasan Islam Nusantara. Namun akhirnya juga tenggelam karena dinilai terlalu Jawa sentris dan juga identik dengan ormas tertentu.

Sebenarnya gagasan moderasi beragama yang mulai dikampanyekan saat ini, juga pernah dilakukan di masa lampau. Hanya beda aktor namun masih sama targetnya yaitu umat Islam. Berbeda dengan saat ini di mana kaum muslim berperan sebagai mitra sekaligus targetnya. Peristiwa ini terjadi pasca Perang Jawa, di mana pihak kolonial Belanda sangat trauma dengan gigihnya perlawanan muslim Jawa. Dari peristiwa ini, Belanda berusaha untuk menundukkan muslim Jawa. Pada kesimpulannya, Belanda ingin memisahkan Islam dari penduduk Jawa. Karena mereka berkeyakinan, bahwa gigihnya perlawan penduduk Jawa karena semangat jihad Islam yang dimilikinya.

Berangkat dari pemahaman ini, pasca Perang Jawa, pihak kolonial merasa perlu untuk mengambil langkah-langkah serius untuk menundukkan orang Jawa. Pihak kolonial menginginkan muslim Jawa bisa bersahabat dengan Belanda, dan syukur-syukur bisa dimurtadkan. Langkah yang diambil pertama kali adalah membentuk lembaga bahasa. Lembaga bahasa ini dibentuk untuk mendukung kebijakan tanam paksa. Agar para pejabat Belanda bisa secara langsung berkomunikasi dengan para petani pribumi yang diperasnya.

Lembaga bahasa ini juga akhirnya menghasilkan para Javanolog, para sarjana kolonial yang serius mengkaji tentang kejawaan. Mereka mengumpulkan dan mempelajari ribuan manuskrip Jawa kuno karya dari para pujangga keraton Jawa. Mereka akhirnya menemukan hal yang tidak terduga, bahwa ternyata karya-karya yang mereka teliti merupakan karya-karya yang bermuatan Islam. Bukan seperti dugaan mereka selama ini, bahwa di dalam benteng keraton yang kokoh itu tersimpan karya-karya bermuatan Hindu-Budha. Ini jelas meruntuhkan keyakinan Raffles yang termaktub dalam History of Java. Raffles memang meyakini bahwa agama orang Jawa adalah Islam, namun Islamnya sudah tercampur dengan adat lokal dan ajaran Hindu. Masyarakat Jawa, disebut oleh Raffles sebagai muslim yang hanya ada pada permukaan.

Dari temuan ini membuat Belanda semakin paham, bahwa Islamlah biang keladi mengapa orang Jawa tidak mau tunduk dengan pihak penjajah. Sehingga merasa perlu untuk melakukan langkah-langkah serius agar orang Jawa mau bersahabat dengan Belanda. Langkah pertama adalah memutus pendidikan tradisional priayi Jawa. Hubungan yang sangat erat antara keraton dengan pesantren diputus. Sudah menjadi tradisi bahwa anak-anak pejabat keraton sampai putra mahkota adalah para santri. Bahkan para pujangga keraton yang sering dituduh sebagai penganut kejawen ternyata juga produk pesantren.

Setelah berhasil mengisolasi dan memutus pendidikan kaum priayi Jawa, pelan tapi pasti mereka akhirnya mulai terbaratkan. Mereka berpakaian, berperilaku, dan bergaya hidup ala majikan Belandanya. Bahkan mendidik anaknya dengan gaya Belanda, maka tidak heran muncul generasi Kartini. Generasi perempuan Jawa yang tidak pernah ditemukan sebelum Perang Jawa. Ini yang menjadi temuan Nancy K Florida dalam penelitian yang dilakukannya selama puluhan tahun ketika meneliti manuskrip kuno Jawa.

Puncak dari upaya Belanda untuk memisahkan Jawa-Islam adalah ketika diterapkannya kebijakan politik etis pada awal abad 20, terutama dalam bidang pendidikan. Priayi Jawa bukan hanya berperilaku dan bergaya hidup Barat, tapi mereka akhirnya menerima ide-ide Barat. Dan inilah yang telah melahirkan generasi Jawa yang sekuler. Dan ini juga yang telah mengubah corak perjuangan dalam menghadapi Belanda. Pada awal abad 20 ini, perjuangan yang dulunya dilandasi semangat keislaman, mendapat saingan dengan hadirnya ide-ide Barat dalam corak perjuangannya. Ide-ide seperti nasionalisme akhirnya mendominasi corak perjuangan, bahkan sampai nanti zaman kemerdekaan.

Upaya untuk mendegradasi dan mendesakralisasi ajaran-ajaran Islam di kalangan tradisionalis juga dilakukan Belanda dengan dibuatnya Babad Kediri. Dari Babad Kediri inilah yang nantinya memunculkan dua karya yaitu Serat Darmogandhul dan Suluk Gatholoco. Dua karya sastra inilah yang sangat melecehkan ajaran-ajaran Islam, menghina para ulama, dan bahkan melecehkan Nabi Muhammad. Kedua serat ini sampai saat ini masih eksis dan sering dijadikan rujukan kaum rahayu yang tidak rela dengan keberadaan Islam di pulau Jawa.

Kebijakan yang telah dilakukan Belanda didasarkan pada sebuah realitas yang telah berlaku beberapa abad yang lalu di tanah Jawa, bahwa Islam telah menyatu bahkan menjadi sebuah identitas baru. Keberhasilan dakwah islam di tanah Jawa yang dilakukan tanpa kekerasan telah mengubah identitas penduduk Jawa. Ini yang disebut oleh Ricklefs sebagai kesadaran identitas, bahwa menjadi orang Jawa berarti menjadi muslim. Bukan menjadi Jawa lagi ketika orang Jawa murtad alias keluar dari Islam. Apa yang dilakukan saat ini dengan mempropagandakan moderasi beragama sebenarnya punya kemiripan dengan apa yang telah dilakukan pihak kolonial Belanda.

Kebijakan Belanda yang menginginkan orang Jawa bisa bersahabat dengan Belanda sebenarnya sama dengan konsep moderasi beragama. Di mana umat Islam dipaksa untuk menerima dan mendukung nilai-nilai demokrasi seperti HAM, pluralisme, kebebasan beragama, dan kesetaraan gender. Dan umat Islam yang menolak nilai-nilai tersebut akan dicap sebagai radikal dan intoleran.

Kita bisa mencontoh perlawanan yang dilakukan oleh para pujangga Jawa di bawah panglimanya, Ranggawarsita. Rangga yang berarti panglima dan warsita yang bisa diartikan wacana atau pemikiran. Di bawah komando Ranggawarsitalah, perang pemikiran dilancarkan untuk mengadang upaya kolonial untuk memisahkan Islam-Jawa. Inilah yang harus umat Islam lakukan, bukan malah bergabung menjadi mitra kolonial. []

Sumber: Ni’mat al-Azizi

About Author

Categories