Hijrah Dari Sistem Jahiliyyah

Ilustrasi. foto: Suara Islam

MUSTANIR.COM – Hijrah Rasul saw dari Makkah ke Madinah sangat menentukan perjalanan sejarah Islam dan kaum Muslim.

Khalifah Umar bin Khattab ra dan para sahabat memilih peristiwa hijrahsebagai awal penanggalan Islam (Kalender Hijriyah).

Makna sesungguhnya spirit hijrah ini layak direnungkan. Dengan itu kita bisa mewujudkan kembali keagungan dan kemuliaan Islam dan kaum Muslim sebagaimana yang berhasil Rasul saw wujudkan pasca hijrah.

Pra-hijrah Rasulullah saw mengalami apa yang dikenal sebagai ‘am al-huzni (tahun kesedihan), tahun ke-9 kenabian. Lalu beliau menjalani Isra Mikraj, ditengah makin besarnya tantangan dan hambatan dakwah.

Pada tahun ke-10 kenabian. Rasul saw diperintahkan oleh Allah untuk melakukan thalab an-nusrah (menggalang dukungan/pertolongan untuk dakwah). Dalam rangka thalab an-nusroh Rasul saw mendatangi berbagai kabilah.

Pada musim haji tahun ke-11, Rasul saw. bertemu dengan enam orang dari kabilah al-Khazraj dari Yastrib(Madinah). Mereka masuk Islam dan kembali ke Yastrib untuk mendakwahkan Islam. Pada musim haji ke-12, keenam orang itu datang lagi, ditambah enam orang lainya. Mereka bertemu dengan Rasul saw. di bukit Aqabah. Terjadilah baiat Aqabah pertama.

Ketika mereka pulang, Rasul saw. mengutus Mush’ab bin Umair bersama mereka mendakwahi manusia secara umum, juga ahlul quwwah wal man’ah (Para pemilik kekuasaan) Secara khusus, sekaligus meminta mereka untuk menolong Islam. Islampun menyebar luas dan opini Islam dominan di Madinah.

Pada tahun ke-13, Mush’ab kembali ke Makkah. Pada musim haji itu pula, terjadilah baiat ‘Aqabah II. Mereka yang berbaiat kepada Rasulullah saw. terdiri dari 73 orang laki-laki dan dua orang perempuan.

Baiat ‘Aqabah II merupakan Baiat penyerahan kekuasaan kepada Rasul saw. sekaligus pengangkatan beliau sebagai amir (pemimpin) Madinah. Dengan kata lain, Baiat Aqabah II menandai pengangkatan Rasulullah sebagai kepala negara di Madinah. Sejak Baiat Aqabah II, itu secra de jure Yastrib telah berubah menjadi Dar al-Islam. Sejak itu kekuatan yang terwujud di Madinah adalah milik Islam dan kaum Muslim.

Diantara spirit hijrah yang paling penting adalah spirit penegakan sistem pemerintahan Islam, penerapan Syariah Islam. Serta pembentukan dan pembangunan masyarakat Islam. Spirit hijrah semacam ini jelas mendorong kita untuk segera meninggalkan sistem dan hukum jahiliah, lalu menerapkan sistem dan hukum Islam.

Faktanya sekarang umat tengah hidup dibawah sistem dan hukum jahiliah. Saat ini ideologi Sekular mencengkram seluruh sendi kehidupan umat.

Jelas, untuk mewujudkan kembali spirit hijrah itu, sistem dan hukum jahiliah ini harus segera ditinggalkan. Kita harus segera berhijrah menuju sistem baru. Itulah sistem dan hukum Islam. Caranya dengan menerapkan Syariah Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan. Tentu dalam sebuah Institusi pemerintahan Islam, sebagaimana dibangun oleh Rasulullah di Madinah pasca hijrah[]

Wallahu a’lam bish shawwab

Fauziyah, Cileunyi Kabupaten Bandung

Categories