Level Berpikir

MUSTANIR.net – Dalam kitab at-Tafkir (Hakikat Berpikir), Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah menjelaskan definisi akal (pemikiran/kesadaran), yaitu:

Akal [‘aql] (pemikiran [fikr], atau kesadaran [idrak]) itu sendiri definisinya adalah pemindahan penginderaan terhadap fakta (realitas/kenyataan). Melalui panca indera ke dalam otak, yang disertai adanya informasi-informasi terdahulu (ma’lumat tsabiqah), yang digunakan untuk menafsirkan (menyimpulkan dengan benar dan tepat) fakta (realitas/kenyataan). [1]

Pemikiran seseorang itu dibentuk dan sangat dipengaruhi oleh lemah dan kuatnya ma’lumat tsabiqah (informasi awal/pengetahuan/ilmu) seseorang. Juga pula dibentuk dan dan sangat dipengaruhi latar belakang pendidikan, lingkungan keluarga, lingkungan sosial, dan juga agama, akidah dan ideologi yang dianut atau diadopsinya, serta sistem negaranya.

Adapun level berpikir atau tingkatan berpikir seseorang, itu ada tiga level/tingkatan, yaitu:

1. Berpikir dangkal (fikru adh-dhahli) atau berpikir sempit (fikru adh-dhayiq), yaitu hanya berpikir sebatas logika permukaan saja pada sesuatu. Dan seringkali pula, didominasi oleh perasaan.

Contoh: Orang yang berpikir dangkal hanya memahami gajah itu sebatas fisik luarnya saja. Yaitu, sebatas memahami gajah hanya hewan mamalia besar yang punya belalai panjang, gading dan telinga besar serta berwarna keabu-abuan, serta hidupnya di hutan dan di padang rumput.

2. Berpikir mendalam (fikru al-‘amiq), yaitu berpikir mendetail terkait mekanisme dan kinerja sesuatu.

Contoh: Orang yang berpikir mendalam akan memahami gajah itu tidak sebatas fisik luarnya saja. Namun, dia detail memahami gajah sampai biologi anatomi tubuhnya luar dan dalam, jenis kelaminnya, cara makan dan apa yang dimakannya, perkembangbiakannya, populasinya, usianya dan ekosistemnya hingga kingdom dan jenis-jenis spesiesnya. Serta pula, ia pun merumuskan metode untuk melestarikan populasi gajah tersebut.

3. Berpikir cemerlang (fikru al-mustanir), yaitu berpikir dan memahami secara benar, mendasar, menyeluruh, dan revolusioner, serta sistematis, politis dan ideologis. Terhadap sesuatu—khususnya alam semesta, manusia, dan kehidupan—dan keterkaitan sesuatu tersebut dengan Dzat sebelum kehidupan dan sesudah kehidupan.

Contoh: Orang yang berpikir cemerlang akan mengetahui dan sangat memahami, bahwa gajah itu tidak sebatas fisik (casing luar) dan mekanisme alam bekerja pada gajah semata. Namun, ia pun akan memahami gajah dari sisi historis, politis dan ideologis, serta secara revolusioner.

Maka, ia mengetahui dan memahami realitas historis gajah tersebut. Bahwa, gajah dalam historis peradaban umat manusia, dalam mitologi sebagian peradaban kuno terdahulu yang masih pagan dan jahiliyah. Sangat mengkultuskan gajah sebagai makhluk suci dan dewa yang dipuja serta menjadi simbol kekuatan, kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan. Seperti, di peradaban kerajaan Persia Raya, Abraha, Hindustan, Siam Thailand, dan lain-lain.

Dan juga ia pun mengetahui dan memahami bahwa dalam peradaban kuno umat manusia terdahulu tersebut. Itu secara politik-militer pun, telah menjadi kendaraan elite militer dalam peperangan antarnegara. Seperti, di era masa kedigdayaan peradaban kerajaan Persia Raya, Abraha, Hindustan, Siam Thailand, dan lain-lain.

Dan yang terpenting dan utamanya seorang yang memiliki level berpikir mustanir itu, pada puncaknya ia sangat mengetahui dan sangat memahami hakikat di balik gajah tersebut. Dengan ia mengaitkan gajah dan semua informasi terkait realitas gajah dari sisi sains biologi, historis dan politik-militer dengan akidah atau ideologi yang ia adopsi dan diyakininya secara revolusioner-politis strategis, dalam hal ini akidah atau ideologi Islam.

Bahwasanya, gajah adalah salah-satu makhluk atau hewan ciptaan Allah, gajah bukanlah dewa dan bukan pula tuhan. Dan Allah menciptakan gajah dengan segala khasiatnya agar manusia itu mau berpikir dan mengakui kebesaran, kekuasaan dan ketuhanan serta keesaan Allah subḥānahu wa taʿālā sebagai Tuhannya yang telah menciptakan gajah, manusia, alam semesta dan kehidupan.

Serta banyak sekali hikmah atau pelajaran berharga yang dapat dipetik dari diciptakannya gajah itu oleh Allah. Yang bisa semakin mengokohkan akidah dan keimanan seorang muslim, yang mau berpikir dan menggunakan akalnya dengan sebaik-baiknya.

Sehingga pula Allah abadikan nama gajah tersebut dalam al-Qur’an surat al-Fiil. Surat al-Fiil sendiri adalah surat urutan ke-105 di dalam al-Qur’an dan merupakan bagian dari surat Juz ‘Amma. Surat ini juga memiliki jumlah ayat yang sebanyak 5 ayat. Surat al-Fiil merupakan surat di dalam al-Quran, yang termasuk ke dalam golongan surat Makiyyah, yakni surat pendek yang diturunkan di area kota Mekah.

Di dalam surat al-Fiil tersebut banyak terkandung makna di dalamnya. Di antaranya, telah ditegaskan tentang kebesaran dan kekuasaan Allah subḥānahu wataʿālā yang telah menciptakan dan telah menundukkan gajah tersebut.

Dan juga telah ditegaskan, perihal nashrullah atau pertolongan Allah bagi orang-orang yang beriman. Serta, penegasan kehancuran bagi orang-orang kafir dan durhaka, seperti Abraha dan pasukan gajahnya tersebut. Yang dibinasakan oleh Allah, dengan dilempari batu-batu kerikil dari neraka yang dibawa oleh burung Ababil atas perintah Allah.

Allah subḥānahu wa taʿālā berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ. أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ. وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ. تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ. فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ.

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS al-Fiil [105]: 1-5)

Itulah tingkatan level berpikir seseorang. Maka, ketika seseorang itu meng-upgrade atau meningkatan kualitas akal atau pemikirannya. Dengan memperkaya khazanah pengetahuan/keilmuwannya (ma’lumat tsabiqah) dan memeluk pemikiran mendasar dan menyeluruh yang shahih atau akidah atau ideologi yang shahih. Maka, ia akan meningkat levelnya ke level berpikir cemerlang (fikrul mustanir) dan kemudian ia benar-benar menjadi bangkit secara hakiki.

Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah, dalam kitabnya Nidzhamul Islam (Sistem Peraturan Hidup dalam Islam):

“Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya. Agar manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain.

Sebab, pemikiranlah yang membentuk dan memperkuat mafahim (persepsi) terhadap segala sesuatu. Di samping itu, manusia selalu mengatur tingkah lakunya dalam kehidupan ini sesuai dengan mafahim-nya terhadap kehidupan.

Jadi, tingkah laku manusia selalu berkaitan erat dengan mafahim yang dimilikinya. Dengan demikian, apabila kita hendak mengubah tingkah laku manusia yang rendah menjadi luhur, maka tidak ada jalan lain kecuali harus mengubah mafhum-nya terlebih dahulu.” [2]

Dalam hal ini, Allah subḥānahu wa taʿālā berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِ.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’du [13]: 11)

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah pun, melanjutkan penjelasannya:

“Satu-satunya jalan untuk mengubah mafahim seseorang adalah dengan mewujudkan suatu pemikiran tentang kehidupan dunia, sehingga dapat terwujud mafahim yang benar tentang kehidupan tersebut. Namun, pemikiran seperti ini tidak akan melekat erat dan memberikan hasil yang berarti, kecuali apabila terbentuk dalam dirinya pemikiran tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan; tentang Dzat yang ada sebelum kehidupan dunia dan apa yang ada sesudahnya; di samping juga keterkaitan kehidupan dunia dengan Dzat yang ada sebelumnya dan apa yang ada sesudahnya.

Semua itu dapat dicapai dengan memberikan kepada manusia pemikiran menyeluruh dan sempurna tentang apa yang ada di balik ketiga unsur utama tadi. Sebab, pemikiran menyeluruh dan sempurna semacam ini merupakan landasan berpikir (al-qa’idah al-fikriyah) yang melahirkan seluruh pemikiran cabang tentang kehidupan dunia.

Memberikan pemikiran menyeluruh mengenai ketiga unsur tadi, merupakan solusi fundamental ini teruraikan, maka terurailah berbagai masalah lainnya. Sebab, seluruh problematika kehidupan pada dasarnya merupakan cabang dari problematika kehidupan pokok tadi. Namun demikian, pemecahan itu tidak akan mengantarkan kita pada kebangkitan yang benar, kecuali jika pemecahan itu sendiri adalah benar, yaitu sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal, dan memberikan ketenangan hati.

Pemecahan yang benar tidak akan dapat ditempuh dengan al-fikru al-mustanir (pemikiran cemerlang) tentang alam semesta, manusia, dan hidup. Karena itu, bagi mereka yang menghendaki kebangkitan dan menginginkan kehidupannya berada pada jalan yang mulia, mau tidak mau lebih dahulu mereka harus memecahkan problematika pokok tersebut dengan benar, melalui berpikir secara cemerlang tadi. Pemecahan inilah yang menghasilkan akidah, dan menjadi landasan berpikir yang melahirkan setiap pemikiran cabang tentang perilaku manusia di dunia ini serta peraturan-peraturannya.

Islam telah menuntaskan problematika pokok ini dan dipecahkan untuk manusia dengan cara yang sesuai dengan fitrahnya, memuaskan akal, serta memberikan ketenangan jiwa. Ditetapkannya pula bahwa untuk memeluk agama Islam, tergantung sepenuhnya kepada pengakuan terhadap pemecahan ini, yaitu pengakuan yang benar-benar muncul dari akal. Karena itu, Islam dibangun dia atas satu dasar, yaitu akidah.

Akidah menjelaskan bahwa di balik alam semesta, manusia, dan hidup, terdapat Pencipta (al-Khaliq) yang telah menciptakan ketiganya, serta yang telah menciptakan segala sesuatu lainnya. Dialah Allah subḥānahu wa taʿālā. Bahwasanya Pencipta telah menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Dia bersifat wajibul wujud, wajib adanya.

Sebab, kalau tidak demikian, berati Dia tidak mampu menjadi Khaliq. Dia bukanlah makhluk, karena sifat-sifat-Nya sebagai Pencipta memastikan bahwa diri-Nya bukan makhluk. Pasti pula bahwa Dia mutlak adanya, karena segala sesuatu menyandarkan wujud atau eksistensinya kepada diri-Nya; sementara Dia tidak bersandar kepada apapun.” [3]

Oleh karena itu, seseorang bila ingin memperoleh dan mencapai puncak tingkatan level berpikirnya. Yaitu, naik taraf berpikirnya dari berpikir dangkal (fikru adh-dhahli) dan berpikir mendalam (fikru al-‘amiq) menjadi berpikir cemerlang (fikru al-mustanir).

Maka, mutlak ia wajib baginya memeluk akidah Islam. Melalui proses berpikir rasional dan meng-upgrade atau menambah/meningkatkan kuantitas dan kualitas belajar dan muraja’ahnya. Serta mengkaji secara mendalam tsaqafah Islam (khazanah pemikiran dan keilmuwan Islam) secara kaffah dari bab akidah, ibadah, makanan, minuman, pakaian, dan akhlaq hingga bab siyasah (politik): negara/imamah/khilafah.

Serta ia pun wajib senantiasa membaca, dan mengikuti, serta mencermati dan mengkaji, serta menganalisa berbagai perkembangan realitas kehidupan atau fakta-fakta kehidupan, khususnya fakta-fakta politik baik yang historis, empiris maupun kontemporer. Dengan sudut pandang yang khas, yaitu sudut pandang akidah dan ideologi Islam yang ia adopsi atau ia peluk dan ia yakini tersebut.

Wallahu a’lam bish shawab. []

Sumber: Zakariya al-Bantany

Catatan Kaki:
1. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, at-Tafkir (Hakikat Berpikir), hal. 25.
2. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nidzhamu al-Islam, hal. 4.
3. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nidzhamu al-Islam, hal. 5.

About Author

3 thoughts on “Level Berpikir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories