Hijrah Berpikir Out of the Box

MUSTANIR.net – Kita umat Islam ini dengan kekuatan akidah dan ideologi (mabda’) Islamnya, sebenarnya adalah umat yang mulia, pemimpin manusia, dan umat yang terbaik (khairu ummah), yang dilahirkan untuk umat manusia. Sebagaimana yang termaktub dalam QS Ali Imran [3]: 110, Allah subḥānahu wa taʿālā berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Kalian (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama). Memerintah (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya ahlul kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka (ahlul kitab) ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS Ali Imran [3]: 110)

Oleh karena itu seharusnya kita umat Islam ini bisa berubah dan bangkit dari segala keterpurukan dan kemundurannya—yang telah berlangsung selama sekitar 100 tahun lamanya, pasca runtuhnya khilafah di Turki sejak tahun 1924 Masehi hingga sekarang—seperti saat ini. Dengan umat Islam kembali berubah dan bangkit kembali menjadi pemimpin peradaban, adidaya superpower, menebar rahmah, mahabbah, keadilan dan berkah bagi dunia.

Maka sesungguhnya kita umat Islam itu sebenarnya bukanlah seperti katak dalam tempurung kelapa. Dan realitasnya dunia ini pun tidak seperti tempurung kelapa tersebut. Juga dunia ini pun luasnya tidaklah selebar daun kelor, dan juga tidak selebar daun pisang dan daun jati. Namun dunia ini cakrawalanya sangat luas sekali. Terbentang dari belahan bagian utara dan selatan hingga timur dan barat.

Dan disinilah pentingnya kita umat Islam untuk melepaskan kejumudan berpikir dari cara berpikir in of the box (dalam kotak/dalam sistem) atau cara berpikir seperti katak dalam tempurung kelapa. Yang menganggap seolah-olah dunia ini sempit, persis seperti katak dalam tempurung kelapa tersebut.

Sehingga mentok seolah-olah tidak ada pilihan lain untuk mewujudkan kebangkitan dan perubahan di tengah masyarakat. Tidak ada jalan lain dan tidak ada solusi lain, kecuali hanya dengan pemilu dan demokrasi dengan pilihan parpol dan figur-figur politisi calon pemimpin serta wakil rakyat, produk demokrasi yang itu-itu saja.

Yang nota bene itu semua sebenarnya sudah diskenariokan, dinarasikan, dan di-design oleh rezim, parpol dan oligarki demokrasi. Untuk melanggengkan tetap lestarinya sistem kufur demokrasi beserta induk semangnya ideologi kufur kapitalisme-sekulerisme, dan dalam melanggengkan hegemoni penjajahan kapitalisme global di negeri-negeri Islam dan di seluruh penjuru dunia.

Dan juga seolah-olah tidak ada solusi alternatif pilihan lainnya saja. Untuk mewujudkan kebangkitan hakiki dan perubahan hakiki di negeri Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini, dan di negeri-negeri Islam lainnya. Selain, dengan demokrasi tersebut.

Padahal, sudah berkali-kali dibohongi, dicurangi dan dikhianati oleh demokrasi. Serta telah berkali-kali dizalimi dan ditindas oleh demokrasi tersebut dengan trias politica-nya sejak era Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi, hingga orde gila saat ini.

Dan yang masih superhot adalah pemilu (pileg dan pilpres) curang 2019 yang lalu, dan yang sudah memakan tumbal nyawa lebih dari 800 KPPS. Sudahlah dicurangi oleh rezim petahana dalam pemilu 2019 yang lalu, kemudian parahnya justru berakhir tragis dibohongi dan dikhianati oleh jagoannya sendiri, yakni paslon 02 Prabowo-Sandi yang kini keduanya menjadi menteri rezim petahana tersebut. [1]

Padahal pula, demokrasi dengan trias politica-nya, eksekutif (pemerintahan presidensial), legislatif (parlemen), maupun yudikatif (mahkamah hukum, konstitusi, dan peradilan), itu semua telah terbukti korup bahkan telah menjelma menjadi trias korupsia atau menjadi tiga sarang korupsi. [2]

Terbukti pula banyak parpol (partai politik) demokrasi beserta kader-kader dan elite-elite parpol serta politisinya yang nasionalis sekuler maupun berbasis massa Islam, ketika masuk ke parlemen maka lunturlah idealismenya dan terwarnailah mereka hingga mereka menjadi deretan partai terkorup. [3]

Sehingga pula, khususnya parpol (partai politik) yang berbasis massa Islam tersebut, keadaan dan nasibnya tidak jauh berbeda dengan parpol (partai politik) demokrasi sekuler lainnya yang sangat korup tersebut. [4] Dan terus menerus terjebak dalam lingkaran setan sistem korup demokrasi [5], dan semakin terjebak dalam cara berpikir in of the box yang sangat pragmatis, hedonis, sinkretis, dan liberal-sekuler akut tersebut.

Bahkan parpol apapun yang menang pemilu demokrasi, dan siapapun yang menang dalam pilkada, pileg dan pilpres 2024 mendatang, serta siapapun yang menjadi presiden dan wakil rakyatnya, tetap pemenangnya dan tetap penguasa sesungguhnya dalam negara demokrasi adalah oligarki alias cukong atau kapitalis yang dijuluki “the invisible hands”.

Makanya sangat wajar sekali dan sangat logis dalam pernyataan AM Hendropriyono, seorang grandmaster intelijen Indonesia dan mantan kepala BIN, yang potongan videonya beredar viral, saat dia diwawancarai seorang jurnalis SCTV. Ketika Hendropriyono ditanya apakah capres yang mau maju pilpres 2024 harus mendapatkan persetujuan Amerika? Hendro memberikan jawaban yang sangat menarik.

Amerika dengan sistem kapitalisme, kekuasaan sejatinya bukan ada pada presiden atau politisi. Melainkan ada pada kaum pemodal, para taipan, orang-orang kaya, para cukong. Para kapitalis inilah yang sejatinya berkuasa di Amerika.

Kalau capres di Indonesia dianggap mengganggu Amerika (kepentingan kapitalis), maka capres tersebut akan diganggu. Caranya mudah, cukup sebar duit US$ 1 miliar, dapat digunakan untuk menggerakkan masyarakat untuk mengganggu capres. Begitu terang Hendropriyono. [6]

Apa yang telah dan sedang terjadi di Amerika Serikat pun, juga realitasnya terbukti pula telah dan sedang terjadi di Indonesia. Di negeri ini sejatinya yang berkuasa bukanlah presiden atau politisi. Melainkan para cukong, atau yang kondang disebut oligarki alias kapitalis tersebut.

Ketum Partai Nasdem Surya Paloh, yang nota bene telah secara resmi mendeklarasikan Anies Rasyid Baswedan sebagai capres dari Partai Nasdemnya, bahkan dia mengeluhkan belum adanya penyokong atau investor politik untuk mendukung pencapresan Anies Baswedan tersebut. Surya Paloh menyatakan secara terbuka jika ada yang mau investasi. [7]

Hal ini semakin pula kian membuktikan kepemimpinan dan kekuasaan nasional Indonesia bukan ditentukan oleh sosok capres-cawapres atau parpolnya, serta bukan pula ditentukan oleh suara mayoritas rakyat. Namun justru realitasnya para cukong alias kapitalis atau oligarki alias para bandar atau bohirlah yang menentukan dan mengendalikan kepemimpinan dan kekuasaan nasional yang sesungguhnya. Dengan kekuatan kapital atau modal raksasanya, dan melalui sistem demokrasi kapitalisme-sekulerisme, biang oligarki dan biang penjajahan.

Seperti yang dikatakan juga oleh Fahri Hamzah, mantan Wakil Ketua DPR RI 2014-2019. Dia mengatakan bahwa penyandang dana atau biasa disebut bohir dalam pemilihan presiden umumnya akan mengambil keputusan final dukungannya menjelang penetapan. Hal tersebut ia sampaikan dalam webminar bertajuk ‘Siapa Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2024’ pada Selasa (15/11/2022).

“Selama saya 15 tahun di dunia politik mengikuti pemilu, yang menyatukan parpol itu memang bohir atau para pembayar karena kita tidak mengatur secara rigid tentang keuangan pilpres,” ujar Fahri.

Menurut Fahri, pada umumnya bohir baru akan mengambil keputusan jelang penetapan KPU. Sehingga hingga saat ini belum ada bohir yang 100 persen menentukan arah dukungannya. “Bohir akan membuat pilihannya di September 2023. Enggak ada bohir menaruh kartunya sekarang, omong kosong. Ini seperti main catur, dia mau menggerakkan pion di mana,” terang Fahri. [8]

Oleh karena itulah, siapa pun yang masuk dalam sistem demokrasi seperti yang diterapkan di Indonesia ini. Maka, niscaya dia akan rusak, korup, dan hanya menjadi jongos dan kacung atau pionnya oligarki (kapitalis, bohir, cukong, dan bandar politik) lokal, asing, maupun aseng.

Benarlah! Sebagaimana dahulu telah ditegaskan sebelumnya oleh Menkopolhukam Prof. Mahfud MD, yang di kemudian hari dia justru turut pula membuktikannya sendiri pada dirinya sendiri secara ilmiah dan realistis. Di mana dahulu beliau pernah berkata: “Malaikat masuk sistem Indonesia (demokrasi) pun bisa jadi iblis”. [9]

Padahal dalam Islam sendiri, haram hukumnya seorang muslim itu menjatuhkan dirinya ke dalam kesalahan yang sama untuk ke dua kalinya dan untuk ke sekian kalinya. Tidak layak dan tidak pantas kita umat Islam itu menjatuhkan diri kita ke dalam lubang comberan ataupun dipatuk ular dari lubang yang sama untuk ke dua kali dan ke sekian kalinya. Sebodoh-bodohnya keledai saja, dia tidak akan membiarkan dirinya terperosok ke dalam lubang yang sama untuk ke dua kalinya.

Dalam hal ini ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan, dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ʿanhū, Nabi ﷺ bersabda:

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular (terperosok/jatuh) dari lubang (ke dalam lubang) yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Bukhari dan Muslim) [10]

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa al-Qadhi Iyadh berkata, cara baca “yuldagu” ada dua cara.

Pertama: Yuldagu dengan ghain-nya di-dhammah. Kalimatnya menjadi kalimat berita. Maksudnya, seorang mukmin itu terpuji ketika ia cerdas, mantap dalam pekerjaannya, tidak lalai dalam urusannya, juga tidak terjatuh di lain waktu di lubang yang sama. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa ia tergelincir dalam urusan agama (akhirat).

Ke dua: Yuldagi dengan ghain-nya di-kasrah. Kalimatnya menjadi kalimat larangan. Maksudnya, janganlah sampai lalai dalam suatu perkara. [11]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Seorang muslim harus terus waspada, jangan sampai lalai dalam urusan agama maupun urusan dunianya.” [12]

Kesimpulannya, muslim yang cerdas ataupun mukmin yang cerdas tidak mungkin berbuat dosa yang sama untuk ke dua kalinya atau sampai berkali-kali, dan tidak akan membiarkan dirinya jatuh terperosok ke dalam lubang yang sama untuk ke dua kalinya ataupun sampai berkali-kalinya. Ketika ia sudah berbuat kesalahan, maka ia terus hati-hati jangan sampai digigit lagi di lubang yang sama, dan jangan lagi jatuh ke dalam lubang yang sama untuk ke sekian kalinya.

Oleh sebab itulah sudah terbukti secara historis dan empiris berkali-kali wasilah dan jalan (thariqah) demokrasi itu dibuat oleh penjajah kafir untuk menjebak, melemahkan, dan menghancurkan umat Islam dan Islam. Serta untuk mematikan kebangkitan Islam, dan juga untuk kian mengokohkan hegemoni penjajahan kapitalisme global kafir penjajah asing-aseng yang terlaknat tersebut di negeri-negeri Islam, khususnya di Indonesia.

Jadi, mengapa kita masih tetap ngeyel dan keukeuh. Harus berulangkali menjatuhkan diri kita terjun bebas ke dalam lubang kubangan lumpur comberan hitam dan najis serta busuk wasilah dan jalan demokrasi yang sesat dan kufur serta haram tersebut. Mikir!

Maka seharusnya realitas kebobrokan dan kerusakan demokrasi tersebut, bisa membuat sadar kita umat Islam, khususnya kader-kader parpol berbasis massa Islam beserta simpatisannya dan juga ormas-ormas Islam. Bahwa demokrasi bukanlah jalan shahih dan bukan pula solusi shahih dalam mewujudkan kebangkitan hakiki dan perubahan hakiki di tengah masyarakat. Demokrasi pun bukan jalan shahih dan bukan pula solusi shahih untuk mewujudkan tegaknya kekuasaan/kepemimpinan Islam yang kaffah.

Makanya sedari awal kita sudah tegaskan bahwasanya perjuangan parlementer (in of the box/in the system) seperti demokrasi tersebut itu bukan metode perjuangan kita umat Islam, dan bukan pula ekosistem/habitat tempat hidup kita. Sebab, metode perjuangan kita umat Islam yang sesungguhnya itu ya di luar parlemen (ekstra parlementer atau out of the box), yaitu jalan umat yang pernah dilakukan oleh baginda Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ, khususnya saat fase dakwah beliau di Mekkah.

Meskipun beliau ditawari harta, tahta, dan wanita oleh kafir Quraisy—melalui paman beliau—saat itu agar masuk ke dalam sistem kufur jahiliyah. Namun semua tawaran kafir Quraisy tersebut ditolak mentah-mentah oleh baginda Rasulullah ﷺ. Dan Rasulullah ﷺ pun tetap konsisten berpikir dan berjuang via out of the box atau di luar sistem yaitu jalan umat tersebut.

Hingga Rasulullah ﷺ bersabda:

يا عم! والله لووضعوا الشمس في يميني، والقمر في يساري، على أن أترك هذا الأمر حتى يظهره الله أو أهلك فيه ما تركته.

“Wahai Paman, demi Allah, kalau pun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini (penyampaian risalah), sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa, pastilah tidak akan aku meninggalkannya.” (HR Ibnu Ishaq dalam al-Maghaazii) [13]

Seandainya bila Rasulullah ﷺ berpikir in of the box atau berpikir pragmatis seperti kebanyakan kita umat Islam di zaman sekarang, maka Rasul ﷺ mestinya beliau menerima peluang emas tawaran dari kafir Quraisy tersebut untuk masuk ke dalam sistem kufur jahiliyah tersebut dan berkuasa dari dalam. Dan kemudian setelah berkuasa dari dalam, beliau bisa saja mengubah sistem jahiliyah tersebut dari dalam.

Nyatanya, realitasnya justru beliau menolak tegas tawaran kafir Quraisy dan beliau pun tidak melakukannya. Dan beliau ﷺ tetap konsisten berpikir dan berjuang out of the box (di luar kotak/di luar sistem kufur jahiliyah) tersebut. Yakni tetap di jalan wahyu Allah subḥānahu wa taʿālā melalui jalan umat, yaitu manhaj/thariqah dakwah Rasulullah ﷺ. Yang bersifat fikriyah (intelektual/revolusi pemikiran), mabda’iyah (ideologis), siyasiyah (politis), syumuliyah (universal), jama’iyah (terorganisir), dan laa unfiyah/laa maddiyah (non-kekerasan).

Dengan tahapan-tahapan thariqah/manhaj (metodologi) dakwah Rasulullah ﷺ, yaitu:

1. Tatsqif murakkazah (pembinaan dan kaderisasi secara intensif): Penguatan akidah Islam, pembentukan kepribadian Islam (syakhsiyah Islam) pada kader-kader dakwah, pembentukan kutlah hizbiyah Islamiyah mabda’iyah (parpol Islam ideologis).

2. Tafa’ul ma’al ummah wal kifah (interaksi dengan masyarakat dan perjuangan): pertarungan pemikiran (shira’ul fikri), perjuangan politik (kifahi siyasiy), memutus mata rantai kepercayaan masyarakat dengan sistem kufur jahiliyah dan rezim kufur jahiliyah penjaganya (dharbul ‘alaqah); membongkar makar jahat kaum kuffar dan pengkhianatan para penguasa bonekanya (kasyful khuththath); mengadvokasi kepentingan dan kemaslahatan umat (tabanni wal qadha’i mashalih ummah); dan memobilisasi dukungan terhadap dakwah dari simpul-simpul umat yakni para ahlun nushrah khususnya ahlul quwwah (thalabun nushrah).

3. Isti’lamul hukmi minal ummah (penyerahan kekuasaan dari tangan umat): melalui tahapan thalabun nushrah dari ahlun nushrah (tokoh-tokoh umat/ahlul halli wal aqdi) khususnya ahlul quwwah (militer). Dan juga melalui prosesi aqad bai’at in’iqad (legal formal) oleh ahlul halli wal aqdi khususnya ahlul quwwah, dan diikuti selanjutnya bai’at tha’at dari seluruh umat Islam.

4. Tathbiqu asy-syari’ah bil kaffah fid daulah Islamiyah [khilafah] (penerapan hukum-hukum syariah Islam secara totalitas dalam segala aspek kehidupan, dalam negara Islam/khilafah). [14]

Dan beliau sangat sabar dalam menjalani terjalnya jalan umat tersebut di atas wahyu Allah subḥānahu wa taʿālā. Dengan beliau sangat sabar dan konsisten dalam menggenapi tahapan demi tahapan thariqah/manhaj/metode dakwah beliau ﷺ tersebut. Demi mewujudkan kebangkitan hakiki dan perubahan hakiki di tengah masyarakat. Yaitu tegaknya kekuasaan/kepemimpinan Islam dan tegaknya Islam kaffah dalam segala aspek kehidupan.

Dan realitasnya pula secara historis maupun secara empiris. sesungguhnya banyak sekali perubahan besar itu terjadi justru di luar sistem (ekstra parlementer/out of the box). Bukan di dalam sistem (in of the box). Seperti:

1. Terjadinya revolusi Renaissance, yaitu gerakan perubahan besar di Eropa yang terjadi setelah abad pertengahan (abad kegelapan Eropa). Yang berhasil menumbangkan tirani kekuasaan teokrasi gereja dan kerajaan Kristen di Eropa pada abad ke-14 sampai abad ke-17. [15]

2. Terjadinya revolusi Bolshevik di Rusia yang berhasil meruntuhkan Kekaisaran Tsar Rusia, pada tanggal 25 Oktober 1917. [16]

3. Runtuhnya tembok Berlin di Jerman—yang sebelumnya telah memisahkan antara Jerman Barat dengan Jerman Timur—pada tanggal 9 November 1989. Yang kemudian menyatukan kembali dua Jerman tersebut menjadi satu Jerman, dan mengubah dunia modern hingga sekarang. [17]

4. Runtuhnya Orde Lama dan Orde Baru di Indonesia dan mengubah Indonesia menjadi era Orde Reformasi. [18]

5. Terjadinya Arab spring (kebangkitan Arab) atau revolusi Arab di Timur Tengah yang dimulai sejak 17 Desember 2010. Hingga banyak menumbangkan rezim tiran Arab yang telah berkuasa puluhan tahun [19]. Dan lain-lain.

7. Tegaknya kekuasan/kepemimpinan/pemerintahan (negara) Islam di Madinah. Yakni berdirinya daulah Islam pertama dengan kepala negara pertamanya Rasulullah ﷺ sendiri, pasca hijrah dari Mekkah ke Madinah. Setelah sebelumnya melalui terjalnya proses perjuangan jalan umat atau ekstra parlementer (di luar sistem kufur jahiliyah) saat fase dakwah di Mekkah.

Hingga pada puncaknya terjadinya thalabun nushrah (mobilisasi dukungan dakwah dari ahlul quwwah dan tokoh-tokoh masyarakat Aus dan Khazraj dari Yastrib oleh Rasulullah ﷺ melalui Mush’ab bin ‘Umair) dan terjadinya bai’at Aqabah pertama dan ke dua di bukit Aqabah. Kemudian terjadinya hijrah dari Mekkah ke Madinah, dan selanjutnya secara defacto dan de jure berdirilah daulah Islam pertama tersebut di Madinah. [20]

Oleh karena itu bersegeralah hijrah kaffah ke cara berpikir out of the box atau di luar kotak/di luar sistem kufur jahiliyah demokrasi tersebut. Bahwa masih ada banyak pilihan lainnnya di luar kotak/di luar sistem korup demokrasi dan pemilunya yang sangat mahal.

Yaitu di antaranya pilihan yang lebih cerdas, tepat, benar, syar’i, halal dan thayyibah yakni hanya pilihan Islam kaffah: syariah dan khilafah saja—dengan hanya mengikuti thariqah/manhaj (metodologi) dakwah Rasulullah ﷺ dalam mewujudkannya—, bukan selainnya.

Karena pula kekuatan abuse of power musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir maupun munafik yang berwujud kapitalisme global asing-aseng beserta penguasa bonekanya itu terletak pada in of the box (di dalam kotak/di dalam sistem kufur jahiliyah demokrasi kapitalisme-sekulerisme) tersebut. Maka, bila kita tetap ngeyel dan keukeuh berpikir, berjuang, dan bertarung in of the box tersebut, niscaya kita umat Islam akan selamanya kalah, digebukin, babak-belur, dicurangi dan dipecundangi serta terjajah oleh musuh-musuh Islam tersebut.

Karena berpikir, berjuang dan bertarung in of the box (di dalam kotak/di dalam sistem kufur jahiliyah demokrasi kapitalisme-sekulerisme beserta pemilu demokrasinya) itu menjadikan kita umat Islam semakin terikat aturan main musuh dan tunduk pada aturan main musuh-musuh Islam dan penguasa bonekanya, yang berwujud hegemoni kapitalisme global kafir asing dan aseng tersebut. Sehingga hanya akan semakin melemahkan, memecah-belah, dan membuat kita umat Islam tidak berdaya hingga membuat kita umat Islam kehilangan kekuatan (power) dan kemuliaannya.

Namun sebaliknya bila kita berpikir, bertarung, dan berjuang out of the box dengan melalui jalan umat tetap konsisten mengusung Islam kaffah: syariah dan khilafah, dengan konsisten menempuh dan meneladani thariqah/manhaj (metodologi) dakwah Rasulullah ﷺ tahap demi tahapannya. Maka, niscaya kita tidak akan terikat dan tidak akan tunduk pada aturan main musuh-musuh Islam tersebut, yang nota bene sudah di-design untuk melemahkan, mengalahkan, dan menghancurkan Islam dan umat Islam.

Sehingga kita dengan berpikir out of the box (Islam kaffah: syariah dan khilafah, serta thariqah/manhaj dakwah Rasulullah ﷺ) —sekaligus berjuang dan bertarung out of the box tersebut—, menjadikan kita umat Islam bangkit secara hakiki dan lebih leluasa bertarung menggunakan berbagai jurus-jurus pemikiran dan politik hingga jurus pamungkas ideologis kita. Dalam menggebuk dan menumbangkan kedigdayaan musuh-musuh Islam beserta penguasa bonekanya, yang berwujud hegemoni kapitalisme global kafir asing dan aseng tersebut.

Dan niscaya, itu pada puncaknya akan mengantarkan kita umat Islam menang dan berjaya kembali memimpin peradaban dunia. Serta pula, mulia kembali menjadi khairu ummah (umat yang terbaik) yang menebar Islam rahmatan lil ‘alamin, mahabbah, keadilan dan berkah bagi umat manusia dan seluruh penjuru alam.

Jadi, sudahlah segera tumbangkan demokrasi—beserta induk semangnya ideologi kufur kapitalisme-sekulerisme warisan kaum kuffar Barat penjajah—yang telah menjadi biang masalah, biang kerusakan, biang kebobrokan, biang korupsi dan biang penjajahan. Saatnyalah ganti rezim, ganti sistem, hanya dengan solusi Islam kaffah: syariah dan khilafah saja, titik tidak pakai koma. Mau?

Allah subḥānahu wa taʿālā berfirman:

اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ

“Apakah hukum (sistem) jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum/sistem) siapakah yang lebih baik daripada (hukum/sistem) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (QS al-Maidah [5]: 50)

Allah subḥānahu wa taʿālā pun berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib (keadaan) suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah keadaan (apa yang ada pada) diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’du [13]: 11)

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS an-Nuur [24]: 51)

Wallahu musta’an, wallahu a’lam bish shawab. []

Sumber: Zakariya al-Bantany

Catatan Kaki:
1. https://nasional.kompas.com/read/2020/01/22/15460191/refleksi-pemilu-2019-sebanyak-894-petugas-kpps-meninggal-dunia; https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4485400/fantastis-anggaran-untuk-pemilu-2019-capai-rp-25-t
2. https://news.detik.com/berita/d-5498530/pimpinan-kpk-catat-ada-429-kepala-daerah-hasil-pilkada-terjerat-korupsi; https://news.detik.com/berita/d-5243038/sejak-2004-hingga-2020-ada-274-anggota-dpr-dprd-jadi-tersangka-kpk; https://www.kompas.com/tren/read/2022/08/22/160000265/daftar-12-menteri-indonesia-yang-terjerat-kasus-korupsi; https://nasional.kompas.com/read/2020/09/30/11223141/kpk-catat-397-pejabat-politik-terjerat-korupsi-sejak-2004-hingga-mei-2020; https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/09/23/hakim-agung-kembali-terjerat-kasus-suap-berapa-aparat-penegak-hukum-yang-terlibat-kasus-korupsi
3. https://news.detik.com/infografis/d-3665720/daftar-parpol-dengan-kader-terbanyak-diciduk-kpk
4. https://kalbar.antaranews.com/berita/313146/hti-partai-islam-atau-tidak-sama-saja-di-pusaran-korupsi
5. https://antikorupsi.org/id/article/demokratisasi-dan-korupsi-parpol
6. https://youtu.be/68AmAX7aTSw
7. https://m.merdeka.com/video/politik/video-surya-paloh-belum-punya-penyokong-dana-nasdem-majukan-capres-anies-2024.html
8. https://nasional.sindonews.com/read/942153/12/cerita-fahri-hamzah-soal-capres-pilihan-bohir-di-pilpres-2024-1668503470
9. https://republika.co.id/berita/muasnx/mahfud-md-malaikat-masuk-ke-sistem-indonesia-pun-bisa-jadi-iblis
10. HR. Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2998
11. Syarh Shahih Muslim, 12: 104
12. Fath al-Bari, 10: 530
13. HR Ibnu Ishaq dalam al-Maghaazii [I/284-285 tentang ‘Sirah Ibnu Hisyam’] dengan sanad dari Ya’qub bin Utbah bin al-Mughirah bin al-Akhnas
14. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Daulah Islam dan at-Takkatul al-Hizbiy; Mafahim li Hizbit Tahrir; Manhaj Hizbut Tahrir; Ta’rif Hizbut Tahrir.
15. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5784823/sejarah-renaissance-latar-belakang-tokoh-tokoh-dan-pengaruhnya; https://id.m.wikipedia.org/wiki/Renaisans
16. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Oktober
17. https://www.bbc.com/indonesia/dunia-50301403
18. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia
19. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kebangkitan_dunia_Arab
20. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Daulah Islam; dan Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories