Eleanor Roosevelt dan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani

MUSTANIR.net – Ada satu quote menarik dari Eleanor Roosevelt, yaitu “Orang besar membicarakan ide, orang biasa membicarakan peristiwa, dan orang kecil membicarakan orang lain.”

Jika quote tersebut kita korelasikan dengan pembahasan politik praktis atau tentang masalah kepemimpinan di tengah-tengah umat, maka akan kita jumpai bahwa:

1. Yang suka membahas figur dan menyanjung individu capres-cawapres ternyata dapat digolongkan sebagai orang kecil.

2. Yang mentok membahas kejadian-kejadian yang berkaitan dengan capres-cawapres, seperti debat capres atau track record kepemimpinan sebelumnya ternyata dapat digolongkan sebagai orang biasa.

3. Yang membahas tatanan ide, mengupas visi misi, dan membedah kepemimpinan dan aturan yang akan diterapkan, ternyata dapat digolongkan sebagai orang besar, dan ini jumlahnya sangat sedikit.

Selangkah lebih maju, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani ternyata telah membagi tingkat berpikir manusia menjadi; berpikir dangkal, berpikir mendalam, dan berpikir cemerlang.

Jika ‘orang kecil’ dan ‘orang biasa’ bisa dikelompokkan dalam kategori berpikir dangkal, dan ‘orang besar’ dapat dikelompokkan dalam tingkatan berpikir mendalam, maka tingkatan berpikir yang paling tinggi yaitu berpikir cemerlang adalah tingkatan berpikir yang seharusnya dimiliki oleh kaum muslimin, khususnya dalam pembahasan politik yang mengatur urusan umat.

Pembahasan dalam masalah kepemimpinan tidak lagi sekadar idola-idolaan. Bukan tentang peristiwa seperti masuk gorong-gorong hingga kemampuan pidato sana-sini. Bukan juga tentang tatanan ide yang masih berada dalam lingkup ideologi kapitalisme yang hanya mampu melahirkan kebijakan tambal sulam. Tetapi mengkaji dari akar permasalahannya, apakah solusi kepemimpinan yang akan diterapkan benar-benar bisa menyelesaikan persoalan hidup manusia atau tidak.

Tingkatan berpikir cemerlang haruslah mengutamakan peran Sang Pencipta sebagai satu-satunya pembuat hukum yang lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Mulai dari ideologi yang menjadi landasan, cara membuat hukum, hingga produk hukum yang dihasilkan, apakah sesuai dengan syariat Islam atau tidak.

Bukankah berhukum pada hukum Allah adalah wajib? Bukankah Islam ketika mengatur urusan umat sejak zaman Rasulullah hingga para khalifah sesudahnya yang begitu banyak jumlahnya telah mampu menjadi solusi dan terbukti keadilannya?

Pembahasan seperti inilah yang seharusnya juga dilakukan oleh umat dalam menghadapi musim kampanye. Bukan hanya memposisikan diri sebagai orang besar menurut Eleanor Roosevelt, tapi menempatkan diri dalam tingkatan berpikir cemerlang seperti penjelasan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani.

Persoalannya adalah, apakah kita mau meningkatkan diri, atau merasa puas berada pada posisi orang kecil yang dikombinasikan dengan tingkatan berpikir dangkal? []

Sumber: Zain Rangkayo Sati

About Author

Categories