Hati Mereka Pun Sesungguhnya Mengakui Syahdunya al-Quran

Hati Mereka Pun Sesungguhnya Mengakui Syahdunya al-Quran

Suatu malam Abu Jahal keluar dari rumahnya. Ia bermaksud mendengarkan bacaan Al Quran Nabi Muhammad saw. secara sembunyi-sembunyi. Ia mengendap-endap di gelapnya malam menuju rumah Rasulullah saw. agar tak diketahui orang. Pada umumnya, para pemuka musyrikin Mekkah tahu kalau Nabi saw. biasa mengerjakan ibadah shalat tahajud di tengah malam. Dalam shalat malam, Nabi saw. biasa membaca surat-surat Alquran yang panjang-panjang. Saking panjangnya bacaan shalat, kaki beliau pernah bengkak karena lamanya berdiri. Nabi saw. membacanya secara tartil (perlahan namun jelas tiap huruf dan tajwidnya) hingga enak didengar.

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan tartil (perlahan-lahan). Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al Muzammil 1-6). Demikian salah satu firman Allah yang turun di awal-awal beliau menjadi rasul Allah.

Pada malam itu tidak hanya Abu Jahal mengendap-endap di dekat rumah Nabi saw. Tanpa sepengetahuan Abu Jahal, ternyata Abu Sufyan bin Harb dan Akhnas bin Syuraiq juga melakukan hal sama. Padahal mereka bertiga tidak pernah berjanji untuk menguping di dekat rumah Nabi. Tapi mereka punya feeling yang sama.

Menguping di Luar Rumah Nabi
Dengan duduk terpaku di samping rumah Nabi saw, mereka masing-masing mendengarkan ayat-ayat suci yang dilantunkan Nabi saw. dalam shalat beliau yang panjang. Mereka asyik menyimak hingga menjelang fajar. Kemudian mereka pulang dengan menempuh jalan yang berbeda satu sama lain.

Tak disangka akhirnya mereka bertemu di suatu jalan. Lalu mereka saling bertanya. Akhirnya mereka mengaku kalau menguping bacaan Alquran Nabi saw. Karena kuatir diketahui banyak orang, mereka sepakat untuk tidak saling menyebarkan kejadian ini. Mereka pun berjanji tak akan mengulanginya.

Namun, di malam berikutnya mereka masih tetap penasaran. Mereka tetap pergi. Masing-masing menyangka bahwa rekannya tak akan datang lagi. Begitu bertemu lagi, mereka pun berjanji lagi. Mereka kuatir kejadian ini membuat kekacauan di tengah warga Mekkah. Karena mereka termasuk tokoh yang disegani di mata penduduk Mekkah.

Mukjizat Al Quran memang punya daya pikat yang sangat kuat dalam jiwa. Di malam ketiga ketiganya tak tahan ‘berpuasa’ dari ayat-ayat Alquran. Terpaksa mereka melanggar janji lagi. Tetapi, ketika saling bertemu di pagi harinya mereka kembali berjanji untuk tidak mengulanginya.

Kemudian Akhnas mengambil tongkat di rumahnya dan bergegas ke rumah Abu Sufyan. “Coba ceritakan padaku, hai Abu Handhalah (julukan Abu Sufyan) tentang pendapatmu. Apa yang telah engkau dengar dari Muhammad?”

Abu Sufyan berkata jujur, “Sesungguhnya wahai Abu Tsa’labah (julukan Akhnas), aku telah mendengar beberapa perkara dari Muhammad yang aku ketahui maksudnya dan aku juga mendengar beberapa perkara yang tidak aku ketahui arti dan maksudnya.”

Akhnas berkata, “Demi yang kau sumpahkan itu, aku juga memiliki pendapat yang sama.”

Kemudian Akhnas meninggalkan Abu Sufyan dan bergegas menuju rumah Abu Jahal. “WahaiAbul Hakam (julukan Abu Jahal), bagaimana pendapatmu tentang yang telah kau dengar dari Muhammad?”

Abu Jahal termenung mendengar pertanyaan Akhnas. Ia balik bertanya, “Apa yang kau dengar?”

Kemudian Abu Jahal bicara yang ngelantur, tak sesuai dengan pertanyaan Akhnas. Tapi akhirnya ia berkata jujur, “Demi Tuhan, sesungguhnya aku telah mengetahui bahwa ia (Muhammad) adalah seorang yang benar, tetapi beratnya hatiku disuruh menjadi keturunan dari Abdu Manaf.” Lantas Akhnas beranjak meninggalkan Abu Jahal.

Di riwayat lain, Abu Jahal berkata terus terang di hadapan Nabi saw, “Sesungguhnya kami sekalian tidak mendustakanmu, Muhammad. Tetapi kami tidak senang kepada apa-apa yang kamu datangkan itu.” Allah swt. merekam pernyataan ini dalam firman-Nya (artinya), “Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah” (QS. Al An’am 33).


Jiwa Terguncang

Di lain kesempatan, Utbah bin Rabiah –salah satu pemuka Musyrikin- terguncang jiwanya mendengarkan bacaan Alquran oleh Nabi saw. Bermula dari gagasannya di sidang majelis musyrikin Quraisy, “Wahai kaum Quraisy, izinkanlah aku bertemu dan berdialog dengan Muhammad, dan menawarkan beberapa tawaran kepadanya. Barangkali ia bersedia menerima salah satunya. Kita berikan kepadanya apa yang disukainya dan ia berhenti menyusahkan kita.” Orang-orang menjawab, “Kami setuju wahai Abul Walid (sebutan Utbah, red.). Pergilah dan bicaralah dengan Muhammad.”

Lalu Utbah duduk di depan Nabi saw. yang berada di dekat Kakbah dan berkata, “Wahai Muhammad, Anda termasuk golongan kami dan Anda pun telah mengetahui kedudukan silsilah kami (yang terhormat). Namun, ternyata Anda telah membawa suatu persoalan yang amat gawat kepada kaum kerabat Anda dan Anda telah memecah belah kerukunan dan persatuan mereka, mencela sesembahan dan agama mereka. Sekarang dengarlah baik-baik. Saya hendak menawarkan kepada Anda beberapa hal yang mungkin dapat Anda terima salah satunya.” Nabi menjawab, “Katakanlah hai Abul Walid apa yang hendak kau tawarkan.”

Utbah pun memulai diplomasinya seraya berkata, “Wahai putra saudaraku, jika dakwah yang Anda lakukan itu Anda ingin mendapatkan harta kekayaan, maka akan kami kumpulkan harta kekayaan yang ada pada kami untuk Anda. Sehingga Anda menjadi orang terkaya di antara kami. Jika Anda menginginkan kehormatan dan kemuliaan, Anda akan kami angkat sebagai pemimpin dan kami tidak memutuskan persoalan apapun tanpa persetujuan Anda.”

Tidak cukup di situ, Utbah melanjutkan bujuk rayunya. Sedangkan Nabi saw. masih duduk sambil mendengarkan ocehan Utbah. Utbah kembali berkata, “Jika Anda ingin menjadi raja, kami bersedia menobatkan Anda sebagai raja kami. Jika Anda menginginkan wanita, akan kami datangkan wanita paling cantik untuk Anda. Jika Anda tidak sanggup menangkal jin yang merasuki diri Anda, kami bersedia tabib yang sanggup menyembuhkan Anda. Dan untuk itu, kami tidak akan menghitung-hitung biaya yang diperlukan sampai Anda sembuh.”

Kemudian ganti Rasulullah saw. yang berkata, “Sudah selesaikah Anda wahai Abul Walid?”

“Sudah.”

Lalu Nabi saw. bersabda, “Sekarang dengarkanlah dariku.” Kemudian Nabi saw. membaca surat Fushilat 1-13 yang artinya, “Ha Mim. Diturunkan dari (Rabb) yang Maha Pemurah lagi Penyayang. Kitab yang menjelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab untuk kaum yang mengetahui. Ia membawa berita gembira dan peringatan tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya), maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata, ’Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya, di telinga kami ada sumbatan, dan di antara kami dan kamu ada dinding. Maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja (pula).’ Katakanlah, ’Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, (namun) diwahyukan kepadaku bahwasanya tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Kecelakaan besar bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya. (Yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat….(hingga ayat 13).”

Raut Muka Pun Berubah

Ketika mendengar ayat Jika mereka berpaling, maka katakanlah, ”Aku telah memperingatkanmu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum Aad dan Tsamud (ayat 13), Utbah langsung menutup mulut Nabi saw. dengan tangannya memohon supaya berhenti membaca karena takut ancaman di ayat tersebut. Lalu Nabi saw. menolak semua tawaran dengan tegas.

Kemudian Utbah kembali ke majelis Quraisy yang tak jauh dari Kakbah. Dari kejauhan orang-orang dapat melihat raut muka Utbah. Mereka berkata, “Abu Walid datang dengan wajah  yang berbeda dengan wajahnya waktu berangkat tadi.” Rupanya, ayat-ayat itu membekas di jiwanya sampai beberapa waktu.{}

(sumber: Kelengkapan Tarikh Muhammad saw Jilid I, Munawar Khalil, GIP & Sirah Nabawiyah, Al Mubarakfury, Penerbit Al Kautsar).

Categories