Mewaspadai Ancaman “Islam Kiri”

MUSTANIR.net – Pada umumnya, pesantren kilat mengajarkan akidah, fikih, dan akhlak. Akan tetapi, berbeda dengan pesantren kilat ala “Islam kiri” yang diselenggarakan oleh Social Movement Institute (SMI) pada 30 Maret hingga 2 April 2023 lalu di Pesantren Al-Islam Tambakbayan.

Organisasi aktivis di Yogyakarta itu memperkenalkan “Islam kiri” kepada para “santri”-nya yang kebanyakan mahasiswa yang berminat pada aktivitas sosial. Acara tersebut juga lebih banyak membahas materi-materi seputar problem sosial ketimbang materi spiritual, sekaligus cara untuk memperkenalkan kepada publik pemikiran yang disebut “Islam kiri”.

Apa Itu “Islam Kiri”?

“Islam kiri (al-yasar al-islami)” adalah konsep sosialisme yang dibalut dengan Islam. Salah satu tokoh pencetusnya adalah Hassan Hanafi, cendekiawan muslim asal Mesir yang berpaham kiri (sosialisme). Hassan Hanafi memaknai “Islam kiri” dalam konteks struktur sosial yang memiliki dua kelas sosial yang saling berlawanan, yakni kelas atas dan kelas bawah.

Kelas atas dikuasai oleh kaum borjuis/kaya, sedangkan kelas bawah dikuasai oleh kaum proletar/miskin. Mereka meyakini bahwa “Islam kiri” hadir untuk mengangkat posisi kaum yang dikuasai atau tertindas agar memiliki posisi yang sama.

Eko Prasetyo, seorang aktivisnya, mendefinisikan “Islam kiri” sebagai Islam yang meletakkan problem-problem sosial (seperti ketimpangan kelas, ketakadilan, problem pencemaran lingkungan, dan diskriminasi gender) sebagai perhatian utama. Untuk memahami situasi sosial, mereka menggunakan Teori Kelas Karl Marx sebagai metodologi untuk memahami situasi sosial.

“Islam kiri” tidak membahas hal-hal terkait akidah, ibadah, dan syariat, melainkan mempersoalkan agar umat Islam terlibat dalam program sosial untuk mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan akibat ketakadilan situasi sosial yang kapitalistik.

Dalam pandangan “Islam kiri”, Islam melarang segala bentuk penindasan terhadap mustadh’afin. Ini sejalan dengan pandangan Karl Marx untuk membela kaum proletar. “Islam kiri” juga merupakan bentuk perkawinan antara spiritual Islam dan sosialisme-marxisme sebagai respons atas penerapan kapitalisme.

Bertentangan dengan Islam Kafah

Islam adalah sistem kehidupan yang sempurna, dibangun atas akidah yang sempurna, yakni akidah ruhiyah dan akidah siyasiyah. Akidah ruhiyah adalah akidah yang melahirkan aturan di ranah privat berupa ibadah-ibadah yang sifatnya fardiyah, seperti salat, puasa, zakat, haji, dan ibadah lainnya.

Ada pun akidah siyasiyah adalah akidah yang melahirkan aturan di ranah publik berupa pengaturan ekonomi, sosial kemasyarakatan, pendidikan, pemerintahan, bahkan hubungan internasional.

Sebagai sistem kehidupan yang sempurna, Islam memiliki metode untuk menerapkan seperangkat aturan yang lahir dari akidah tersebut, yakni sistem negara Khilafah Islamiah. Dengan peran Khilafah, seluruh syariat—ranah privat maupun publik—bisa diterapkan secara sempurna.

Penerapan syariat Islam secara kafah ini kemudian akan melahirkan kesejahteraan dan keadilan. Tidak hanya itu, bahkan membawa keberkahan bagi seluruh alam sebagaimana Allah subḥānahu wa taʿālā firmankan dalam QS Al-A’raf: 96.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Sebaliknya, apabila manusia meninggalkan syariat Islam, baik sebagian apalagi seluruhnya, niscaya ketimpangan sosial dan kerusakan akan menimpa manusia.

Memang benar yang disampaikan “Islam kiri” bahwa kemiskinan, keterbelakangan, dan ketakadilan akibat penerapan kapitalisme. Namun, salah besar ketika mereka hendak menyelesaikannya dengan mengambil konsep sosialisme-marxisme meski dibalut dengan spiritual Islam.

Contohnya, dalam mengatasi kemiskinan, “Islam kiri” berprinsip menentang monopoli ekonomi dan kapitalisme yang dilandaskan pada larangan menimbun emas dan perak dengan berpijak pada QS At-Taubah: 34. Konsep ini tidak tepat karena yang dimaksudkan dalam ayat tersebut, yakni menimbun harta (kanzul maal) yang diharamkan Allah subḥānahu wa taʿālā, adalah menimbun emas dan perak (atau uang) tanpa suatu keperluan (hajat), yakni semata menyimpan uang agar tidak beredar di pasar.

Ada pun jika menyimpan harta karena ada suatu keperluan, misalnya untuk membangun rumah, biaya kuliah, modal usaha, atau berhaji, semua ini tidak termasuk menimbun harta, melainkan disebut menabung (al-iddikhar) yang hukumnya boleh.

Contoh lain, “Islam kiri” menjadikan QS Al-Baqarah: 188 sebagai legitimasi atas penegakan keadilan dan pemerataan. Nyatanya, ayat ini menjelaskan larangan memakan harta orang lain dengan cara batil, yaitu sesuatu yang tidak diperbolehkan syariat untuk diambil, seperti bayaran pezina, dukun, dan khamar.

Meski “Islam kiri” mengaku tidak sepakat dengan ide materialisme yang diusung Karl Marx dan tidak memosisikan agama sebagai candu, tetapi mereka semata memercayai Allah subḥānahu wa taʿālā sebagai Sang Pencipta (Al-Khaliq) yang tidak diperankan dalam pengaturan kehidupan manusia (Al-Mudabbir).

“Islam kiri” memisahkan agama dalam pengaturan kehidupan dunia, termasuk pengaturan kehidupan berbangsa dan bernegara. Artinya, “Islam kiri” melandaskan konsepnya pada sekularisme sebagaimana kapitalisme. Jika demikian, mana mungkin bisa menyelesaikan problem kemiskinan dan ketakadilan yang ditimbulkan kapitalisme, jika ternyata keduanya memiliki akidah yang sama, yaitu sekularisme?

Dari sini jelas bahwa “Islam kiri” sebagai produk pengembangan sosialisme-marxisme-sekularisme yang dibalut dengan Islam telah disalahtafsirkan oleh para penggagasnya. Dipastikan pula bahwa “Islam kiri” bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya, yakni Islam kafah.

Khatimah

Sungguh, gerakan ini harus kita waspadai karena mereka menyasar generasi muda, khususnya kalangan aktivis mahasiswa. Para aktivis ini akan mereka bina secara intens di “pesantren kiri” bukan untuk memperdalam ilmu agama, melainkan mendidik generasi aktivis baru dengan cara pandang “Islam kiri”.

Walhasil, harus ada penyadaran, khususnya kepada aktivis mahasiswa, akan bahaya konsep “Islam kiri” dan membina mereka dengan tsaqafah Islam yang sahih, yakni Islam kafah, agar turut terdorong untuk mendakwahkannya.

Wallahualam. []

Sumber: Kholishoh Dzikri

About Author

2 thoughts on “Mewaspadai Ancaman “Islam Kiri”

  1. La mejor aplicación de control parental para proteger a sus hijos – monitoriza en secreto GPS, SMS, llamadas, WhatsApp, Facebook, ubicación. Puede monitorear de forma remota las actividades del teléfono móvil después de descargar e instalar apk en el teléfono de destino.

  2. A medida que la tecnología se desarrolla cada vez más rápido y los teléfonos móviles se reemplazan cada vez con más frecuencia, ¿cómo puede un teléfono Android rápido y de bajo costo convertirse en una cámara de acceso remoto?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories