Penguatan Islam Wasatiah Akan Memperlemah Persatuan Umat Islam Sedunia

MUSTANIR.net – Penyelenggaraan Konferensi Ulama se-Asia Tenggara yang direncanakan pada 26—28 Juli 2024 di Jakarta, merupakan bagian dari perayaan Milad MUI ke-49.

Dalam konferensi ini, ditargetkan pembentukan Asosiasi Dai Serumpun yang dapat mencerminkan inisiatif memperkuat penyebaran Islam wasatiah di kawasan Asia Tenggara. Hal ini—sebagaimana dinyatakan KH Cholil Nafis—menggarisbawahi pentingnya koordinasi dan kerja sama di antara ulama se-Asia Tenggara.

Memperlemah Persatuan

Mubaligah Endah Siti Muwahidah menilai, pembentukan asosiasi yang menguatkan Islam wasatiah ini justru akan memperlemah persatuan umat Islam.

“Adanya usulan untuk mempromosikan Islam wasatiah sebagai wajah Islam di Asia Tenggara, tentu ini merupakan langkah yang bisa memperlemah persatuan umat Islam sedunia,” ujarnya kepada M News, Ahad (21-7-2024).

Pemikiran Islam moderat ini, sambungnya, cenderung memisahkan umat ke dalam kategori moderat dan radikal, merusak kesatuan, dan menempatkan umat Islam di bawah dominasi ekonomi, budaya, dan politik Barat.

“Bahkan, Islam wasatiah yang dipropagandakan sebagai Islam moderat, pada kenyataannya sering kali diidentikkan dengan penerimaan sekularisme dan nilai-nilai Barat, seperti demokrasi, pluralisme, HAM, dan kesetaraan gender,” urainya.

Pendekatan tersebut, lanjutnya, sesuai dengan laporan RAND Corporation tentang ‘Building Moderate Muslim Networks’ yang mengungkapkan keinginan Barat untuk menciptakan jaringan muslim moderat yang dapat menerima norma-norma Barat.

Padahal, ungkapnya, strategi ini secara tidak langsung mengurangi potensi kebangkitan Islam yang berbasis pada syariat Islam kafah.

“Ini akan menjadikan umat Islam lebih menerima nilai-nilai Barat yang tidak sejalan dengan ajaran Islam, menerima kepentingan Barat, bahkan tidak menolak imperialisme mereka yang pada akhirnya dapat mengadang tegaknya penerapan syariat Islam kafah,” cetusnya.

Menguatkan Kontrol Barat

Ditambah lagi, ulasnya, implikasi sosial dan politik dari promosi moderasi ini berpotensi menghalangi perkembangan pemahaman Islam yang utuh dan menguatkan kontrol Barat atas negeri-negeri muslim.

“MUI sebagai lembaga pembimbing dan pengayom umat seharusnya mengambil peran aktif dalam menghadapi proyek moderasi Islam dengan pendekatan yang lebih inklusif, dengan memperkuat penyebaran pemahaman dan perjuangan penerapan syariat Islam kafah sebagai pondasi utama bagi umat Islam di Asia Tenggara, bahkan global,” harapnya.

Selain itu, menurutnya, rencana pembentukan Asosiasi Dai Serumpun seharusnya mengedepankan fortifikasi (penancapan-penj.) ideologi dan kekuatan internal umat Islam yang berbasis pada pemahaman syariat Islam kafah, bukan sebagai sarana penerimaan moderasi yang diadvokasi oleh Barat.

“Ini adalah waktu untuk berpikir kritis terhadap agenda yang ditetapkan dan mencari solusi yang memastikan kekuatan, persatuan, dan kedaulatan umat Islam di kawasan Asia Tenggara, bahkan global, dengan menguatkan perjuangan penerapan syariat Islam kafah di bawah institusi khilafah Islam,” tandasnya. []

Sumber: M News

About Author

Categories