Isyarat Kepemimpinan Islam dalam Isra’ Mi’raj

MUSTANIR.net – Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu mu’jizat Rasulullah ﷺ yang selalu diperingati umat Islam. Pelajaran (‘ibrah) yang diambil dari peringatan itu umumnya hanya satu, yaitu diwajibkannya shalat lima waktu. Tentu itu benar. Tapi apakah hanya itu?

Kalau kita kaji lebih dalam, sebenarnya Isra’ Mi’raj mengandung pelajaran-pelajaran lain yang tak kalah penting. Apa itu? Salah satunya adalah isyarat kepemimpinan umat Islam atas seluruh agama, bangsa, dan umat lain di seluruh dunia.

Prof. Rawwas Qal’ahjie telah menerangkan isyarat kepemimpinan itu dalam kitabnya, Sirah Nabawiyah: Qira`ah Siyasiyah. Menurut Qal’ahjie, dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, terkandung isyarat peralihan kepemimpinan dunia. Dunia yang semula di bawah kekuasaan Bani Israil, kemudian beralih di bawah kekuasaan umat Muhammad ﷺ.

Seperti diketahui, kepemimpinan dunia hingga terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj, ada di bawah kepemimpinan Bani Israil, sebab agama-agama samawi yang masih ada –yaitu Yahudi dan Nasrani— adalah agama-agama bangsa Israil. Namun tak dapat disangkal, kepemimpinan Bani Israil ini telah cacat dan rusak. Karena agama Yahudi dan Nasrani telah mengalami penyimpangan dan tidak murni lagi.

Kitab Taurat dan Injil telah mengalami pencemaran dan perubahan (tahrif) akibat ulah pengikut-pengikutnya yang hanya memperturutkan hawa nafsu. Dengan demikian, para pengemban agama Yahudi dan Nasrani pun sesungguhnya sudah tak layak lagi memimpin dunia.

Karena itu, tongkat kepemimpinan dunia harus segera dipindahtangankan kepada umat lain yang lebih berhak dan lebih mampu memimpin dunia. Siapakah umat ini? Tiada lain adalah umat Muhammad ﷺ.

Qal’ahjie kemudian menunjukkan isyarat-isyarat yang menunjukkan perpindahan estafet kepemimpinan dunia itu dalam Isra’ Mi’raj. Dalam peristiwa Isra’, Rasulullah ﷺ diperjalankan oleh Allah subḥānahu wa taʿālā,  dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Nah, di Masjidil Aqsha inilah, Rasulullah ﷺ shalat bersama para nabi dan Rasulullah ﷺ tampil sebagai imam. Berarti di belakang Rasululah ﷺ adalah para makmum yang terdiri dari nabi-nabi, di antaranya Nabi Musa dan Nabi Isa, alaihima as salaam.

Dari peristiwa itulah, ada isyarat kepemimpinan umat Islam. Kata Qal’ahjie, dalam peristiwa shalat jama’ah tersebut telah terjadi pencabutan kepemimpinan Bani Israil yang selanjutnya diberikan kepada umat Muhammad ﷺ.

Dengan demikian, sejak peristiwa itu, manusia menjadi tidak sah beramal dengan agama-agama Bani Israil (Yahudi dan Nasrani) yang telah mengalami banyak sekali distorsi dan perubahan. Agar amal manusia sah dan diterima Allah, haruslah beralih kepada agama baru yang masih murni, yaitu Islam.

Peralihan kepemimpinan ini, kata Qa’ahjie selanjutnya, bukanlah peralihan yang sembarangan. Melainkan peralihan yang absah alias konstitusional. Mengapa? Sebab yang mengubah kiblat kepemimpinan adalah benar-benar para wakil dari seluruh umat. Dan mereka pun cendekiawan yang tidak mungkin berbuat salah, karena mereka adalah para nabi.

Dengan demikian, siapa pun yang menentang peralihan kepemimpinan yang konstitusional ini, berarti melakukan perlawanan yang liar atau inkonstitusional. Dan tindakan yang paling tepat untuk menyikapi perlawanan inkonstitusional tiada lain adalah tindakan represif yang tegas.

Hal menarik lain yang dikemukakan Qal’ahjie, bahwa dengan peristiwa itu, berarti Masjidil Aqsha akan menjadi milik umat Islam. Mengapa?

Karena dalam shalat jama’ah yang dilakukan di suatu tempat, yang paling berhak menjadi imam adalah pemilik tempat itu. Jadi, karena yang menjadi imam adalah Rasululah ﷺ, berarti beliaulah yang menjadi pemilik Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha).

Itulah isyarat kepemimpinan umat Islam dalam Isra’ Mi’raj yang dijelaskan oleh Prof. Rawwas Qal’ahjie dalam kitabnya, Sirah Nabawiyah: Qira`ah Siyasiyah. Bagaimana realisasi dari isyarat agung ini dalam kenyataan?

Dalam sejarah kepemimpinan umat ini benar-benar terbukti. Setelah Rasulullah berhijrah ke Madinah (622 M) dan kemudian menegakkan negara dan masyarakat Islam, kepemimpinan Islam mulai terwujud. Sebab di negara baru tersebut, umat Islam memimpin umat-umat lain.

Dalam masyarakat Islam ada warga negara kaum Yahudi sebagaimana disebut dalam Piagam Madinah (Watsiqah al-Madinah). Tercatat, kaum Yahudi itu adalah Yahudi Bani Auf, Yahudi Bani Najjar, Yahudi Bani Harits, Yahudi Bani Saidah, Yahudi Bani Jusyam, Yahudi Bani Aus, dan Yahudi Bani Tsa’labah.

Dalam perkembangan berikutnya, kaum Yahudi Bani Quraizhah, Yahudi Bani Nadhir, dan Bani Qainuqa’ juga menandatangani Piagam Madinah itu (Taqiyuddin an-Nabhani, ad-Daulah al-Islamiyah, hal. 54).

Kepemimpinan umat Islam di masa Nabi ﷺ atas kaum Nasrani juga mulai terwujud. Untuk pertama kalinya, kaum muslimin berperang dengan kaum Nasrani di wilayah Syam dalam Perang Mu`tah. Memang dalam perang kali ini kaum muslimin tidak menang dan juga tidak kalah. Namun Perang Mu`tah ini menjadi jalan awal untuk penaklukan Syam (Fathu Syam) di masa Khalifah Umar bin Khaththab.

Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab inilah, penaklukan Syam terjadi pada tahun 15 H. Dalam penaklukan Syam ini, Khalifah Umar dan para sahabat Rasulullah serta pasukan kaum muslimin memasuki kota al-Quds dengan penuh kehormatan.

Khalifah Umar menerima kunci kota al-Quds dari kepala pemerintahaan Nasrani, yaitu Sefrounius. Setelah memasuki kota al-Quds ini, Khalifah Umar dan kaum muslimin melakukan shalat di Masjidil Aqsha. Inilah shalat yang ke dua di bawah kepemimpinan umat Islam, setelah shalat pertama yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ pada malam Isra`. (As’ad Bayudh at-Tamimi, Impian Yahudi dan Kehancurannya Menurut al-Qur`an, hal. 21)

Subhanallah, isyarat kepemimpinan umat Islam terwujud sempurna. Lalu, bagaimanakah kondisi kepemimpinan umat Islam saat ini? Masihkah umat Islam menjadi imam dunia, ataukah justru sekarang hanya menjadi makmum, mengikuti kaum lainnya?

Pada saat kita memperingati Isra’ Mi’raj, tentu sangat baik kita merenungkan persoalan kepemimpinan umat Islam ini. Fakta yang ada sungguh tak dapat disangkal, bahwa kepemimpinan dunia saat ini tengah dipegang oleh kaum kafir, yaitu kaum Yahudi dan Nasrani. Amerika Serikat, dan negara-negara kapitalis lainnya adalah pemimpin dunia saat ini. Mereka adalah kaum kafir beragama Nasrani.

Selain itu dunia Islam juga dicengkeram masalah yang tak selesai-selesai, yaitu masalah Palestina. Kaum kafir Yahudi dengan negara Israelnya menjadi pihak yang dominan atas umat Islam Timur Tengah, dengan perlindungan dan dukungan Amerika Serikat yang Nasrani. Jadi, kepemimpinan dunia sekarang berada di tangan Yahudi dan Nasrani, bukan lagi di tangan umat Islam.

Para pemimpin negeri-negeri Islam pun pada umumnya adalah para pengkhianat. Mereka tidak berani melawan atau menentang kaum Yahudi dan Nasrani, tapi malah menjadi antek-antek mereka. Kondisi umat yang hanya mengekor kaum Yahudi dan Nasrani ini sudah diisyaratkan juga oleh Rasulullah ﷺ. Sabda Rasulullah ﷺ:

”Sungguh kamu akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta, hingga kalau mereka masuk lubang biawak, kamu akan mengikuti mereka.” Sahabat bertanya, ”Apakah mereka Yahudi dan Nasrani?” Jawab Rasul, ”Lalu siapa lagi?” (HR Bukhari & Muslim)

Kondisi itu jelas tidak diridhoi Allah. Seharusnya, yang menjadi pemimpin dunia adalah umat Islam, bukan umat Yahudi dan Nasrani. Allah subḥānahu wa taʿālā tidak membenarkan umat Islam menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Firman Allah (artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, mereka satu sama lain adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu tergolong ke dalam kelompok mereka…” (QS al-Maidah: 51)

Maka dari itu, jelaslah bahwa umat Islam berkewajiban merebut kembali kepemimpinan dunia yang kini dipegang kaum kafir Yahudi dan Nasrani. Mereka tidak boleh lagi menjadi pemimpin dunia, sebab yang seharusnya memimpin adalah umat Islam, bukan umat kafir.

Namun kepemimpinan umat ini membutuhkan dua syarat yang penting, seperti dijelaskan oleh Prof. Rawwas Qal’ahjie dalam kitabnya, Sirah Nabawiyah: Qira`ah Siyasiyah.

• Pertama, adanya sistem kehidupan yang baik, yang terwujud dalam pelaksanaan syariah dalam negara khilafah, bukan dalam negara sekuler saat ini.

• Ke dua, adanya para pemimpin yang amanah, bukan pemimpin yang khianat seperti saat ini.

Dengan dua syarat ini, insya Allah kepemimpinan umat Islam atas seluruh manusia dunia akan dapat terwujud kembali di masa depan. Inilah salah satu pelajaran terpenting dari peristiwa Isra’ Mi’raj.

Wallahu a’lam. []

Sumber: KH Muhammad Shiddiq al-Jawi

About Author

Categories