The evil hacker is working in front of his laptop

Paradoks Penolakan Rohingya

MUSTANIR.net – Saat ini isu penolakan Rohingya telah mencapai tingkat paradoks. Bagaimana tidak? Pengungsi Rohingya hari ini dibolak-balik tak tahu arah. Sehingga sikap penolakan kita terhadap etnis Rohingya bisa dikatakan sebagai paradoks. Masih bingung? Baik..

Jadi, paradoksnya itu begini. Dari sisi Rohingya, yang tega dan kejam itu hanyalah beberapa oknumnya saja. Sedangkan dari sisi kita, yang tega dan kejam itu justru berjama’ah. Sampai sini paham?

Dengan kita menolak mereka. Bayi, anak-anak, wanita, dan orang tua, hidupnya sangat jelas akan terancam. Apalagi mereka baru saja mendarat pasca terombang-ambing 17 hari di lautan ganas dengan persediaan makanan yang terbatas.

Maka, ketika melihat penolakan Rohingya yang terjadi beberapa hari lalu di Jangka, Bireun, Aceh. Jujur, aku sama sekali tidak merasa kaget ataupun heran ketika para pengungsi Rohingya membuang bantuan sembako yang kita berikan kepada mereka.

Sebab bantuan sembako yang kita berikan kepada mereka itu ibarat kain kafan yang disumbangkan oleh Saudi Arabia untuk Gaza.

Alih-alih diselamatkan, para pengungsi Rohingya justru seolah diminta untuk kembali meregang nyawa dengan mengarungi lautan ganas. Jika kita menjadi mereka, mungkin kita akan berteriak, “Woy tolong! Bukan sembako yang saat ini kami butuhkan.”

Sayang sekali, hanya karena rasa takut akan hal tak pantas yang belum tentu terjadi. Dengan tega kita menolak mereka. Bahkan kita menggeneralisasi bahwa seluruh etnis Rohingya itu buruk. Kejam banget!

Dan mirisnya yang menolak adalah sesama muslim. Tidak malukah kita jika ternyata ada orang kafir yang tertawa melihat perbuatan kita seraya berkata, “Bukankah orang muslim memiliki Tuhan dan percaya akan takdir, lantas mengapa mereka takut akan hal yang belum tentu terjadi?”

Apalagi berita tentang penolakan ini telah sampai pada kancah PBB. Artinya yang menanggung malu bukan hanya rakyat Aceh, melainkan seluruh kaum muslimin. Bahkan nama baik Islam tentu akan ikut tercoreng.

Maka sejatinya kondisi penolakan ini telah mencapai tingkat paradoks. Yang mana kita menganggap bahwa seluruh etnis Rohingya itu jahat, sehingga tidak pantas ditolong. Namun secara tidak langsung, dengan menolak dan membiarkan mereka terbolak-balik tanpa arah dan tujuan sebenarnya jugalah bentuk dari kejahatan.

Sekarang tanyakan pada diri kita masing-masing, sebenarnya siapa yang lebih tega dan kejam sekarang? Kita yang menolak mereka karena takut akan suatu hal yang belum tentu terjadi, atau para pengungsi yang baru saja tiba dan jelas-jelas sangat membutuhkan pertolongan ini?

Penolakan saja sebenarnya sudah jahat, belum lagi kalau kita lihat komentar fitnah yang keji dan kejam dari netizen Indonesia. Bukankah paradoksnya sekarang adalah kita yang menjadi penjahatnya?

Maka sudah seharusnya dalam kondisi seperti ini khilafah itu hadir untuk memutus siklus paradoks semacam ini yang tengah terjadi kepada ummat. Ketika khilafah hadir, jangankan ratusan atau ribuan Rohingya. Jutaan Rohingya pun akan ditampung. Bukan hanya ditampung, bahkan negeri yang mempersekusi mereka juga akan diperangi.

Begitu juga sikap khilafah terhadap kaum muslimin tertindas yang berada di segala penjuru dunia. Tidak membeda-bedakan seperti yang terjadi sekarang.

Kenapa harus khilafah? Sebab terbukti bahwa problematika Rohingya ini bukan lagi isu yang dapat diselesaikan oleh rakyat Aceh ataupun kelompok dan organisasi tertentu. Melainkan harus ada institusi besar setingkat negara yang menyelesaikannya.

Dan hal ini juga mustahil diselesaikan oleh negara yang masih menjunjung tinggi sikap nasionalisme, yakni menyekat-nyekat hati kaum muslimin. Itulah mengapa kehadiran khilafah sangat dibutuhkan saat ini. Logis?

Nah, tapi cara menegakkannya bagaimana? Caranya adalah iIkut metode Nabi ﷺ. Artinya harus mengaji. Maka temukanlah musyrif/ustad/guru yang paham serta kompeten soal tersebut.

Lalu jika sudah paham, baru kemudian didakwahkan ke seluruh kaum muslimin hingga semua orang setuju dengan ide mulia ini. Ketika mayoritas orang sudah menyetujui ide mulia ini, maka saat itulah khilafah akan ditegakkan dan seorang khalifah akhirnya dibai’at.

Insya Allah ini adalah cara paling afdhol jika kita mengaku peduli kepada ummat. Sebab ketiadaan khilafah mengakibatkan banyak hukum Islam jadi tidak bisa diterapkan. Sehingga jika ada hukum Islam yang tidak diterapkan, maka kita semua berdosa. Namun tidak berdosa insya Allah jika kita berjuang untuk menegakkannya.

Wallahu’alam, barakallahu fiikum. []

Sumber: Bang Eija

About Author

Categories