Demonstrasi Dalam Kaidah Fiqih Bagian 4 (End)

Demonstrasi Dalam Kaidah Fiqih Bagian 4 (End)

Dalil-dalil dari As-Sunnah 

Adapun dalil-dalil dari As-Sunnah yang menegaskan kaedah fikih di atas antara lain adalah:

[1]. Hadits Sa’ad bin Abi Waqash RA:

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ فِي الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا، مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ عَلَى الْمُسْلِمِينَ، فَحُرِّمَ عَلَيْهِمْ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ»

Dari Sa’ad bin Abi Waqash RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya orang muslim yang paling besar dosanya terhadap kaum muslimin adalah seorang muslim yang menanyakan sesuatu hal yang tidak diharamkan atas kaum muslimin, lalu sesuatu hal tersebut diharamkan atas kaum muslimin oleh sebab pertanyaan darinya.” (HR. Bukhari no. 7289 dan Muslim no. 2358)

Hadits ini menunjukkan bahwa sesuatu itu tidak menjadi haram sampai ada dalil syar’i yang mengharamkannya.

[2]. Hadits Ibnu Abbas RA:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: «كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَأْكُلُونَ أَشْيَاءَ وَيَتْرُكُونَ أَشْيَاءَ تَقَذُّرًا،» فَبَعَثَ اللَّهُ تَعَالَى نَبِيَّهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْزَلَ كِتَابَهُ، وَأَحَلَّ حَلَالَهُ، وَحَرَّمَ حَرَامَهُ، فَمَا أَحَلَّ فَهُوَ حَلَالٌ، وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ ” وَتَلَا {قُلْ لَا أَجِدُ فِيمَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا} إِلَى آخِرِ الْآيَةِ

Dari Ibnu Abbas RA berkata, “Orang-orang pada zaman jahiliyah memakan beberapa hal dan tidak memakan beberapa hal karena merasa jijik terhadapnya. Maka Allah SWt mengutus Nabi-Nya SAW, menurunkan kitab suci-Nya, menghalalkan apa yang dihalalkan-Nya, dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya. Maka apa yang Allah halalkan adalah halal, apa yang Allah haramkan adalah haram, dan apa yang Allah diamkan adalah boleh.” Ibnu Abbas RA lantas membaca ayat: “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali.” (QS. Al-An’am [6]: 145) (HR. Abu Daud no. 3800, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi. Imam Ibnu Katsir, Syaikh Syu’aib Al-Arauth, dan Nashiruddin Al-Albani menyatakan sanadnya shahih)

[3]. Hadits Abu Darda’ RA:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ حَلَالٌ، وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ، فَاقْبَلُوا مِنَ اللَّهِ عَافِيَتَهُ ; فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُنْ لِيَنْسَى شَيْئًا ” ثُمَّ تَلَا ” (وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا) “

Dari Abu Darda’ RA berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Apa yang Allah halalkan di dalam kitab-Nya adalah halal. Apa yang Allah haramkan di dalam kitab-Nya adalah haram. Adapun apa yang Allah diam atasnya adalah boleh. Maka terimalah dari Allah apa yang diperbolehkannya. Sebab, Allah tidaklah lupa sesuatu pun.“ Beliau SAW lalu membaca ayat, “…dan Rabbmu bukanlah pelupa…” (QS. Maryam [19]: 64) (HR. Ath-Thabarani dan Al-Bazzar. Al-Haitsami berkata: Sanadnya hasan)

[4]. Hadits Salman Al-Farisi RA:

عَنْ سَلْمَانَ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّمْنِ وَالجُبْنِ وَالفِرَاءِ، فَقَالَ: «الحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ، وَالحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ، وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ»

Dari Salman Al-Farisi RA berkata, “Rasulullah SAW ditanya tentang minyak samin, keju dan …. Maka beliau SAW bersabda, “Halal adalah apa yang Allah halalkan dalam kitab-Nya, haram adalah apa yang Allah haramkan dalam kitab-Nya, dan apa yang Allah biarkan adalah apa yang Allah perbolehkan.” (HR. Tirmidzi no. 1726, Ibnu Majah no. 3367, Ath-Thabarani, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi. Sanadnya lemah dan pendapat yang lebih benar menyatakan hadits ini mauquf (perkataan sahabat), bukan marfu’ (sabda nabi SAW). Namun hadits ini dikuatkan oleh dua hadits shahih yang telah disebutkan sebelumnya)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis : Fauzan

Referensi:

Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Asybah wa An-Nazhair fi Qawa’id wa Furu’ Fiqh Asy-Syafi’iyyah, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet. 1, 1403 H.

Muhammad Shalih Al-Utsaimin, Al-Qawa’id Al-Fiqhiyah, Alexandria: Darul Bashirah, cet. 1 1422 H.

Muhammad Shidqi Al-Burnu, Al-Wajiz fi Idhah Qawa’id Al-Fiqh Al-Kulliyah, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 4, 1416 H.

Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jami’ li-Ahkam Al-Qur’an, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 1, 1427 H.

Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, Irsyadul Haq Ila Tahqiqil Haq min Ilmil Ushul, Riyadh: Darul Fadhilah, cet. 1, 1421 H.

Categories