Berikut Kunci Menggali Kecerdasan Menurut Ustadz Adi Hidayat

Berikut Kunci Menggali Kecerdasan Menurut Ustadz Adi Hidayat

MUSTANIR.COM, JAKARTA — Ustaz Adi Hidayat, pendiri Quran and Sunnah Solution, memiliki ciri khas tersendiri saat mengisi kajian. Ustaz lulusan Fakultas Dirasah Al Islamiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta ini seringkali memberikan dalil apakah Quran, hadis atau kitab fiqih, dengan menyebutkan isi, arti, hingga letak kalimat tersebut di dalam kitab. Tak jarang, Ustaz Adi menyebutkan halaman ke berapa dalil yang disebutkannya tersebut.

Menurut ustaz yang sempat meneruskan pendidikan di Libiya ini, semua manusia punya potensi kecerdasan yang diturunkan lewat Nabi Adam. Dia pun mengutip QS Al Baqarah ayat 31. “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!’

Merujuk pada ayat tersebut, Ustaz Adi menjelaskan, Allah SWT telah mengajarkan kepada Nabi Adam pengetahuan. Untuk manusia biasa yang bukan Nabi diberikan potensi untuk cerdas. Syaratnya, lewat belajar sehingga kecerdasan itu akan keluar. “Enggak ada manusia yang bodoh. Penelitian bilang 95 persen manusia itu cerdas, lima persen sisanya jenius,”ujar dia saat berbincang dengan Republika di Masjid Al Ihsan, Bekasi, belum lama ini.

Ustaz Adi pun menjelaskan, ada beberapa kunci yang bisa dilakukan untuk menggali kecerdasan. Caranya adalah meningkatkan takwa dan menjauhi maksiat. Menurut dia, orang-orang shaleh seperti Ibnu Abbas dan Abu Hurairah memiliki ingatan yang tajam karena kerap meningkatkan takwa kepada Allah SWT. “Ada yang lebih istimewa lagi. Anugerah Allah SWT. Kalau Allah sudah memberi anugerah maka tidak ada batas,”kata dia.

Ustaz kelahiran Pandeglang ini mengungkapkan, apa yang dipraktikkan dalam kajian bukan sesuatu yang istimewa. Dia mengaku hanya melihat perjalanan para nabi, sahabat dan orang-orang shaleh. Dari mereka, Ustaz Adi pun mencoba mengambil rumus untuk dipraktikkan di dalam hidup.

Dia pun mengatakan,  kebiasaannya mengutip referensi dengan menyebutkan detail letak kalimat dalil tersebut, berlangsung otomatis saja. Intinya, kata dia, meningkatkan takwa dan menjauhi maksiat. “Cinta (dengan Alquran) itu menyatu. Enggak mau terpisah,” kata dia. (rol/rs)

Categories