Pangkal Umat Islam Berpecah Belah

MUSTANIR.netلَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ

“Janganlah (ada) satu pun yang shalat Asar kecuali di perkampungan bani Quraizhah.”

(HR Bukhari)

Hadits di atas adalah dalil masyhur tentang adanya perbedaan di kalangan umat Islam sejak periode kenabian, yang terjadi di kalangan sahabat dan tidak dipersoalkan oleh Baginda Rasulullah ﷺ. Saat itu para sahabat terbelah menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama menyegerakan perjalanan agar bisa sampai di perkampungan bani Quraizhah dan melaksanakan sholat Asar disana.

Kelompok ke dua menyegerakan melakukan sholat Asar dan melaksanakannya di perjalanan saat di Madinah, lalu segera melanjutkan perjalanan menuju perkampungan bani Quraizhah.

Saat itu Rasulullah ﷺ mengutus pasukan kaum muslimin untuk melakukan pengepungan di perkampungan bani Quraizhah, karena bani Quraizhah melanggar konstitusi Madinah (Piagam Madinah), dengan melakukan pengkhianatan, berkerja sama dengan pasukan koalisi musuh yang dipimpin kafir Quraisy.

Karena berbeda pendapat, para sahabat memberanikan diri untuk menyampaikan semua itu kepada Nabi Muhammad, khawatir apa yang dilakukannya terjerumus pada kesalahan. Namun beliau tidak menegur dan memarahi seorang pun dari mereka. Rasulullah mendiamkan, tanda membenarkan amaliyah kedua kelompok sahabat ini.

Dalam konteks ijtihad, kaum muslimin memang tidak mungkin memiliki kesatuan pendapat. Karena ijtihad terjadi pada dalil yang sifatnya dzanni (dugaan), baik dari ayat al Qur’an yang mutasyabihat maupun dari al hadits yang bersifat ahad yang memiliki makna mutasyabihat.

Ijtihad dan perbedaan pendapat berangkat dari dua sebab.

• Pertama, dari sumber (tsubut) yang sifatnya dzanni. Hadits ahad adalah sumber yang menimbulkan perbedaan pandangan tentang kesahihannya, sehingga menimbulkan ijtihad.

Sedangkan al Qur’an dan hadits mutawatir bersifat qot’i. Tidak ada ijtihad (perbedaan pandangan) dari dua sumber ini.

• Ke dua, dari makna penunjukan (dilalah) yang bersifat dzanni. Baik redaksi itu berasal dari al Qur’an maupun dari al hadits.

Karena itu jika ada perbedaan pandangan tentang masalah ijtihadiyah karena dua sebab di atas, maka kaum muslimin harus saling menghargai dan tidak boleh mencela salah satu di antara lainnya. Apalagi, memvonis sesat dan kafir.

Kaum muslimin harus beramal berdasarkan apa yang dia yakini sebagai ijtihadnya, atau apa yang dia bertaklid pada ijtihad yang diikutinya, kecuali dalam 4 (empat) keadaan.

• Pertama, seorang muslim wajib meninggalkan ijtihadnya atau apa yang dia ikuti atas suatu ijtihad, mana kala dalil yang menjadi sandaran ijtihad terbukti lemah, dan ijtihad lainnya lebih kuat.

Misalnya dia mendapati hadits yang dia rujuk terbukti dloif, sementara hadits ijtihad lainnya sahih. Dia harus meninggalkan pendapatnya (ijtihad) karena sejatinya kaum muslimin terikat pada dalil. Jika terbukti dalilnya lemah, maka dia harus meninggalkan pendapat yang bersandar pada dalil yang lemah, dan segera beralih pada pendapat yang dalilnya lebih kuat (rajih).

• Ke dua, seorang muslim wajib meninggalkan pendapatnya apabila seorang khalifah telah menetapkan suatu ijtihad sebagai perintah yang berlaku sebagai kebijakan dan hukum publik. Karena dalam hal ini berlaku kaidah:

“Amrul imam yarfa’ul khilaf.” (Perintah imam/khalifah menghilangkan perbedaan pendapat)

Misalnya, saat terjadi perbedaan pendapat mengenai nisab zakat yang dikonversi dalam berat (gram). Ketika khalifah menetapkan 20 dinar setara dengan 75 gram emas, maka nisab inilah yang berlaku sebagai hukum publik. Meskipun ada perbedaan mengenai konversi, tetapi setelah khalifah menetapkan nisab emas adalah 75 gram, maka setiap muslim yang memiliki emas, yang sampai pada haul setahun dengan jumlah minimal 75 gram, maka dia harus membayar zakat 2,5%.

Tidak boleh ada warga negara yang menolak membayar zakat, dengan dalih menurutnya konversi 20 dinar emas adalah setara dengan 93,5 gram emas. Sehingga ketika dia memiliki emas 80 gram belum wajib zakat, karena belum memenuhi nisab.

• Ke tiga, seorang muslim boleh dan lebih utama meninggalkan ijtihadnya atau apa yang dia ikuti atas suatu ijtihad, mana kala dia melihat mujtahid lainnya lebih menguasai dalam masalah yang berkenaan.

Misalnya seorang yang bermazhab Syafi’i meninggalkan pendapatnya dalam masalah ekonomi, dan mengambil mahzab Hanafi yang memang banyak ijtihad di bidang ekonomi.

Atau contoh konkretnya, seorang yang berpendapat atas akad sewa lahan pertanian (muzaro’ah) mubah, meninggalkan pendapatnya karena ada pendapat lain yang mengharamkan (karena termasuk riba), yang lebih menguasai masalah dan mendetail dalilnya.

• Ke empat, seorang muslim boleh dan lebih utama meninggalkan ijtihadnya atau apa yang dia ikuti atas suatu ijtihad, mana kala dia melihat ada kepentingan persatuan dan kemaslahatan lebih besar berupa menjaga ukhuwah, dengan meninggalkan pendapatnya.

Contoh konkretnya, seorang yang beramal dengan qunut saat sholat Subuh, meninggalkan qunutnya saat mengimami sholat jama’ah yang terbiasa tidak menggunakan qunut Subuh. Atau dia memilih menjadi makmum dan menjalankan sholat tanpa qunut Subuh, mengikuti imam.

Atau kebalikannya, seorang yang tidak menggunakan qunut Subuh, menggunakan qunut Subuh saat mengimami makmum yang terbiasa sholat subuh menggunakan qunut. Atau dia memilih menjadi makmum dan menjalankan sholat dengan qunut Subuh, mengikuti imam.

Sebenarnya perpecahan umat Islam dalam masalah ijtihadiyah ini pangkalnya adalah karena tiadanya khilafah. Karena tidak ada khilafah, umat Islam disibukkan dengan perbedaan yang sebenarnya semua pendapat memiliki argumentasi syar’i, seperti soal musik, soal cadar, soal isbal, dan soal-soal lainnya yang sudah berbeda sejak generasi terdahulu dan akan terus berbeda hingga generasi selanjutnya.

Karena tiada khilafah, kaum muslimin sibuk dengan perbedaan itu dan melupakan sesuatu yang wajib dan disepakati; seperti wajibnya menegakkan hudud, qisos, diyat, ta’jier, mukholafah; haramnya riba, haramnya zina, haramnya khamr, dan berbagai maksiat lainnya, yang saat ini sudah sangat merajalela. Agar kaum muslimin tidak berbecah belah, maka kaum muslimin harus mengambil tindakan.

• Pertama, menyibukan diri untuk menunaikan kewajiban yang sudah pasti qot’i, terutama penegakan syariat Islam dalam naungan khilafah. Karena tidak ada thariqah lain untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah, kecuali dengan institusi khilafah.

• Ke dua, menghindari perdebatan publik yang terkait ijtihadiyah, cukup mempelajari hukum syara’ terkait dengannya dan mengambil salah satu ijtihad untuk beramal. Karena kita dituntut untuk beramal, bukan berdebat.

• Ke tiga, mengajak kaum muslimin fokus pada perdebatan politik, baik membahas fakta politik akibat tidak diterapkannya syariah seperti penguasa SDA oleh asing, cengkeraman dolar, penjajahan Israel atas Palestina, politik sekuler yang dagang babi pasca kalah Pilpres, bahaya UU Omnibus Law, revisi UU Kementerian bermotif bagi-bagi menteri, dan fakta politik lainnya, termasuk upaya politik untuk mengembalikan khilafah, seperti membahas sumber APBN khilafah, potensi Indonesia menjadi negeri yang tempat tegaknya khilafah, syarat untuk menjadi wilayah yang dapat tegak khilafah, dll.

• Ke empat, bersifat toleran terhadap sesama, meskipun berbeda mahzab, karena semua saudara muslim. Yang jelas musuh Islam adalah Amerika, Inggris, Rusia, Barat kapitalis, Zionis Yahudi, serta para penguasa antek yang selalu menzalimi umat Islam.

Jadi, jangan menjadikan saudara muslim sebagai musuh meski beda mahzab, kendati mereka memusuhi kita. Ingat! Jadikan musuh sebagai musuh, perlakukan saudara sebagai saudara. Itu adalah kunci agar Anda dipercaya dan dapat mengemban amanah kepemimpinan terhadap umat ini. []

Sumber: AK Channel

About Author

Categories