Dahsyatnya Ḥalaqah yang Talqiyan Fikriyan (Diterima dengan Proses Berpikir)

MUSTANIR.netḤalaqah adalah pembinaan, bukan sekadar ta’lim.

Ada perbedaan yang signifikan antara ta’lim (di sekolah) yang mengajarkan ilmu agar anak didik mengerti dan bisa mengerjakan soal ujian, dengan pembinaan di mana para binaan diharapkan bisa mafhum terhadap realitas kehidupan. Kemudian dapat menyikapi realitas tersebut dengan sudut pandang Islam, dengan bermodalkan materi-materi kajian yang berasal dari Islam mabda (Islam sebagai way of life).

Karena itu ketika mengikuti perḥalaqahan mutlak dibutuhkan konsentrasi yang tinggi dan keaktifan berpikir, mencerna setiap pemahaman yang disampaikan dan selalu mengaitkan dengan realitas kehidupan yang ada di sekelilingnya (dalam skala personil, keluarga, masyarakat, negara). Inilah yang menjadikan ḥalaqah senantiasa hidup dan dinamis sejalan dengan kedinamisan kehidupan masyarakat secara nyata.

Ujian para binaan juga tidak sekadar bisa menjawab dan menjelaskan pemahaman-pemahaman secara lisan atau tulisan. Lebih jauh lagi, sesungguhnya tanda para binaan ini telah lulus adalah “mampu menyelesaikan problem kehidupan ini dalam skala individu, keluarga, masyarakat, dan ria’yah/pengaturan negara terhadap rakyat, dengan solusi Islam”. Ini dalam tataran akliyah (pemikiran).

Selanjutnya dalam tataran sikap jiwa (nafsiyah), para binaan juga mampu menjadikan segala kecendrungan dirinya sejalan dengan apa yang dipahaminya. Apa yang disukai dan diperintahkan dalam Islam, maka dengan segera mereka berupaya untuk melaksanakannya, meski ada risiko yang harus ditanggungnya.

Demikian pula, apa yang dibenci dan dilarang dalam Islam, maka mereka bersegera untuk meninggalkannya, meski harus mengalahkan kesenangan manusiawinya. Semua mereka lakukan dengan kesadaran penuh sebagai bentuk pengabdian yang sesungguhnya sebagai hamba yang berharap ridho-Nya, dan ingin masuk surga.

Lalu, mana kala perintah dan larangan Allah subḥānahu wa taʿālā tersebut berkaitan dengan hukum-hukum yang semestinya berlaku di masyarakat oleh penguasa, maka tentu saja dengan kesadaran penuh mereka bergerak, berda’wah menyampaikan pada masyarakat agar masyarakat menjadi paham. Dan selanjutnya mengajak masyarakat bersama-sama pula berupaya agar hukum tersebut bisa diterapkan oleh negara, dengan mengangkat seorang kepala negara (khalīfah) yang akan menerapkan Islam kaafah. Dalam institusi negara yang sesuai dengan tuntunan syar’i, yaitu daulah khilāfah Islamiyah.

Dalam perḥalaqahan ini, 3 unsur tersentuh secara bersamaan; aqliyah, nafsiyah dan pergerakan. Inilah mengapa target dari ḥalaqah adalah pergerakan, tidak sekadar paham secara individual. Sebab, semua hukum Allah dalam tataran apa pun wajib diterapkan. Dan di saat belum bisa sempurna diterapkan karena belum ada institusi negara dan pemimpin yang layak untuk menerapkannya, maka pergerakan inilah yang menjadi ruh, energi yang dihasilkan dari ḥalaqah.

Demi menghasilkan ḥalaqah yang seperti ini, maka dibutuhkan keseriusan, azam yang kuat, ikhlas, dan tentu saja tidak malas berpikir.

Ketika ḥalaqah terjiwai, menjadi bagian penting dalam kehidupan kita, yang sangat kita nanti dan terasa bahagia ketika hadir dalam majelis ḥalaqah, memuaskan akal dan menentramkan jiwa. Maka dari majelis-majelis seperti inilah akan lahir pergerakan yang shohih dan membawa perubahan menuju kehidupan Islam.

Yassarollahu umurona fii tatsqiifi halqotinaa. Aamiin. Allahumma Aamiin. []

Sumber: Ustadzah Reta Fajriah

About Author

2 thoughts on “Dahsyatnya Ḥalaqah yang Talqiyan Fikriyan (Diterima dengan Proses Berpikir)

  1. Dzięki programowi monitorowania rodziców rodzice mogą zwracać uwagę na czynności wykonywane przez ich dzieci na telefonie komórkowym oraz łatwiej i wygodniej monitorować wiadomości WhatsApp. Aplikacja działa cicho w tle urządzenia docelowego, nagrywając wiadomości konwersacyjne, emotikony, pliki multimedialne, zdjęcia i filmy. Dotyczy każdego urządzenia z systemem Android i iOS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories