China Bangun Infrastruktur di Papua Nugini, Australia Mulai Khawatir

Presiden China Xi Jinping bertemu dengan PM Papua Niugini di KTT APEC Vietnam belum lama ini. foto kompas


MUSTANIR.COM, PORT MORESBY — Pemerintah Papua Nugini (PNG) menandatangani sejumlah kesepakatan pembangunan infrastruktur dengan China sebagai bagian dari kebijakan One Belt, One Road.

Hal ini, menurut Pemerintah PNG, dimaksudkan untuk menciptakan “koridor perdagangan yang lebih efisien antara Asia Pasifik dan Australia Barat”.

“Sejalan dengan berkembangannya inisiatif (One Belt, One Road) ini, kita melihat perbaikan infrastruktur di banyak negara berkembang,” demikian pernyataan kantor Perdana Menteri PNG Peter O’Neill, Senin (20/11/2017).

Terdapat tiga kesepakatan yang ditandatangani dengan tujuan untuk meningkatkan pertanian, transportasi, serta pengiriman barang dan jasa ke wilayah terpencil PNG.

Selain itu, ada kesepakatan yang ditujukan untuk membantu masyarakat agar terlibat lebih aktif dalam perekonomian.

“Saya berterima kasih kepada Pemerintah China dan China Railway Company atas komitmen mereka terhadap Papua Niugini,” kata PM O’Neill.

“Dukungan Anda untuk Papua Niugini akan diingat untuk jangka panjang,” tambahnya.

Pengumuman kesepakatan kedua negara tersebut disampaikan di tengah kekhawatiran oposisi Australia mengenai hilangnya pengaruh negara ini di Pasifik karena digantikan kekuatan dunia lainnya, terutama China.

Juru bicara oposisi urusan pertahanan Richard Marles dalam pidatonya ini di Lowy Institute menyatakan kawasan Pasifik merupakan “blind spot” keamanan terbesar Australia.

Dia menambahkan, adanya ketakutan menjadi “kekuatan kolonial yang angkuh” telah menghambat Australia untuk terlibat secara efektif di Pasifik.

Berdasar informasi yang diperoleh ABC, banyak tokoh senior bidang keamanan nasional Australia menentang gagasan tersebut. Mereka meyakini tidak bijaksana jika semakin tergantung pada China.

Kepada program Pacific Beat yang ditayangkan ABC, Marles menjelaskan, meski Australia memiliki “komitmen signifikan” di Pasifik, namun Australia perlu berbuat lebih banyak.

“Saya ingin sekali melihat perubahan dimana Pasifik menjadi yang utama dalam pemikiran dan strategi kita sebagaimana hubungan utama lainnya, seperti dengan Amerika Serikat dan China,” katanya.

Marles juga mengumumkan sebuah “Rencana Pasifik” dari Partai Buruh untuk sedapat mungkin menjadi “sahabat terbaik” negara-negara di kawasan.

“Membuat rencana dengan Pasifik juga akan memberitahu seluruh dunia tahu bahwa kita serius dengan tanggung jawab kita di Pasifik dan ingin ikut hadir,” kata Marles.

“Sebuah rencana Pasifik akan menunjukkan bahwa negara tersebut adalah Australia,” tambahnya. (kompas.com/21/11/2017)

Categories