Dan Dimulailah ‘Ghazwul Fikri’ kepada Kaum Muslimin!

MUSTANIR.net – 25 Agustus 1248 Masehi, Raja Louis IX berangkat bersama 30 ribu tentaranya dari Prancis menuju Mesir untuk meletuskan Perang Salib ke tujuh. Kekalahannya dari mujahid Kesultanan Mamalik membuatnya berpikir untuk menyerang Kaum Muslimin dari medan pemikiran, bukan lagi medan militer.

Raja Prancis itu berangkat dari istananya dengan angkuh. Setiap jalan di Paris berhias gambarnya. Rakyat bersorak sorai menanti kabar baik dari ekspedisinya. Para uskup dan biarawan pun berbaris rapi melepas kepergiannya bersama pasukannya.

Apalagi Paus Innocent IV, pemimpin Kristen tertinggi di Eropa kala itu —yang menyuruhnya untuk memimpin pasukan gabungan seluruh Eropa untuk menyerang negeri Islam dan merebut Baitul Maqdis— berdiri di hadapannya dan menggelarinya sebagai kesatria suci yang dijamin surga.

Orang Eropa di Abad Pertengahan sampai zaman modern ini menamakan ekspedisi itu dengan; Perang Salib. Ya, Perang Salib yang ke tujuh!

la dan tentaranya berangkat ke Mesir untuk melumpuhkan negeri Islam dan merebut kembali kota Baitul Maqdis yang sebelumnya sudah dibebaskan oleh Sultan Shalahuddin al Ayyubi rahimahullah. Namun sedatangnya ia di Mesir, ternyata kaum Muslimin sudah siap menyambutnya dengan semangat jihad membara.

Perang meletus di sebuah kota kecil bernama al Manshurah di utara Mesir, antara 30 ribu pasukan Nasrani gabungan banyak negeri Eropa melawan tentara muslim Mesir —4.600 pasukan berkuda dan 6.000 pasukan pejalan kaki— yang dipimpin oleh Panglima Fakhruddin Yusuf.

Dan sebagaimana kamu tahu, jika umat Islam masih berpegang teguh pada agamanya, sekecil apa pun jumlahnya pasti akan menang dengan iman dan keyakinan.

Sudah kalah, Louis IX ditangkap pula. Bahkan, beberapa kali ia mencoba lagi untuk bertempur melawan umat Islam, namun tetap saja ia dan pasukannya menderita kekalahan yang telak. Hingga suatu hari ia mendapat ide, lalu mengumpulkan orang-orang pentingnya.

“Aku telah menemukan cara untuk menghancurkan umat Islam,” pekik Louis IX penuh kedengkian pada menteri-menterinya, “Kita tidak akan menang melawan mereka selama di hati mereka Islam masih bersemi!”

“Kamu sekalian tidak akan mampu untuk mengalahkan orang-orang Islam di medan peperangan fisik,” kata Louis IX pada raja-raja Eropa, panglima militer dan menteri-menterinya, “Pertama, kamu mesti merusak dulu pemikiran dan keyakinan mereka. Lalu, barulah kamu sekalian bisa menaklukkan mereka dengan mudah!”

Lebih jauh, dalam catatannya, Louis IX menuturkan, “Eropa harus menempuh jalan lain, yaitu jalan pemikiran dengan menebarkan keragu-raguan dan tafsir yang sesat di tengah umat Islam.”

Sejak saat itulah, musuh-musuh Islam mengenal sebuah taktik perang baru melawan umat Islam yang kuat di medan perang. Dengan taktik ini mereka berusaha memadamkan cahaya Allah di muka bumi. Taktik culas itu bernama; Perang Pemikiran, atau dalam istilah bahasa Arab adalah ‘Ghazwul Fikri’.

Syaikh Dr. Ali Muhammad Audah —pakar sejarah Perang Salib— juga pernah menulis bahwa Raja Louis IX sampai mengirim satu agen bernama William of Rubruquis agar datang pada kaisar Mongol, mengajaknya untuk masuk ke agama Kristen dan bekerjasama untuk menyerang kaum Muslimin.

Wallahu a’lam bis shawab. []

Sumber: Generasi Shalahuddin

Referensi:
1. Pengantar Ilmu Filsafat Universitas al Azhar Kairo, 2016.
2. كتاب الحملة الصليبية على العالم الإسلامي والعالم
3. فشل الغرب عسكريا وتخوفه من الإسلام

About Author

Categories