MUSTANIR.netSebuah Bahan Obrolan bersama Para Pecinta Tauhi

Sekali-kali, kita beralih dulu dari tema obrolan soal manhaj, bid’ah, dll. Mari sejenak kita mendaratkan pikiran ke “alam dunia” yang sejatinya sangat memengaruhi kondisi pelaksanaan agama dan keadaan umat Islam di dunia.

Ini soal hubungan antara minyak Timur Tengah dengan dolar Amerika yang akan menjelaskan mengapa sampai ada pangkalan militer dan alutsista AS di negara-negara Arab, terutama Saudi. Saudi dan negara-negara Teluk itu sebenarnya telah berjasa dalam ikut menguatkan dolar AS di era 70-an dan mempertahankan dominasinya.

Ceritanya begini: pada tahun 70-an, dominasi dolar AS hampir ambruk karena nilainya mengalami goncangan. Sejak tahun 1944 (perjanjian Bretton Woods), sekutu Amerika sepakat menjadikan dolar sebagai mata uang dunia. Mereka sepakat untuk mematok nilai mata uang mereka dengan dolar, sementara dolar dipatok dengan emas.

Kok bisa?

Ya, karena Amerika memiliki cadangan emas terbesar dan dinilai mampu memberi jaminan bahwa uang bergambar presiden AS itu benar-benar dapat ditukar dengan emas dalam transaksi antar bank sentral. Diputuskan bahwa setiap 35 dolar AS senilai dengan 1 troy ounce emas (31,105 gr; maka 1 dolar dijamin sekitar 0,89 gr emas). Singkatnya, sistem ini berhasil menciptakan stabilitas moneter dunia.

Namun, pada tahun 60-an, didorong oleh kebutuhan internal yang besar dan pembiayaan perang Vietnam, AS mulai mencetak dolar secara ugal-ugalan. Jumlah dolar yang beredar dicurigai tidak lagi seimbang dengan jumlah cadangan emas yang dimiliki AS.

Artinya orang mulai khawatir, jangan-jangan dolar yang mereka punya akan menjadi kertas belaka tanpa nilai karena tidak benar-benar dijamin dengan emas. Ini menimbulkan krisis kepercayaan dan memicu inflasi global.

Dalam situasi demikian, hal menghebohkan dilakukan oleh Prancis. Presiden de Gaulle mengirim kapal ke AS untuk menukar dolar simpanan mereka dengan emas AS sesuai isi perjanjian Bretton Woods. Entah benar atau tidak, rumor yang beredar besarnya mencapai 150 juta dolar.

Aksi Prancis memperparah tingkat kepercayaan kepada dolar. Penukaran besar-besaran itu membuat cadangan emas AS terkuras. Jika terus terjadi, AS akan kehabisan emas.

Kondisi ini mendorong Presiden Nixon memutus hubungan antara emas dengan dolar AS pada 15 Agustus 1971. Ini yang disebut “Nixon shock”. Sejak itu, dolar Amerika hanyalah kertas hijau bergambar muka orang AS, tak bisa ditukar dengan emas, nilainya bergantung pada kekuatan kepercayaan dan neraca perdagangan AS. Akibatnya, dolar melemah, tak sekuat sebelumnya. Dominasi dolar di dunia internasional benar-benar terancam.

Di tengah situasi genting ini, Henry Kissinger adalah salah satu tokoh yang mengusulkan pendekatan diplomasi ke Saudi sebagai solusi. Itu akan mengubah bencana menjadi karunia bagi AS. Pasalnya, Saudi adalah negara kaya raya karena penjualan minyak.

Namun, Saudi punya kelemahan: mereka tidak punya sistem pertahanan yang kuat di tengah situasi dunia kala itu yang sangat rentan; Saudi memerlukan pembangunan infrastruktur dan modernisasi di segala bidang agar tampil kekinian; Saudi membutuhkan “lahan parkir” yang aman dan menguntungkan bagi dananya yang jauh melebihi pengeluarannya.

Inilah celah bagi masuknya penawaran AS.

AS datang ke Saudi dengan janji memberikan jaminan keamanan bagi Saudi. Artinya, militer AS dan persenjataannya akan “mengamankan” Saudi dan segala kekayaannya dari kerapuhan keamanan dunia; AS memberi fasilitas finansial paling menguntungkan dan aman bagi dana Saudi dengan mengalirkannya ke AS, terutama melalui surat utang pemerintah AS; perusahaan-perusahaan AS juga akan menangani berbagai proyek infrastruktur dan memodernkan wajah Saudi.

Sementara yang diinginkan AS dari Saudi terutama adalah agar Saudi mau menjual minyaknya dengan dolar AS, tidak dengan mata uangnya sendiri, apalagi mata uang negara lain. Secara resmi, kerja sama ini dilakukan di bawah payung US-Saudi Joint Commission on Economic Cooperation. Kemudian, negara-negara Teluk lain ikut memasuki ekosistem petrodollar ini karena keuntungan strategis.

Kenapa AS ingin—secara tidak langsung—menghubungkan dolarnya dengan minyak?

Krisis minyak tahun 1973—akibat sejumlah negara Arab menghentikan ekspornya ke negara-negara pendukung Israel—menjelaskan dengan sangat nyata bahwa minyak merupakan barang yang sangat dibutuhkan dunia. Semua negara ternyata kelimpungan jika tidak mendapat suplai minyak.

Setelah dolar dipisahkan dari emas dan kehilangan nilai nyatanya, maka dolar perlu dihubungkan—walau secara tidak langsung—dengan komoditas yang sangat berharga. Dan minyak adalah barang yang sempurna.

Jika produsen-produsen minyak hanya mau menjual minyak mereka dengan dolar, dengan sendirinya semua negara akan membutuhkan dolar demi mendapatkan minyak. Tanpa emas pun, dolar akan menjadi berharga, akan dicari, akan punya kekuatan seolah nyata, bukan sekadar kertas.

Di samping itu, sejauh kebutuhan minyak masih sangat besar, AS akan bisa mencetak dolar secara lebih longgar. Negara lain harus membangun industri, teknologi, bekerja keras untuk mendapatkan dolar dan minyak, sementara AS mencetak dolar tanpa terlalu mengkhawatirkan inflasi—sejauh angkanya masih masuk akal.

Mata uang negara lain akan tertekan hebat jika impornya jauh melebihi ekspor, namun AS tidak terlalu khawatir akan hal itu, karena meski impor AS besar, dolar masih tetap kuat—salah satunya karena dolar digunakan di mana-mana untuk membeli minyak.

Ingat soal kekayaan Saudi yang meluap-luap dan kemudian dialirkan ke AS?

Itu nyata. Dunia menyebutnya “petrodollar recycling” (daur ulang petrodollar). Ini sangat membantu bagi ekonomi Amerika, meski bukan satu-satunya pegangan AS. Celakanya, dana besar ini tentu saja bercampur aduk, mengalir ke berbagai proyek dan investasi, termasuk industri militer AS.

Jadi, Saudi dkk. juga—sedikit/banyak—ikut andil dalam menjadikan AS negara terkuat secara ekonomi dan militer, yang memungkinkan bagi AS untuk menjual persenjataannya ke Saudi dan negara-negara Teluk, termasuk menyediakan alat-alat yang menghancurkan Gaza beserta penduduk di dalamnya.

Yang jelas, keamanan dan stabilitas ekonomi Saudi telah lama “menyatu” dengan AS. Itu yang memberi AS kekuatan diplomasi atas Saudi. Tahun 1991, Saudi mengizinkan ratusan ribu tentara AS berada di wilayahnya dalam perang melawan Irak; saat invasi ke Irak 2003, Saudi tidak terlibat secara langsung, tapi mengizinkan penggunaan fasilitas militernya dan wilayah udaranya untuk AS; atas dorongan AS, jauh sebelum persitiwa 7 Oktober 2023, Saudi telah menjajaki proses normalisasi dengan Israel, meskipun kemudian terhambat oleh genosida di Gaza yang menjadikan langkah itu tidak populer di mata publik.

Ini kalau mau dibahas masih panjang. Akhirnya saya cuma mau bilang: ketergantungan dalam keamanan dan ekonomi terhadap negara seperti AS akan menyandera kita.

Jangan harap Saudi akan bisa menjadi negara yang bebas membela Islam dan kaum muslimin, sementara militer AS ada di rumah mereka, uang Saudi banyak parkir di AS, dan komponen-komponen senjata Saudi ada di tangan AS pula.

Itulah mengapa syariat Islam melarang kaum mukmin untuk menempatkan orang-orang kafir sebagai auliya’; karena di bawah dominasi AS, nyatanya umat Islam menjadi tidak bebas untuk tegak berdiri memenuhi tuntutan Islam. []

Sumber: Ramane Ranu

About Author

Categories