
Jahiliah Modern Bernama Nasionalisme
MUSTANIR.net – Ada sebuah fenomena berbahaya yang kian menyebar di kalangan banyak kaum Muslimin—bahkan telah merembes ke sebagian kalangan elite—yaitu upaya menggabungkan nasionalisme dengan Islam, seakan-akan tidak ada pertentangan di antara keduanya. Padahal kenyataannya, penggabungan ini merupakan kontradiksi pemikiran dan akidah yang nyata, dan tidak bisa diselaraskan.
Ia terlihat meyakini negara-bangsa dengan batas-batas yang digambar oleh para penjajah, memberinya legitimasi bahkan kesakralan, namun di saat yang sama berbicara dengan penuh semangat tentang tegaknya negara Islam dan persatuan umat.
Ia terikat dengan loyalitas buta, kepada yang baik maupun yang buruk, kepada Muslim maupun kafir, hanya karena mereka “sesama anak bangsa”, lalu pada saat yang sama mengklaim bahwa loyalitas sejatinya adalah kepada umat Islam di seluruh penjuru dunia.
Ia mengibarkan dan membanggakan bendera nasional, lalu berkata bahwa panji Islam lebih utama darinya. Beginilah ia hidup dalam keadaan dualisme yang nyata, sebuah keterbelahan yang tak mungkin dibenarkan. Padahal ada satu kebenaran yang tak seharusnya dihindari:
Tidak mungkin menyatukan Islam dengan jahiliah, tidak mungkin menyatukan kebenaran dengan kebatilan, dan tidak mungkin menyatukan ikatan yang ditegakkan oleh wahyu dengan “ikatan” rendahan yang diciptakan kolonialisme demi melayani kepentingannya.
Nasionalisme dan chauvinisme—dalam bentuk yang kita kenal hari ini—adalah seruan jahiliah yang dibuat oleh musuh penjajah. Ia berdiri di atas fanatisme terhadap tanah, ras, atau batas wilayah, bukan atas dasar akidah dan kebenaran. Dan Islam datang untuk meruntuhkan fanatisme-fanatisme ini sampai ke akarnya.
Rasulullah ﷺ telah menuntaskan persoalan ini ketika beliau bersabda:
دعوها فإنّها نتنة
“Tinggalkanlah ia, karena sesungguhnya ia busuk.”
Ini adalah penilaian yang tegas, tak menerima pemolesan atau pengemasan ulang. Maka bagaimana mungkin seorang Muslim yang sadar menerima seruan yang oleh Nabi ﷺ sendiri digambarkan seperti itu, lalu mengklaim bahwa ia tidak bertentangan dengan Islam?
Dan bagaimana bisa diterima bahwa seruan-seruan yang dirancang musuh umat untuk memecah-belahnya justru menjadi bagian dari kesadaran dan identitas seorang Muslim?
Islam tidak menuntut seorang Muslim menjadi manusia tanpa perasaan atau tanpa keterikatan emosional dengan tempat ia dibesarkan. Namun Islam menolak menjadikan perasaan itu sebagai fondasi pemikiran, seperti dalam urusan loyalitas dan permusuhan, hingga merusak akidah.
Sebab loyalitas dalam Islam adalah kepada kebenaran, kepada agama, dan kepada umat—bukan kepada batas-batas buatan, dan bukan kepada bendera-bendera yang dipaksakan atas kaum Muslimin agar mereka tetap terpecah dan saling bertikai.
Maka banggalah dengan Islammu, jelaslah dalam identitas, teguhlah dalam keberpihakan, dan jangan menjadi pribadi bermuka dua—mengangkat satu panji di satu tempat, lalu meneriakkan kebalikannya di tempat lain.
Islam tidak menerima sikap setengah-setengah, dan tidak rela disaingi oleh seruan-seruan jahiliah, betapapun ia dibungkus dengan label “realistis” atau “demi kemaslahatan”. Jadilah Muslim sebagaimana yang Allah kehendaki: jelas, jujur, dan tidak mengorbankan identitasmu.
Sebab kemuliaan sejati seluruhnya ada dalam Islam—umatnya, panjinya, dan negaranya. Dan selain itu hanyalah fatamorgana yang tak akan pernah bersatu dengan kebenaran. []
Sumber: أحمد فرج الشّمالي
