Kita Tak Membutuhkan Ideologi Lain Karena Islam Karena Islam Sudah Sangat Sempurna

MUSTANIR.net – Fenomena sebagian anak muda saat ini yang tertarik pada ideologi sosialisme, komunisme, bahkan ateisme serta mempromosikannya di media sosial menjadi perhatian penting. Untuk memahami dan menyikapi hal ini secara tepat, pemikiran tersebut perlu disorot dari dua aspek utama: (1) aspek akidah serta (2) aspek sistem ekonomi dan politik.

Landasan akidah dari sosialisme dan komunisme adalah materialisme atau ateisme, yaitu pandangan yang menolak keberadaan Tuhan dan menganggap materi sebagai sesuatu yang kekal. Jika seorang Muslim meyakini paham ini, ia secara otomatis keluar dari Islam (murtad), sebab fondasi utama keimanan adalah percaya kepada Allah sebagai Sang Pencipta (al-Khaliq).

Secara akal sehat, argumentasi ateisme sebenarnya sangat dangkal dan mudah dibantah. Ateis mengklaim hanya percaya pada sesuatu yang dapat dilihat atau diindra langsung. Padahal, seseorang pasti yakin memiliki kakek buyut meskipun tidak pernah melihat fisiknya secara langsung. Kemudian tentang keteraturan alam semesta, benda sederhana seperti garpu atau mikrofon saja tidak mungkin ada dengan sendirinya tanpa ada pembuatnya, apatah lagi alam semesta yang sangat luas dan teratur—seperti perputaran bumi serta hukum alam yang konsisten (seperti air yang membeku pada suhu 0°C)—pasti ada Sang Pengatur Maha Pencipta yang menentukannya.

Bahaya terbesar dari ateisme adalah runtuhnya moralitas manusia. Ketika seseorang tidak percaya pada Tuhan dan hari pembalasan di akhirat, ia akan menganggap hidup hanya ada di dunia. Tanpa rasa takut akan dosa, orang akan mudah melakukan kejahatan selama terbebas dari hukuman dunia—sebagaimana sejarah mencatat negara-negara komunis-ateis tega menumpahkan darah jutaan manusia.

Dari aspek ekonomi, sosialisme lahir sebagai reaksi atas kapitalisme yang membiarkan kekayaan menumpuk pada segelintir pemilik modal. Sosialisme mencoba menyelesaikan masalah ini dengan menghapuskan kepemilikan pribadi dan menyerahkan seluruh penguasaan aset serta alat produksi kepada negara.

Namun, cara ini justru melahirkan masalah baru karena menentang fitrah dasar manusia yang memiliki dorongan alamiah untuk memiliki harta (hubbut tamaluk). Ketika hasil kerja keras seseorang dirampas untuk dibagi rata tanpa memperhatikan dorongan individu, yang terjadi bukanlah pemerataan kekayaan, melainkan pemerataan kemiskinan dan kemalasan massal. Inilah alasan utama mengapa negara-negara sosialis pada akhirnya bangkrut dan ditinggalkan.

Ketertarikan sebagian Muslim pada sosialisme biasanya disebabkan oleh dua faktor:

1) Ketidaktahuan: Tidak pernah mempelajari bahwa Islam memiliki sistem ekonomi dan pemerintahan sendiri yang jauh lebih unggul.

2) Menganggap Sosialisme Lebih Baik: Tahu bahwa Islam memiliki sistem aturan, tetapi mengabaikannya dan merasa ideologi buatan manusia lebih baik. Sikap ini sangat berbahaya karena meragukan kesempurnaan syariat Allah.

Berbeda dengan kapitalisme dan sosialisme, Islam memberikan solusi yang seimbang dan berkeadilan. Islam mengakui hak manusia untuk memiliki harta, namun tetap memberikan batasan yang jelas. Harta wajib didapatkan dari jalan yang halal (bebas dari riba, pencurian, korupsi, dan bisnis haram) serta tidak dibelanjakan untuk hal-hal yang dilarang. Islam membagi kepemilikan menjadi (1) kepemilikan pribadi, (2) kepemilikan publik (seperti tambang besar dan sumber daya alam yang wajib dikelola negara untuk kepentingan rakyat, bukan diserahkan ke swasta/pribadi), serta (3) kepemilikan negara.

Pemikiran yang keliru dan merusak dapat menyebar luas karena tidak ada yang menjelaskan kebenarannya atau meng-counter pemikiran tersebut. Kegelapan tidak akan pernah hilang kecuali ada yang membawa dan menyalakan cahaya.

Oleh karena itu, tugas utama umat Islam saat ini adalah menggencarkan dakwah dan memperdalam pemahaman agama. Kebatilan akan runtuh dengan sendirinya ketika kebenaran (al-haq) Islam disebarkan dan diperjuangkan di tengah masyarakat. []

Sumber: Ngaji Shubuh

About Author

Categories