DOMBA YANG TERSESAT

Shaun-Sheep-full_3175019b

DOMBA YANG TERSESAT

(c) Fahmi Amhar

Saya disebut “domba yang tersesat” di agamanya Ah*k, saya nggak tersinggung tuh, bangga juga nggak sih. Jadi ya tidak perlu ada yang marah, kalau menurut agama saya, Ah*k itu kafir, artinya “orang yang menutup diri dari iman atas kenabian Muhammad”. Lha jelas Tuhannya beda, ya biarin saja, agamaku buatku, agamamu buatmu, agamanya buatnya. Inilah toleransi. Inilah indahnya kebhinekaan. Lebih dari di NKRI, di dalam Daulah Khilafah malah, “menyakiti kafir warga negara, itu sama seperti menyakiti Rasulullah”. Ini sangat dalam. Kayak apa dosanya menyakiti Rasulullah? Dan haram hukumnya memaksa mereka masuk Islam. Biarlah mereka berpikir dan menentukan pilihannya sendiri.

Adanya orang kafir di dunia, ini bukan mengolok-olok Allah yang “gagal bikin mahluk”, padahal “Allah sudah kerja keras”. Semua mahluk di dunia, iblis sekalipun, itu ciptaan Allah. Hanya Allah sengaja menguji manusia dan jin dengan dua jalan: durhaka atau taqwa. Bahwa ada yang durhaka, itu ya pilihan si mahluk itu, dan nanti ada konsekuensinya.

Jadi sebutan “kafir”, itu bukan olok-olok, baik bagi manusianya maupun bagi Allah. Itu hanya status saja, seperti “sarjana” atau “jejaka”. Status yang bisa berubah. Kalau statusnya “sarjana”, boleh masukin lamaran kerja kantoran. Kalau cuma “SD”, ya sudah, jadi pesuruh saja, atau tukang ojek 😀

Menyebut “SD” pada yang memang cuma lulus SD, itu bukan olok-olok, ataupun kita sombong. Boleh jadi, yang lulus SD itu diam-diam belajar tekun, ikut ujian paket B, C, lalu kuliah, dan sekian tahun kemudian jadi Doktor, atau Profesor, ya kenapa tidak ?

Kita menyebut status kafir, tentu saja pada yang memang kafir hingga saat ini. Artinya, orang kafir ini sasaran dakwah, kita doakan supaya dapat hidayah, seperti dulu Nabi berdoa agar Allah menguatkan Islam dengan Umar bin Khaththab atau Amr bin Hisyam (Abu Jahal). Selama masih kafir, ya statusnya itu tidak membolehkan diambil menantu, diangkat jadi pemimpin umum, ataupun disholatkan kalau meninggal. Tetapi kalau kemudian beriman, seperti Umar, ya tidak terhalang untuk jadi ahli sorga.

Kita juga tidak bermaksud menyombongkan diri, ini saya mukmin dan kamu kafir, saya ahli sorga situ ahli neraka. Bukan. Itu mah urusan Allah lah. Bisa saja yang sekarang kafir itu dapat hidayah lalu beriman dan mati syahid. Mungkin belum sempat beramal shaleh, bahkan shalat saja belum, tetapi kita yakin, karena mati syahid, dia insya Allah masuk surga tanpa hisab. Sementara, kita yang hari ini beriman, belum tentu kita khusnul khatimah. Kita sangat khawatir, tiba-tiba kita dicabut nyawa saat sedang maksiat. Nauzubillah min dzalik.

Jadi kita fokus pada bagaimana menjalankan seruan Allah saja. Sekali lagi agamaku buatku, agamamu buatmu, agamanya buatnya. Wis ngono wae …

SUMBER

Categories